
Kediaman Malhendra
Saat ini jenazah ayah Raina sudah dimandikan, tinggal di solatkan sebelum dikebumikan. Mereka masih menunggu Ibu Raina dan juga Raiden.
Raina sudah duduk didepan jenazah ayahnya, dia tidak menyangkah pertemuan mereka untuk pertama kalinya setelah berpisah lama harus berujung perpisahan untuk selama-lamanya.
Tidak ada lagi kebencian yang dia rasakan setelah melihat pengorbanan ayahnya untuk dirinya dan buah hatinya. Raina sudah memaafkan semua kesalahan ayah dan ibunya di masa lamu, sebelum kejadian stagis ini Raina sempat mengungkapkan keinginannya pada Malvin, suamunya, ingin mencari ayah dan ibunya, bagaimana pun perilaku mereka padanya dan juga adiknya, mereka tetap orang tua mereka, mereka begitu mungkin karena ekonomi mereka saat itu kesulitan. Itu yang Raina pikirkan saat ini karena melihat banyaknya anak yang telantar akibat orang kurang kemampuannya untuk menghidupi anak-anak mereka.
Memang itu sebuah kesalahan karena melantarkan anak-anak mereka tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa kalau menyaktuk kesulitan hidup.
Saat Raina meratapi pertemuan mereka yang tragis, adiknya sampai langsung duduk di sampinya. Terlihat jelas di wajah adiknya rasa benci, marah, dan kecewa yang selama ini Raiden simpan untuk ayahnya. Mungkin Raina bisa memaafkan kesalahan ayahnya tapi sulit untuk Raiden.
Dia tidak setegar dan sebaik kakaknya. Di usia yang masih mudah dia melihat kelakuakan ayah dan ibunya yang tidak mengharapkan mereka, bahkan mengusir mereka, yang lebih menyakitkan hatinya rumah peninggalan nenek mereka jual dan mereka hilang membawa uang itu, di harus melihat kakaknya berjuang untuk dia makan, untung mereka dipertemukan dengan Ibu Panti, sejak itu mereka tidak harus kesulitab di jalan walau masih harus berjuang, tapi setidaknya mereka ada tempat untuk berteduh.
Raina melihat adiknya hanya diam, Raina tau apa yang sedang adiknya rasakan saat ini, benci, marah dan kecewa. Tapi dia sudah iklas dengan semua yang terjadi dimasa lalu. Andai dia tidak mengalami ini semua mungkin saat ini dia tidak akan bertemu ibu Panti, Malvin dan keluarganya.
Raina merangkul adiknya dalam pelukannya,
"Dek, cobalah memaafkan semua kesalahan ayah kita, kakak tau apa yang adek rasakan saat melihat jenazah ayah, kakak mohon dek!!"
"Akan adek coba kak, adek gak sekuat dan setegar kakak, Dengan mudahnya memaafkan semua perbuatan ayah, tapi adek mohon jangan paksa adek bisa adek belum memaafkan mereka!!" Pinta Raiden pada sang kakak."
"Iya dek, kak tau itu tidak mudah untuk kita berdua, tapi kakak selalu bersyukur apa yang kita lalu pasti ada kebaikan dibalik semua penderitaan kita" ucap raina.
Raina melepaskan pelukan mereka.
"Sekarang kita tunggi ibu ya, nanti lagi kita bahas masalah kita, sekarang kita kebumikan dulu ayah setelah ibu datang, jika adek gak mau ikut selat jenazah ayah gak papa, yang penting adek sekarang sudah adah disini." Sambung Raina.
"Iya kak." Jawab Raiden.
__ADS_1
Berapa menit kemudian datang ibu mereka.
Ibu Raina menghampiri jenazah suaminya. Dia tidak fokus dengan sekelilingnya. Menangis sambil berkata "yah, ayah udah janji ingin mempertemukan ibu sama anak-anak kita, momohon ampun sama kakak dan adek, tapi ini apa? Ayah tinggalkan ibu sebelum kita bertemu anak-anak yang telah kita sia-siakan, ibu selama ini mengikuti semua apa yang ayah mau, harus rela mengabaikan mereka demi ayah tidak menyiksa mereka. Ibu harus menahan sakit untuk mereka, bahkan menelantarkan mereka demi keselamatan mereka, tapi hiks hiks ayah pergi tinggalin ibu sendiri, ibu tidak tau apa mereka mau hiks menerima ibu hiks hiks"
Raina dan Rainden terkejut mendengar penunturan ibu mereka, berarti ibu mereka selama ini juga tersiksa berpisah dengan mereka, demi kami dia menanggung sakit sendiri. Hati mereka teriris mengetahui fakta ini.
Raina yang masih menangis menghampiri ibu mereka, langsung memeluk ibu yang telah melahirkan mereka.
"Ibuuuu. ini kakak bu, ayah sudah menepati janjinya"
Ibu Raina menoleh kesumber suara, melihat siapa yang memanggilnya ibu, dia masih mencernah dan mengingat siapa yang memeluknya.
Raina melihat ibunya yang masih bingung dengan dirinya, maklum hampir 7 tahun mereka berpisah tampa kabar. Raina merai tangan ibunya, di ciumnya.
Dengan pelan-pelan Raina menjelaskan pada ibunya siapa dirinya dan adiknya beserta semu yang ada di ruangan.
"Bu, ini kakak, Raina anak ibu, anak sulung ibu, dan itu (menunjuk arah Raiden) adek, anak kedua ibu, Raiden. "
"Iya bu, ini kakak,"
"Mana adikmu? Adek" tanya ibu,
"Itu adek ibu, sekarang udah besar sebentar lagi masuk SMP Bu. Sini dek!! Peluk ibu kita!!" Pinta Raina pada adiknya.
Raiden dengan berat hati mengikuti kemauan kakaknya, sulit dia percaya bahwa ibu mereka juga korban keegoisan ayah mereka.
Ibu Delia, ibu Raina tertegun melihat anak keduanya sudah besar, ingin rasanya memeluk Raiden, ananya. Tapi dia tahan takut Raiden marah jika dia meluknya.
Raina melihat adiknya hanya diam di depan ibu mereka, Dia tau adiknya belum bisa menerima ibu mereka saat ini.
__ADS_1
Ibu Delia menyadari bahwa anak keduanya belum bisa menerima dirinya, dia memaklumi itu. Ibu Delia melihat sekelilingnya dan bertanya pada anaknya, siapa mereka semua.
Raina dengan pelan-pelan mengenalkan ibunya pada keluarga suaminya.
"Bu, itu suami Raina (menunjuk ke arah Malvin), Mas Malvin, di sampingnya itu ibunya, Mama Sofia. Di samping Mama Sofia itu suaminya, Papa Deri. Dan yang cantik samping Papa Deri itu adik ipar aku bu, Levi. Dan yang lainya sahabat aku sama Mas Malvin bu. Dan yang ini, Ibu Panti yang telah merawat kakak sama adek selama ini. Bunda sini, ini ibu kakak."
Bunda menghampiri kakak dan bersalaman dengan Ibu Delia.
Ibu Delia minta maaf karena tidak melihat mereka semua. Dan juga berterima kasih sudah menerima anak-anaknya dengan baik.
"Maaf bila aku mengabaikan kalian semua, dan terimah kasih kalian sedah menerima anak-anakku, juga bersedia mengurus jenazah suamiku, beribu terima ku ucapkan pun mungkin tidak bisa membalas kebaikan ini. Maaf sudah merepotkan kslian semua" Ucap Ibu Delia dengan tulus.
"Tidak apa-apa bu, kami mengerti keadaan ibu saat ini sedang berduka, kami ikhlas bu, Raina memang menantu kami tapi dia seperti kami sendiri, kami sangat menyayangi kakak. Begitu juga sahabat-sahabatnya." Ucap Mama Sofia.
"Benar bu, Malvin dan mereka semua iklas mengurus jenazah ayah, kakak sangat ingin mencari ibu, dia pernah bilang pada Malvin ingin mencari kalian, dia sudah memaafkan kalian bagaimana pun kalian adalah orangtuanya. Yang iklas ya bu, mungkin saat ini ayah bahagia sudah menepati janjinya pada Ibu. Mengiklaskan kepergiannya akan membuatnya bahagia disana, semoga Allah menerima ayah disisinya, aamiin." Malvin mencoba menenangkan ibu mertuanya.
"Aamin, Iya nak Malvin, ibu akan mengiklaskan kepergiannya, selama ini ayah sudah banyak berubah dan melakukan hal-hal baik, karena rasa bersalahnya pada anak-anaknya dia suka membantu anak-anak jalan untuk pejerjaan, mereka bekerja di Kafe kita. Semoga amal ibadah ayah diterimanya, aamiin"
Semua juga mengamin ucapan Ibu Delia.
""""""""""
Salam manis 🤗🤗 dari penulis untuk semua pembaca yang sudah mampir.
Semoga di beri kesehatan dan tetap bisa beraktivitas,
like, vote, & komen jika terdapat kesalahan dalam penulisan... 🥰🥰
Buka juga Novel baru aku ya kakak, adik yang ganteng dan cantik,
__ADS_1
- Istri Tomboyku
- Cewe Bar-bar Jodoh ku