kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
terus memanas


__ADS_3

setiap hari menjerit membentak dan menangis, bela hanya membuat suasana kamar mereka semakin panas entah meminta perhatian atau mengeluhkan sesuatu. dimas yang biasanya hanya diam tak memperdulikan keluhan bela tapi tidak sore ini. dia sedang tak enak badan perutnya kembali terasa melilit dan kepalanya pening, dia tak sempet makan siang tadi di toko sedang lumayan ramai jadi dimas melewatkan jam makan siang. dokter sudah mewanti-wanti agar dimas tak sampai telat makan kali ini ia lalai.


"bisa diam bel, kerja mu tiap hari hanya mengeluh lalu menangis menuntut ini itu tak ada hentinya. kepala ku sakit, kamu diam dulu jangan bersuara lagi" dimas menyahut dengan suara pelan


"kamu selalu gini mas, ga perduli sama aku. aku ngeluh kamu cuekin terus"


"kamu mau apa lagi sih" dimas mulai menaikan nada suaranya


"mau shoping makan di kafe. bosan aku hanya diam dirumah dan kami jatah 500rb seminggu anak SMP aja kurang mas" lagi-lagi uang yang bela bahas


"ibu baru membelikan mu baju hamil dan dalaman minggu lalu. bersyukur lah sedikit bel, jangan banyak mau"


"kamu jadi suami ga bisa nyukupin mau mas, ga mau berusaha kerja lebih keras lagi"


"lama-lama disini kepala ku makin sakit" dimas keluar kamar mencari ibunya


kepergian dimas membuat rima semakin jengkel, dia membanting barang yang berada didekatnya. selalu saja tak dihiraukan tak diperhatikan itu yang bela pikirkan, sepertinya setelah bayi ini lahir bisa saja mas dimas akan membuang ku. rima memikirkan hal itu, karena semakin hari dimas semakin cuek padanya. mau mendekat hanya untuk masalah anak yang bela kandung selebihnya ibu mertua lah yang akan menuruti keinginan mengidam dan kebutuhan bela selama mengandung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"bu" dimas mendudukkan dirinya disebelah sang ibu


"perut ku melilit kepala juga sakit tadi siang telat makan lagi. ini udah mulai mual kayaknya mau tumbang"


"hmm, sudah ayo kerumah sakit saja" ayah dimas menyahut dan beranjak mengambil dompet serta kunci mobil.

__ADS_1


tanpa sepengetahuan bela sore itu suaminya di bawa kerumah sakit dan dokter memutuskan dimas harus dirawat semalam. orang tua dimas trauma dengan kondisi dimas yang sudah-sudah. dimas adalah anak laki-laki terakhir jadi dia mendapat kasih sayang berlebih dari orang tuanya.


sedangkan dirumah bela yang baru keluar kamar saat jam makan malam terlihat kebingungan karena tak ada makanan dimeja makan dan rumah sangat sepi sekali.


"mbok" panggil bela


"iya mba, mau makan sekarang? biar mbok siapkan dulu"


"iya mbok saya lapar, kenapa rumah sepi ya mbok yang lain pada kemana?" bela sebenarnya anak yang sopan dia hanya terbiasa hidup enak dan menghamburkan uang sesuka hatinya jadi terlihat kalau bela seperti orang egois.


"pada ke rumah sakit mba, aden sakit lagi harus dirawat semalam kata ibu tadi telpon"


"mas dimas mbok?" tanya bela memastikan


"iya mba, memang mba ga tau mas dimas ke rumah sakit?"


"sudah siap semua mba, silahkan makan" mbok pimah tak mau banyak bicara dia berlalu kebelakang setelah menyiapkan makan malam untuk bela.


selera makan bela menguap begitu saja dia langsung mengambil HP dan menelpon suaminya.


tut tut tut


"hal" belum sempat si penerima telepon menjawab bela sudah lebih dulu mengoceh.


"mas kamu apa-apaan sih, pergi kerumah sakit ga bilang aku. kamu sebenarnya nganggep aku aku ga sih? jadi suami tu istri harus dilibatkan mas. kamu sakit ga bilang aku, main pergi gitu aja. mas halo mas, kamu denger aku ga sih mas? diajak ngomong diem aja" bela terus mengoceh

__ADS_1


"sudah?" suara ayah mertuanya yang bela dengar bukan suara dimas.


"ayah" cicit bela


"berlakulah sesuai porsi mu, anak saya begini karena ulah mu. jangan merasa jadi orang paling tersakiti kamu! jangan terus buat ulah" ayah dimas langsung mematikan telpon secara sepihak


bela tergugu mendengar suara ayah mertuanya. selama ini bagaimana pun bela membuat keributan ayah mertuanya tak pernah berkomentar. bela ketakutan dia dengan linglung berjalan kembali ke kamarnya tanpa menyentuh makanan yang sudah mbok pimah siapkan.


"siapa yah?" tanya sang istri karena ia tadi sedang di kamar mandi


"mantu mu"


"bela?"


"iya, buat ribut lagi telpon dimas marah-marah"


"selau saja, anak kita jadi begini karena dia. tinggal 3 bulan lagi cucu kita lahir setelahnya terserah dia mau pergi juga ibu ga perduli"


"kita terkesan jahat kalau begitu tapi kelakuannya makin bikin dimas tertekan"


"iya sudah berapa kali dimas kambuh semenjak menikah"


"kalau bela pergi nanti kita urus anak dimas sama-sama, ayah rencana mengenalkan dimas dengan anak perempuan teman ayah"


"jangan buru-buru yah, dimas masih sangat mengharapkan rima. walau kita tau mustahil rima mau kembali"

__ADS_1


"hmm, ya sudah kita istirahat saja. dimas juga sudah nyenyak"


tidak hanya dimas yang masih mengharapkan rima kembali, orang tua dimas pun sama. rima adalah gadis yang baik dan keluarga mereka sudah sangat dekat satu sama lain karena hubungan dimas dan rima terjalin lumayan lama.


__ADS_2