KARMA

KARMA
Ekstra part 1 terbangun dari mimpi


__ADS_3

"Hiks.. Hiks.."


Mesya masih terjebak di antara mimpi dan kesadarannya. Dia sudah pergi dari mimpinya namun dia tak bisa membuka matanya.


"Mas Bisma, hikss...." Mesya terus meracau dalam tidurnya.


"Tidak, aku tidak ingin pergi darimu. MAS BISMAAAA!!!"


"Hah.. Hah.. Hah...Hah...." Mesya langsung terduduk dengan nafasnya yang tersengal-sengal.


"Mas Bisma" Lirih Mesya dengan air matanya yang berlahan turun membasahi pipinya.


Mesya memeriksa seluruh tubuhnya. Dia heran kenapa tubuhnya baik-baik saya padahal dia baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya berpisah dengan Bisma.


Mesya lalu melihat ke sekelilingnya. Tempat yang begitu ia kenal, dimana dia menyibukkan dirinya setiap hari, yaitu di dalam butiknya sendiri.


"Apa ini cuma mimpi?? Kenapa aku bisa ketiduran di sofa seperti ini??" Tanya Mesya ingin menjawab kebingungannya. Dia meriah ponselnya untuk mencari tau kebenarannya.


"Tapi kenapa rasanya sesakit ini. Dadaku, hatiku, kenapa rasanya begitu nyata" Bibir Mesya kembali bergetar. Wanita cantik itu menyembunyikan wajahnya di antara keuda lututnya setelah mengetahui jika apa yang ia alami itu hanyalah mimpi belaka.


"Hiks.. Hiks.. Aku tidak percaya jika ini mimpi. Semua yang ku rasakan ini tidak seperti mimpi. Semua yang aku lalui begitu panjang dan nyata. Apa yang terjadi sebenarnya??"


Mesya kembali membuka ponselnya. Mencari di mana dia menyimpan foto-foto pria yang di cintainya.


"Mas Bisma" Ucap Mesya sambil memandangi foto Bisma yang ia ambil secara diam-diam. Tanpa sadar dia juga memanggil Bisma dengan sebutan baru yang ia pakai di dalam mimpinya.


"Kenapa aku mengalami mimpi sesakit ini?? Apa aku terlalu mencintaimu hingga aku bermimpi seperti ini?? Rasanya aku hampir g*la memikirkan mu" Mesya membiarkan air matanya tumpah ruah di dalam ruangannya itu. Lagipula tidak akan ada yang berani masuk ke dalam sana.


Semua yang ada di dalam mimpi Mesya berputar kembali di otaknya. Awal dari mimpi itu hingga penderitaan yang dia alami, juga bagaimana Bisma yang mulai mencintainya, lalu perpisahan tragis yang dia alami sebagai penghujung dari mimpi aneh itu.


Mesya meraba perutnya yang terasa sangat ringan. Rasanya aneh karena dia baru saja merasakan mengandung selama hampir sembilan bulan lamanya.


"Bahkan aku rasanya masih mengandung anak ku saat ini" Mesya kembali terisak. Punggungnya bergetar hebat.


"Anakku" Lirihnya lagi. Anak yang belum juga lahir. Anak yang menjadi pengikat antara dirinya dengan Bisma di mimpinya. Sesuatu yang tidak akan pernah terjadi antara dirinya dan Bisma di dunia nyata.


Mesya segera bangkit dari sofanya, lalu mengobrak-abrik isi tasnya. Tangannya menggenggam erat sebuah botol kecil yang ia temukan di dalam tasnya itu.


Pyaarrr....


Mesya membanting botol itu hingga terpecah belah memuntahkan cairan dari dalamnya.


"Tidak, aku tidak boleh melakukan itu kepada Alya!!" Mesya menatap sengit pecahan botol kecil itu.

__ADS_1


"Aku tidak mau mengalami seperti di dalam mimpi ku tadi. Aku tidak mau di salahkan kalau terjadi apa-apa dengan Alya. Sudah cukup hukum karma yang aku terima di dalam mimpi itu. Aku tidak mau sampai mengulanginya di dunia nyata"


Rencana yang sudah Mesya susun dengan rapi untuk menghancurkan Alya sepertinya harus dia batalkan. Mesya seakan melihat masa depan melalui mimpinya itu. Jadi Mesya benar-benar ketakutan saat ini.


"Halo??" Mesya menghubungi seseorang yang sudah ia percaya untuk membantu semua rencananya.


"Iya Bos??"


"Hentikan semua rencana yang sudah kita susun untuk nanti malam!!" Ucap Mesya kepada seseorang yang dia hubungi itu.


"Tapi Bos..."


"Cukup lakukan perintahku saja dan untuk uang yang sudah


kalian terima tidak usah di kembalikan"


"Baik Bos, terimakasih"


Mesya langsung mematikan sambungan telepon itu. Dia tidak mau berhubungan lagi dengan preman yang akan membantunya mencelakai Alya nanti di acara reuni.


Mesya menyadari hari yang sudah mulai sore saat ini. Dia harus bergegas pulang untuk bersiap datang ke acara itu, karena dia ingin sekali melihat pria yang ada di dalam mimpinya secepat mungkin.


*


*


*


Entah mengapa saat ini Mesya justru ragu untuk masuk ke dalam. Bukan tanpa alasan, Mesya ingat jika malam ini adalah malam di mana Bisma akan melamar Alya di depan semua teman-temannya. Hal itu juga yang sebelumnya membuat Mesya memiliki niat jahat untuk menghancurkan Alya.


Mesya melangkah dengan pelan untuk masuk lebih dalam membaur dengan keramaian. Tapi saat Mesya baru saja tiba di dalam, suasana sudah menjadi gelap dan hanya satu sorot lampu saja yang menerangi satu objek di tengah-tengah kerumunan.


Kedatangan Mesya di suguhkan dengan sebuah lamaran romantis dari pasangan kekasih yang sedang menjadi pusat perhatian saat ini.


Mesya tak berani melangkah mendekat. Dia hanya berdiri di kejauhan menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu.


Suara Bisma yang lantang itu terdengar menusuk di telinga Mesya hingga sakitnya menjalar ke hatinya.


"Ternyata benar kalau yang aku alami tadi hanyalah mimpi. Nyatanya pria yang mencintaiku di dalam mimpi itu bukanlah milikku di dunia nyata" Batin Mesya menangis saat ini.


Mesya yang sengaja tak mendekat ke arah mereka hanya bisa meratapi kisah cintanya seorang diri. Lama Mesya berkutat dengan pesakitannya sendiri dia tak sadar jika kerumunan itu telah hilang. Lampu kembali di nyalakan hingga membuat ruangan besar itu terlihat terang.


Mesya yang masih berdiri di kejauhan mulai menyisir satu persatu kerumunan orang untuk mencari keberadaan pria yang ingin di lihatnya malam ini. Hingga matanya bertemu dengan mata elang yang begitu tajam mengarah kepadanya.

__ADS_1


Deg....


Mesya yang tak kuat dengan tatapan mata Bisma itu memilih memutus kontak mata itu secara sepihak. Merasa dirinya yang sudah tidak mampu lagi berada di sana, Mesya memutuskan untuk pergi sari sana membawa semua luka yang ia punya tanpa sepengetahuan di pemberi luka.


Mesya terus berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Dia sudah tidak tahan berada di tempat itu. Melihat bagaimana pria yang dicintainya itu melamar wanita lain.


Mesya memukul-mukul dadanya, dia berharap jika itu bisa mengurangi rasa sakit di dalam sana.


"Mesya!!"


Deg...


Tubuh Mesya menegang seketika. Mesya tentu sudah sangat hafal dengan suara bariton itu.


Bukannya berhenti, Mesya justru semakin mempercepat langkahnya menghindari Bisma. Dia tidak ingin Bisma melihatnya yang sedang hancur seperti itu.


"Berhenti Mesya!!"


Bisma mengejar Mesya dengan langkah panjangnya.


"Awwww!!!" Karena langkahnya yang cepat dan sepatu hak tinggi yang di pakainya, membuat kaki Mesya itu terkilir hingga hampir tersungkur ke tanah jika saja tangan Mesya tidak di tahan oleh Bisma.


Mesya meringis merasakan ngilu pada pergelangan kakinya. Tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah, Bisma yang berjongkok membantu melepas sepatu Mesya yang telah rusak.


"A-aku bisa sendiri Mas. Kamu berdiri saja" Mesya menarik kakinya menjauh dari tangan Bisma.


Bisma sempat membeku sejenak karena mendengar apa yang Masya ucapkan itu. Lalu Bisma berdiri di hadapan Mesya dengan tatapan yang siap menghujam ke dalam jantung Mesya.


"Kamu bilang apa tadi??" Mesya terkesiap karena bibirnya yang meloloskan kata tanpa kontrol dari dirinya.


"M-maaf, aku hanya salah bicara. Aku pergi dulu K-kak..Bisma" Mesya mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa mengendalikan bibirnya di hadapan Bisma.


Niat Mesya untuk pergi itu sayangnya terhenti karena Bisma yang mencekal pergelangan tangannya.


"Kamu memanggilku apa tadi??"Tanya Bisma sekali lagi yang membuat Mesya mendadak menjadi gagu. Bisma mengunci mata Mesya agar wanita di depannya itu tidak bisa menghindari pertanyaannya itu.


"Maaf aku harus pergi" Mesya menghentakkan tangannya hingga genggaman tangan Bisma itu terlepas dari tangannya. Mesya kemudian memilih berjalan tanpa alas kaki dan menenteng sepatunya yang rusak itu.


Dengan menyeret kakinya yang pincang karena terkilir itu Mesya berusaha secepat mungkin untuk pergi dari sana. Dia sama sekali tidak menghiraukan kakinya yang akan menjadi bengkak karena di paksa berjalan dengan cara seperti itu. Yang penting dia segera pergi dari sana menghindari Bisma.


Mesya menyandarkan dirinya di balik tembok ketika dia berhasil lolos dari Bisma.


"Hiks.. Hiks..."

__ADS_1


"Ingin rasanya aku memeluk mu Mas. Merasakan hangatnya pelukan mu dan harum yang begitu menenangkan dari tubuhmu. Aku merindukanmu" Tak peduli dengan kakinya yang sakit, Mesya justru menangis terisak-isak di tempat sepi itu seorang diri.


__ADS_2