
Ibu nelpon sambil menangis mengabarkan semalam Bright tidak pulang, bawa kopor pergi dari rumah.
"Ibu hanya bilang, tolong kalau teman prianya main kerumah berpakaian yang sopan. Masa datang ke rumah anak gadis pakai celana pendek. mending celana pendek yang dibawah lutut, ini pakai celana pendek yang diatas lutut. Itu kan sama saja tidak menghargai Bright. Ibu ngga relaa kalau cucu ibu tidak dihargai seperti itu." Papar ibu dengan suara berat menahan emosi. "Terus kalau pulang juga malam malam, kita kan hidup di kampung, jadi menjagalah, jangan sampai menjadi omongan... Ibu cuma bilang begitu apa salah?"
"Iya udah, ibu tenang aja. Paling Bright nginep dirumah Tania kok" Kataku menenangkan. Dalam hati terkejut juga tak pernah menyangka Bright akan seperti itu. Bright bukan anak nakal. Selama ini dia tidak pernah menyusahkan orang tua. Baru sebentar dia tinggal bersama neneknya, dia sudah berani pergi dari rumah?
Aku pun menelpon anak itu.
Benar saja dia dirumah Tania. Aku bilang kalau apa yang dikatakan mbah semua untuk kebaikannya. "Kalaupun dianggap marah, lebih baik dimarahi mbah daripada dimarahi orang lain, kan nggak enak kalau ditegur sama orang lain?" Kataku
"Lebih baik dimarahin orang lain, mama. Kita bisa marah balik!" Sela Bright cepat. "Pokoknya Bright ngga mau pulang ke rumah mbah kalau mama ga pulang!" Serunya lagi.
Aku tercenung mendengar kata katanya.
🌾🌾🌾
Sepanjang sejarah hidupku menjadi anak, tidak pernah ada dalam kamus melawan orang tua. Demikian juga adik adikku. Semuanya menurut. Mungkin karena takut juga, karena Bapak juga orangnya galak. Sementara ibu, sangat lembut hatinya, ibu dengan mudah menangis bila ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jadi bukan semata takut tapi menjaga perasaan juga.
Sepanjang hidupku dari kecil hingga dewasa, aku memendam rasa kesalku, memendam kemarahanku karena menjaga perasaan ibu.
Aku tak bisa melampiaskan kemarahanku sebagaimana Bright melampiaskan ketidak sukaanya dengan pergi dari rumah. Ternyata itu menjadi jawaban dari kegelisahanku selama ini.
🌾🌾🌾
Aku sering bertanya, Wahai Tuhan, katanya perempuan baik baik untuk laki laki baik baik dan sebaliknya. Engkau pasti tak meragukan komitment orang tuaku mendidik anak anaknya agar menjadi orang baik. Namun mengapa kenyataanya hasilnya terbalik?
Aku rajin belajar, giat bekerja, selalu menjalankan semua perintah agama, tidak pernah berbuat yang melanggar norma. Mengapa aku mendapat suami yang membuat hidupku menderita?
Setelah berpikir bertahun lamanya aku bertanya namun tak menemukan jawaban, selain keyakinan bahwa hidup adalah ujian, dan yang harus kulakukan adalah berdoa dan bersabar karena semua akan indah pada waktunya, akhirnya Tuhan mengijinkan aku menemukan benang merahnya melalui Bright.
🌾🌾🌾
Ternyata jawabannya terkubur dalam dalam dalam jiwaku. Aku memendam semua kemarahanku, rasa kesalku pada orangtuaku sejak kecil hingga dewasa. Aku hanya protes dalam hati saja, aku tidak bisa marah balik. Dan ternyata ini membuatku seperti makan buah simalakama. Karena walaupun tujuannya baik, menjaga perasaan orang tua, tetap saja aku menerima hukumannya. Aku diam memendam semuanya kukira ini wujud bhaktiku pada orang tua tapi ternyata itu tetap membuatku menerima hukuman sebagai anak durhaka.
Jadi inilah Karma. Seperti inilah rasanya Dosa.
__ADS_1
Kupikir karma itu adalah hukuman dari sebuah kejahatan yang luar biasa, seperti yang dilakukan Malin Kundang terhadap ibunya, mengusirnya dari rumah dan tidak mau mengakuinya. Sempat pula aku berfikiran karma itu hal buruk yang dilakukan nenek moyang kita yang akibatnya menurum ke cucu cicitnya. Aku menerima hukuman akibat dosa nenek moyangku yang kita tidak pernah tau keberadaannya. Ternyata bukan. Tidak harus separah itu konsepnya.
Bahkan untuk hal remeh temeh sekecil urusan makan telah bisa menjatuhkan aku jadi anak durhaka yang kemudian aku menerima hukumannya, tidak memerlukan waktu lama, Didunia.
"Ibu sudah berusaha, sudah cape cape menyiapkan makanan, masakannya utuh tidak ada yang makan." Keluh ibu dengan suara bergetar pas jam makan siang. Aku mendengarnya ketika aku belum sepenuhnya terjaga. PLEASE BU JANGAN BERUSAHA! YANG MINTA MAKAN SIAPA? KALO IBU CAPE SALAH SIAPA? KITA UDAH GEDHE. NANTI KALO LAPAR PASTI MAKAN KOK. Ibu puasa puasa aja, tidak perlu cape cape melayani kita.
Aku pun bangun dari tidur menuju meja makan dengan kejengkelan seperti itu.
Tidak ada cerita untuk makanan yang tersisa. Ibu akan sedih luar biasa. Bisa bisa mengeluarkan air mata. Dalam hal ini aku dan adik adiku harus pintar pintar menyiasatinya. Kalau membuang sisa makanan pas ibu lagi tidak ada. Atau ditaruh di tempat sampah bagian yang paling bawah, ditutupi dengan sampah sampah lainnya. Makanya kalau waktunya dekat dekat jam makan, anak anak tidak berani jajan diluar. Atau kalau pun jajan, kita memastikan di perut ada space untuk makan dirumah.
Selesai makan aku pun membereskan piring piring kotor dan membawanya ke dapur. "Sudah nduk, biarin disitu saja tidak usah dicuci nanti biar ibu saja yang nyuci."
Aku terdiam. Serasa ingin kujatuhkan tumpukan piring kotor ditanganku. Bersamaan dengan suara ibu seperti ada sebuah rantai besi yang panjang seperti telepas keluar dari mulut ibu menjegal langkahku tanganku jiwaku yang membelenggu semua gerakku. Aku menjadi rigid.
Tak lama berselang aku sudah mendengar lagi suara ibuku memberi nasihat ketika adikku menelpon. Aku tahu semua yang dilakukan ibu baik, semua untuk kebaikan anak anaknya. Tapi apa tidak cape bersuara terus? Setiap aktifitas gerak gerik yang tak pernah luput dari perhatian Ibu, ibu laksana juri untuk kehidupan anak anaknya. Dan semua itu berasal dari ketakutan ketakutan dalam dirinya. Jangan begini jangan begitu, tidak usah begini tidak usah begitu, sebelum, sedang dan sesudah, Di darat di laut di udara ibu tak pernah lelah untuk mengeluarkan nasehat nasehat, motivasi dan kata kata mutiara. Iyaa, itu adalah wujud tanggung jawab dan rasa sayang orang tua terhadap anak anaknya. Tapi bisa ga DIAM?. Setiap ibuku bersuara rasanya setan setan dalam jiwaku berteriak, BISA DIAM GA??? Aku cuma ingin Ibu DIAM!!! Itu kalau setan baik yang bicara. kalau kakaknya setan bekerja, seisi kebun binatang akan keluar semua.
Tapi hanya dalam hati saja. Karena aku tahu, bahkan untuk sekedar Huh aja sudah dosa.
🌾🌾🌾
Kemarahan itu adalah bentuk energy. Energy kemarahan itu terpendam dalam jiwaku. Dan aku baru tahu begini cara LOA bekerja.
Bukan salah Bintang hadir dalam hidupku. Akulah yang menariknya menjadi bagian dari hidupku.
Karena apa yang terjadi dalam realita adalah proyeki dari apa yang ada dalam jiwa.
🌾🌾🌾
Perceraian adalah perihal yang tidak disuka Tuhan. Namun Tuhan pun telah memberikan jawaban, bila hal buruk menimpamu itu adalah karena dirimu sendiri. Satu hal yang pasti, Tuhan pasti ingin aku bahagia. Aku pun sudah sadar dan memutuskan, Dengan ijin Tuhan, aku memilih perpisahan.
Aku ijinkan penderitaan, kebingungan dan sumbernya itu pergi dari kehidupanku. Sudah cukup kesedihannya. Aku harus menamatkan penderitaanya, Kasihan tokoh yang menjadi 'Aku' atau gadis bernama Luna atau siapapun namanya, kalau harus berlama lama berduka. Tidak ada lagi alasan tidak enak, tidak ada lagi alasan demi anak anak, tidak ada lagi alasan apa kata tetangga. Sekarang waktunya bahagia. Sekarang aku adalah Tuhan kecil untuk ceritaku sendiri.
Aku memaafkan Bintang karena mungkin dia hanyalah kambing hitam yang dikirim semesta untuk memenuhi perintah bawah sadarku.
🌾🌾🌾
__ADS_1
"Biarkan saja, Nduk, tidak perlu dicuci, biar nanti Ibu yang mencucinya..."
Aku tertegun melihat ibu meninggalkan meja makan sambil membawa piring kotor sambil berkata demikian.
Rupanya, ibu begitu terprogram dengan kata-katanya sehingga ketika mencuci piring sendiri, tanpa sadar ibu mengatakan hal yang sama seperti yang dia katakan kepadaku ketika aku hendak mencuci piring.
Aku menemani ibu mengobrol di tempat cuci piring. Ibu membilas piring-piring kotor setelah menyabuni piring-piring itu dengan air bekas yang ditampung dalam baskom. Setelah ibu membuang air di baskom, ibu baru menyalakan keran untuk membilas piring untuk terakhir kalinya, dan ibu menaruh baskom kosong di bawah keran untuk menampung air bekas bilasan terakhir piring. Air dari bilasan terakhir digunakan untuk mencuci piring berikutnya.
Keteraturan Ibu terkadang membuat aku tak sabar.
"Waktu Ibu masih kecil, kami harus menimba air dari sumur yang dalamnya puluhan meter, begitu dalam sampai hanya terlihat lingkaran kecil di permukaan sumur. Dan embernya sangat berat, kami harus berulang kali menimba secara manual setiap kali mencuci piring, baju, dan mandi, jadi Ibu sangat menghargai setiap tetes air yang ditimba."
Mataku langsung berkaca-kaca.
Aku lupa, ibuku pun mempunyai ceritanya sendiri. Cerita dalam kehidupannya yang membentuknya menjadi ibu seperti itu. Dia tidak ingin anak-anaknya mengalami kesulitan seperti dirinya, dengan caranya dia berusaha keras agar anaknya mudah kehidupannya. Dia ingin kesulitan itu berhenti di dalam dirinya dan tidak menurunkan kepada anak-anaknya. Itu yang dia pikir terbaik yang dapat dilakukan untuk anak anaknya.
Kini, aku lebih mudah memahami dan memaafkan ibuku dan juga diriku sendiri, dengan mengurai persoalan menjadi 3 subject.
1. Ibuku\, sebagai sosok orang tua yang melahirkan aku\, sudah kewajiban sebagai anak harus menghormati dan menyayanginya. Tidak terbantahkan.
2. Nasehat\, nasehat baik dari pengalaman hidupnya maupun yang dikutip dari pak ustad\, kata motivasi2\, yang keluar dari mulut ibu\, tidak ada yang salah\, semua benar adanya.
3. Suara ibuku. Disinilah biang keroknya. Energy yang bergetar dari suara ibu yang menjadikan kehidupan berantakan\, walaupun sudah dipenuhi dengan kata kata mutiara dan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Energy yang keluar bersama suara ibu bagaikan rantai besi yang panjang dalam penampakanku yang menyekap kehidupanku. Nasihat2 yang bersumber dari ketakutan ketakutan\, ketakutan akan penilaian orang\, ketakutan tidak dianggap baik oleh orang\, ketakutan akan menyusahakan orang\, ketakutan tidak enak kepada orang\, ketakutan kalau anak2nya hidupnya susah seperti dirinya. Selain itu adalah keluhan\, ibu mengeluh karena anak2 sholat tidak tepat waktu\, karena disuruh makan ogah ogahan\, karena waktunya makan tidak mau makan\, dan segala hal yang tidak sesuai dengan pemikiran dia keluhkan\, sepanjang hari sepanjang waktu. Ibu merasa itu sebuah perjuangan kebenaran. Takkenal lelah dia memberikan nasehat untuk anak anaknya.
Yang tidak dia sadari anak anaknya telah keracunan dengan getaran suaranya, dengan energy yang ditimbulkannya. Suara yang memaksa namun tertahan dan terdengar sangat melelahkan. Anak anaknya tidak bisa membantah melainkan hanya menyimpannya, tersimpan bertumpuk bertumpuk tak bisa terlampiaskan. Tidak berani durhaka kepada orang tua karena semua yang diucapkan benar adanya. Energy kemarahan yang terpendam menarik seseorang yang tepat hingga kemarahannya bisa terlampiaskan. Bukan hanya aku saja yang mendapatkan pasangan hidup yang menguras semua energynya, hampir semua adik adik pun memiliki tantangan serupa.
Ketika penyakit telah ditemukan sebabnya akan lebih mudah mengobatinya. Ketika sumber penderitaan yang tersembunyi itu sudah ditemukan asal usulnya, dia jadi lebih mudah untuk ditaklukannya. Seperti halnya pencuri yang tertangkap basah terserah kita mau seperti apa memperlakukannya. Apakah kita mau membiarkan diri kita merugi dan terus terusan menjadi korban, atau mengambil alih kendali, membebaskan diri dari penderitaan dan menciptakan kebahagiaan kita sendiri.
Kini aku sudah tahu semaunya. Tak ada yang dapat kulakukan selain menerimanya. Aku menerima semuanya dan aku tidak melawannya. Tidak ada yang salah atau benar. Hanya sebab akibat. Semua adalah resiko kehidupan yang tidak dapat terhindarkan. Setiap diri mempunyai cerita masa lalu.
Aku memaafkan ibuku, memaafkan diriku dan masa lalu...
Aku memaafkan masa laluku karena itu adalah milik masa lalu, aku tak akan menahannya dia pergi dan berlalu.
I let it go...
__ADS_1
Hanya orang orang yang berbahagia bisa menularkan kebahagiaannya kepada orang lain.
🌾🌾🌾 TAMAT 🌾🌾🌾