KARMA

KARMA
BOULEVARD OF BROKEN DREAM


__ADS_3

Akhir akhir ini memang aku memang sangat sensitive terhadap suara pesawat terbang.


Meskipun Jauh, tapi telingaku seolah peka sekali mendengar suara mesin pesawat.


Aku suka menebak nebak, pesawat jenis apa ya yang di atas sana? Mau kemanakah tujuannya? Aku paling suka dengan Scandinavian .. ah rasanya kangen sekali saat saat boarding, mencari cari nomor tempat duduk sembari diiringi inflight advertisement movie..


Dan malamnya, ketika sedang menjemur pakaian, aku mendengar lagi suara bergemuruh di atas sana. Lagi lagi suara mesin pesawat terbang. Entahlah seolah tidak ada suara lain yang bisa terdengar ditelinga Aku selain suara pesawat..


Aku memeras cuciannya, sambil matanya menatap langit, banyak bintang bintang bertaburan di angkasa, namun ada satu yang berkelip kelip.. itu pasti pesawatnya. Pikirku.


Berapa ya ketinggiannya, ajaib suaranya masih terdengar jelas disini. Batinnya.


Ahh..  rindunya aku ingin Terbang


🌾🌾🌾


Lewat jam 1 malam Bintang baru pulang. Matanya merah. Langsung masuk kamar dan tidur.


“Mas, ganti baju dulu. Cuci tangan kaki baru tidur.” Tegurku.


Namun rupanya Bintang sudah terlalu lelah untuk bangun, dia langsung terlelap dengan cepatnya.


Aku memandangi wajah suamiku. Entah selalu  timbul rasa kasihan yang mendalam setiap kali melihat wajah yang terlelap itu.


Betapapun perlakuan Bintang yang selalu memancing emosiku, hanya kasihan dan kasihan yang ada. Kalau pun kadang aku terpancing untuk memarahinya, aku akan menyesali kemarahanku dan kembali kasihan dan memaafkannya.


Aku menerima Bintang apa adanya, dan aku tak pernah menyerah untuk mencintainya.


Kurebahkannya tubuhku di bahunya yang terlelap.


Reflek bergantilah posisi tidurnya memunggungi ku.


Aku pun memeluknya dari belakang.


Mataku tak bisa terpejam. Sebuah lagu terdengar lirih, mengalun dari Televisi yang belum dimatikan.


Boulevard of broken dream, Green day.


🌾🌾🌾


Aku merasa perlahan duniaku sedang menyeret ku tenggelam. Berbagai cara aku berusaha rasanya keberuntungan sepertinya bermain kucing kucingan denganku.


Sepertinya semua pintu tertutup untukku. Rasanya Aku seperti bekerja sendiri dalam kapal bernama rumah tangga itu.


Betapa sulitnya Bintang untuk diajak komunikasi. Aku sendiri selalu berpikir dan berpikir, apalagi yang harus aku lakukan untuk bisa membuat pilihan dan merubah keadaan, namun sejauh ini semua jalan terasa buntu.


Dan tidak mungkin mengharapkan orang lain untuk berubah, yang bisa dilakukan adalah merubah dirinya sendiri. Merubah bagaimana dia bersikap dan bereaksi.


Tentu saja bukan hal yang mudah, karena setiap hari mereka selalu bersama. Setiap hari kelihatan. Sebagai manusia biasa ada kalanya aku merasa sangat suntuk dengan kondisi yang ada.


“Mas, sudah lama banget rasanya ga traveling, darah rasanya membeku nih. Jalan jalan yuk,  .. yang deket deket juga gapapa” Rayuku pada suatu kesempatan di Ruko tempat Bintang berkantor sendiri.


“Traveling? Ga menarik dan ga pengen” Kata Bintang singkat.


“Loh kan emang aku yang kepengen.” Bujukku lagi.


“Ya udah travel aja sendiri.”


“Oke deh kakak.. Mana uangnya.” Candaku.


“Loh kamu yang mau travel kok minta uang sama aku.”


“Masa minta sama pacarku?” Kataku bergurau.

__ADS_1


“Ya udah minta aja sana sama pacar kamu” Tak disangka tak diduga Bintang menjawab dengan begitu cepatnya.


“Kan pacar aku, kamu”


Bintang pura pura sibuk.


“Oo begitu ya. Jadi maksut kamu ga pengen tadi, ga pengen keluar uang?” Tanya ku lagi.


“Traveling buat ku ga penting” Jelas Bintang.


“Tapi buat aku penting. Travel itu nafasku”


“Bukan sesuatu yang harus dibangga banggakan.”


“Memang bukan untuk dibangga banggakan traveling itu untuk dinikmati”


Hening. Diam tak ada suara.


Ya sudahlah.  Mungkin jalan jalan terlalu mahal. Kalau nonton boleh juga sih, sekali kali buat refreshing.


“Kalo ga nonton yuk.” Ajakku dilain kesempatan.


“Ga suka nonton”


“Temenin.”


“Sibuk”


“Ga sibuknya kapan?”


“Belum tau”


“Belum tau apa ga mau tau.”


“Biasanya juga mikir yang lain, kali ini lagi kepingin nonton.”


“Ya sudah nonton dirumah saja.”


“Nonton dirumah kalo sendirian juga ga seru.”


“Kan dirumah ada Bright. Kaya kurang kerjaan aja.” Tegas Bintang.


“Kamu pulang jam berapa malam ini?”


“Belum tau”


“Memangnya ngapain aja sih mas dikantor sibuk terus.. pulang pagi terus emang ga cape kerja?”  Aku mencoba mencairkan komunikasi yang kaku.


“Coba kamu cari kesibukan sendiri biar ga curigaa terus bawaannya”


“Loh? Kok curiga?  “Bukan curiga cuma nanya. Soalnya kalau ditelpon malam malam juga susah nyambungnya.” Aku bersabar.


“Tuh kan negative thinking lagi”


“OMG!! Bukan negative thinking. Kalau ada apa apa atau ada orang yang nanya biar saya tau jawabannya.”


“Ah, pintar aja kamu.”


Aku diam tak menjawab, saat nya untuk berhenti. Kalau dilanjutkan tak akan ada ujungnya.


“Bisa ngga ya ngomong biasa saja. Ngga usah pakai emosi.” Desisku pada diriku sendiri.


Bintang tak menanggapi. Mungkin tak mendengar, mungkin mendengar tapi tak perduli.

__ADS_1


“Mas pinjam HP” Kataku kemudian.


“Buat apa?’


“Ya buat nelfon lah.”


“Punyamu mana?”


“Ini low bat.”


“Sebentar, mau dipakai”


“Tadi ngga dipakai kok dipinjemin tiba tiba jadi mau dipakai.” Jarang jarang Aku meminjam HP, sekali sekalinya pinjam beratnya ngga ketulungan. Memangnya takut apa? Memangnya menyembunyikan apa. Memangnya selama ini saya suka ngelarang ngelarang apa?


Bintang memencet mencet nomor HP nya dan keluar dari Ruko berbicara dengan seseorang.


Lama.


Aku hanya diam.


Sebuah pesawat terbang melintas jauuh tinggi terlihat kecil sekali. Tak berkedip Aku menatap titik itu. Aku malah memikirkan pesawat itu.


Aneh ya, pesawat dengan ketinggian berapa ratus ribu meter diatas permukaan laut masih kedengaran suara mesinnya dari sini. Dimana aku dan suamiku duduk bersama, namun hatinya tidak bersama. Hatinya lebih jauh dari jarak antara dia dan pesawat itu.


            Aku pun pergi meninggalkan ruko, sendiri. Tanpa pamit.


Seiring dengan suara mesin pesawat yang menghilang. Dan entah darimana datang nya tiba tiba lagu itu terdengar lagi


*I walk a lonely road


The only one that I have ever known


Don't know where it goes


But it's home to me and I walk alone


I walk this empty street


On the Boulevard of broken dreams


Where the city sleeps


And I'm the only one and I walk alone


I walk alone


I walk alone


*My shadow's only one that walks beside me


My shallow heart's the only thing that's beating


Sometimes I wish someone out there will find me


Till then I walk alone


Ah-ah, ah-ah, ah-ah, aah-ah


Ah-ah, ah-ah, ah-ah


I walk alone


*I walk a***...

__ADS_1


__ADS_2