KARMA

KARMA
Perseteruan


__ADS_3

Pagi ini, aku di suruh Bunda untuk berbelanja sayur ke warung Bu Inah. Sebenarnya malas, karena di warung Bu Inah adalah tempat berkumpulnya para Ibu-ibu tukang gosip. Apalagi Bu Rasti, paling rajin dan paling lama nongkrong di warung Bu Inah meski belanjaannya sudah selesai. Untuk apa lagi kalau bukan sekedar gosip yang tidak jelas.


Namun, berhubung karena hari ini adalah hari Minggu, dan aku tidak ada kegiatan apapun selain membantu Bunda untuk menjaga warung sembakonya, maka aku pun mengiyakan perintah Bunda.


"Jangan lama-lama di warung Bu Inahnya, Van. Nanti ketularan jadi tukang nyinyir kayak tetangga sebelah," ucapnya terkikik begitu aku membuka pintu depan.


"Ya kali, aku ini jadi 'Ratu Gosip', Bun. Emang pantes, gitu, muka unyu-unyu gini jadi biang gosip ?" tanyaku sembari mukaku di lucu-lucukan.


"Unyu-unyu dari Hongkong !" dengus Bunda.


"Kalo Anin, tuh baru unyu-unyu. Kamu, sih udah kadaluarsa mukanya. Harusnya udah nyusul mas Arga, udah punya anak juga. Inimah, apaan," lanjut ibuku lagi.


"Udah dulu, Bun. Ceramahnya biar Pak Ustadz Maulana dulu. Masih jam setengah enam. Nanti kalau program Pak Ustadz Maulana udah beres, baru Bunda ke Mesjid," saranku pada beliau.


"Mau apa ke Mesjid ?" tanyanya heran.


"Ya, ceramah, lah. Kata siapa goyang ubur-ubur ?" jawabku sembari ngeloyor pergi menghindari Bunda.


Terdengar bunyi gedebug dari dalam begitu aku menutup pintu. Mungkin suara sandal Bunda yang di layangkan padaku. Beruntung, aku sudah menutup pintunya. Sehingga tidak mengenai sasaran. Lantas terdengar suara omelan Bunda.


"Dasar anak nakal !" teriaknya.


Aku hanya tertawa cengengesan mendengar nya.


Begitu tiba di warung Bu Inah, Ibu-ibu biang gosip tengah berkumpul, termasuk Bu Rasti. Aku tak menghiraukan ocehan mereka yang kebanyakan hanya bualan belaka. Namun, telingaku rasanya gatal demi mendengar ocehan mereka perihal Arsya.


"Masak, sih, Bu. Aku gak nyangka, lho," ujar Bu Endang.

__ADS_1


"Astagfirullah 'aladzim," sahut Bu Asty seraya mengusap dada.


"Gak nyangka, ya. Padahal, kan, saya lihat Arsya kayaknya gak macem-macem orangnya," timpal Bu Sarah.


"Itu, kan luarnya aja, Bu. Alim, pake jilbab, gak macem-macem. Tapi dia sering, lho bawa temen cowok ke rumahnya. Gonta-ganti malah, Bu. Apalagi kalau bukan..."


Gubrak ! Aku menghentakkan belanjaanku tepat di depan Bu Rasti. Otomatis, ocehannya terpotong dan menoleh padaku.


"Bikin kaget saya aja, Van," ujar Bu Rasti dengan wajah tanpa dosanya.


"Kaget, Bu Rasti bilang ? Justru saya yang kaget denger makhluk kayak Bu Rasti nyinyirnya nauzubillah, ngalahin Virus Corona," seruku berapi-api.


"Wah, Virus Corona yang lagi viral itu, ya. Yang banyak memakan korban itu, kan ?" ujar Bu Rasti berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Katanya, Dokter yang menanganinya meninggal, ya. Kota Wuhan juga di isolasi," timpal Bu Sarah.


"Ngeri ya, kayak di film zombie-zombie gitu," timpal Bu Asty.


"Udah sono, Bu Rasti juga ke Wuhan, biar di isolasi sekalian. Biar nyinyirnya gak merebak kesana kemari. Berbahaya bagi kesehatan masyarakat kampung kita," saranku padanya.


"Lha, berbahaya apanya, Van ?" Tanya Bu Rasti tak mengerti.


"Biar enggak fitnah-fitnah gak jelas sama orang."


"Emang bener, kok apa yang saya omongin. Kalau Arsya itu udah hamil duluan," jelasnya penuh percaya diri.


"Kata siapa ? Ada buktinya ? Mana aku lihat !" tantangku.

__ADS_1


"Ya, ada lah, pokoknya," ucap Bu Rasti keukeuh.


"Jangan sembarangan nuduh, Bu. Kalau yang di tuduh sama Bu Rasti, gak terima, bisa di laporin ke pihak berwajib, lho. Bisa-bisa Bu Rasti kena UU pencemaran nama baik. Emang gak takut, Bu ?" tantangku.


"Suamiku punya kenalan polisi, kok. Banyak pula. Buat apa takut ?"


Astaga ! Segampang itu dia ngomong. Kayak dunia milik dia aja.


'Lagian, si Arsya yang hamil, kok saya yang di laporin. Harusnya si Arsya yang di laporin ke polisi karena telah melakukan tindak asusila. Sehingga menyebabkan dia hamil diluar nikah. Kita, kan gak tahu siapa Bapak dari anak yang dikandungnya. Secara gitu, dia suka gonta-ganti cowok," cerocosnya.


Plak ! Aku gemas sekali dengan mulutnya dan tak tahan untuk mendaratkan satu tamparan di pipinya yang merona merah karena blush on itu.


Bu Rasti sedikit terhuyung ke belakang akibat tamparanku yang agaknya memang sedikit keras.


Plak !!! Bu Rasti membalas tamparanku. Sakit juga rasanya. Lantas terasa panas pipiku mendapat tamparan dari Bu Rasti.


"Berani-beraninya, kamu ! Gak punya etika banget. Emangnya kamu siapa ? Anak sultan, hah ? Berani-beraninya nampar orang kaya seperti saya. Katanya kamu itu lulusan sarjana, tapi kelakuannya kayak yang gak di sekolahin aja sama Ibunya," geramnya.


"Mulut Bu Rasti, tuh yang tidak mengenyam pendidikan. Katanya lulusan S2. S2 dari Hongkong ! Yang ada, es mambo, kali. Inget, Bu, anak Bu Rasti perempuan semua. Karma pasti berlaku. Siapa yang menanam, ia pula yang akan menuai. Tobat, Bu, tobat," nasehatku.


"Anak kemarin sore udah berani nasehatin orangtua. Belagu, banget. Cuma pegawai bank juga. Beda kelas sama kami. Gak selevel. Suami saya PNS, PEGAWAI NEGERI SIPIL. Ingat, itu ! Anakku yang pertama, Shanty, PNS juga, bekerja sebagai dosen di Universitas ternama di Jakarta. Anakku yang kedua, Reina, kuliah di jurusan kedokteran, sebentar lagi dia wisuda. Dan anakku yang ketiga, Aira, sekolah di SMA Negeri, sekolah paling elite di kota ini. Keluarga saya juga dari Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek saya PNS semua," jelas Bu Rasti berapi-api.


Siapa juga yang tanya silsilah keluarganya ? Dia begitu membanggakan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Dasar nyinyir !


"Lagian, Ibu cuman pedagang sembako aja, belagunya selangit. Bapakmu juga bukan PNS kayak suami saya. Cuma tukang nasi goreng yang mangkal di perempatan jalan sana. Gak usah belagu kalau jadi orang. Harta keluarga kamu pun gak ada seujung kuku saya, Vanya. Jadi apa yang mau kamu sombongkan, hah ?" teriak Bu Rasti dengan nada tinggi.


Ibu-ibu yang lain berusaha menengahi kami. Namun kepalang basah, pikirku. Dia jual, aku beli. Biarlah mereka menganggapku tak punya etika. Karena Bu Rasti sudah menginjak-injak harga diri keluargaku. Apalagi mengata-ngatai Ayah dan Bunda yang menurutnya beda kasta dan tak selevel dengan dirinya yang keturunan PNS. Titel PNS, kok bangga, pikirku.

__ADS_1


"Santai, Bu Rasti. Gak usah bawa-bawa Ayah sama Bunda. Mau tukang nasi goreng, kek. Mau tukang jual sembako, kek. Yang penting hidupnya gak nyusahin orang, gak minta-minta sama orang. Apalagi GOSIPIN ORANG," balasku sengaja menekan kalimat terakhir untuk menyindir dirinya.


Tiba-tiba kerumunan Ibu-ibu makin banyak karena mendengar keributan antara kami. Bukan Ibu-ibu lagi yang mengerubungi kami. Bapak-bapak juga ada, bahkan anak-anak SD yang harusnya berangkat ke sekolah untuk ikut kegiatan renang yang rutin diadakan setiap hari Minggu pun ikut melihat aksi kami. Kami menjadi tontonan gratis di pagi hari. Dan terlihat dari jauh Bunda berlari tergopoh-gopoh bersama Arsya.


__ADS_2