
Hari jumat sudah tiba, aku janjian dengan mas dimas untuk membeli kebaya wisuda. 2minggu lagi aku akan wisuda dan setelahnya kami akan menikah, namun hari ini mood ku sedang tidak baik sejak pagi aku sudah uring-uringan mengomel karena hal sepele dan ngambek tak jelas dengan teman teman di kampus.
Jam 10 tadi mas dimas sudah menelpon kalau dia sudah berangkat untuk menjemput ku, tapi karena aku masih di kampus sampai jam 11 ku suruh mas dimas untuk menunggu dirumah om indra saja kebetulan ada bela di rumah.
Tepat jam 11.20 aku keluar dari parkiran kampus, benar benar hari ini perasaan ku tidak nyaman seperti ada rasa takut sedih kecewa tapi entah untuk hal apa perasaan itu. Sampai aku tak fokus dalam berkendara, hampir saja aku menyerempet anak kecil yang akan menyebrang jalan karena aku melamun di atas motor. Aku terkejut dan mengerem mendadak untung anak itu tak apa apa.
Karena masih kaget aku memutuskan berhenti dipinggir jalan untuk membeli minum sambil menenangkan diri dulu.
Tepat jam 12.30 aku sampai di rumah om indra, tapi aku merasa enggan untuk masuk kedalam padahal di dalam ada mas dimas yang dari tadi sudah menunggu ku. Tapi kenapa mas dimas tak nelepon padahal hampir 1jam lebih aku terlambat sampai dari terakhir aku mengabarinya saat sudah keluar dari parkiran kampus.
Diruang tamu sepi tak ada orang sama sekali, lalu kemana mas dimas?
Aku ke dapur tapi nihil, aku ke teras belakang juga tak ada orang lalu kemana mas dimas dan bela sekarang kenapa mereka tak ada. Aku bertanya tanya tapi kaki ku melangkah ke lantai atas dimana kamar ku dan bela berada.
Tepat di tangga paling atas sayup sayup ku dengar suara aneh yang ku yakini berasal dari kamar bela. Suara apa itu, kenapa seperti suara orang yang sedang. Argh kenapa pikiran ku jadi ke arah sana.
Dengan siapa bela melakukannya? Kenapa dia senekat ini? Ini salah tak seharusnya bela begini. Tapi bisa saja itu suara dari video, aku terus menerka hingga aku sampai didepan kamar bela. Aku sempat menarik napas dalam dalam sebelum akhirnya ku miringkan kepala untuk mengintip ke kamar bela, dan saat aku melihat kedalam kamar betapa terkejutnya aku. Ternyata suara ******* itu bukan berasal dari video tapi melainkan adegan live antara dua manusia berbeda jenis yang sedang saling beradu. Dada ku sesak jantung ku berhenti berdetak hati ku berdenyut nyeri saat dengan jelas ku lihat wajah dua manusia yang sedang berada di atas ranjang itu.
__ADS_1
Aku menatap jijik kecewa marah benci, semua perasaan ku bercampur aduk. Mereka masih saja mendesah menjerit menyuarakan kenikmatan yang mereka cari sementara mereka asyik ada aku yang merasakan sakit luar biasa dari kebahagiaan mereka sekarang.
Brak aku membanting pintu kamar bela dan berlalu ke kamar ku untuk mengambil barang penting ku. Otak ku berjalan cepat untuk kembali pulang kerumah orang tua ku.
Ternyata mas dimas menyadari suara pintu yang ku banting, dia langsung memakai pakaiannya. Saat aku sudah berada diatas motor mas dimas keluar dari rumah. Tangan ku langsung dipegang oleh mas dimas, sementara bela berdiri di pintu melihat kami berdua di garasi. Aku menghempas tangan mas dimas dan menatap jijik kearah mereka bergantian.
"Menjijikan."
"Sayang mas bisa jelaskan mas bisa jelaskan semuanya maaf maafkan mas sayang."
Aku tak mau mendengarkan mas dimas sambil berteriak meminta menyingkir dari hadapan ku.
Dimas mendengus "Kamu campur obat perangsang kan ke teh tadi! Ga mungkin kita bisa sampai begitu kalau aku tak dalam pengaruh obat sialan itu."
"Tapi mas dimas menikmatinya kan, terbukti dengan ******* mas dan betapa semangatnya mas tadi diatas tubuh ku."
Dimas berlalu pergi untuk mengejar rima.
__ADS_1
Dijalan berkali kali rima berhenti di tempat sepi guna menarik napas untuk mengurangi sesak di dada. Sepanjang jalan air mata rima tak berhenti mengalir, dia merasa hancur entah bagaimana kedepannya. Apakah dia akan berdamai dengan keadaan dan bisa menerima semuanya atau dia akan terus membenci karena rasa kecewa yang teramat dalam.
Karena tak bisa fokus berkendara, rima memutuskan berhenti di taman yang sudah dekat dengan rumah orang tuanya. Disana rima menangis, menangis dalam diam.
"Kenapa? kenapa jadi begini. Apa mereka sudah lama berhubungan dibelakang ku, tapi kalau mereka sudah sejauh itu kenapa mas dimas masih mau menikah dengan ku."
Entah sudah berapa lama rima menangis sampai tak sadar hari sudah beranjak sore. Karena merasa lelah rima memutuskan pulang, saat sampai dirumah ternyata dimas sudah ada disana. Kembali rima menangis dan duduk diatas motor karena merasa malas untuk masuk. Sampai akhirnya heru menyadari kedatangan putrinya,
"Sayang, kenapa melamun diatas motor begini? Bukannya masuk kedalam, dari tadi dimas disini nunggu kamu. Ga berhenti minta maaf entah minta maaf untuk apa papa bingung jadinya." Heru terus berbicara sampai dia sadar kalau sang putri tengah menangis dalam diam.
"Loh anak papa kenapa ini menangis begini dan ini tampilan hancur begini."
"Papa hiks hiks huuaaaaaaaaa. Rima sak hiks sakit pa sakiiiiit."
Karena merasa bingung akhirnya heru menggiring sang putri untuk masuk kedalam rumah. Saat melihat dimas, rima langsung berlari ke lantai atas sambil terus menangis. Tentu hal itu membuat heru dan puji menjadi bingung, yang pasti mereka tau kalau dimas dan rima sedang ada masalah.
"Dim, ada baiknya kamu pulang dulu sekarang. Sepertinya rima butuh waktu dulu, maaf kalau papa terkesan mengusir tapi supaya kalian sama sama tenang dulu baru kita bicarakan ada apa sebenarnya."
__ADS_1
"Baik pa ma, dimas pamit dulu kalau begitu. Sekali lagi dimas minta maaf."
Sejak tiba dimas tak henti hentinya meminta maaf membuat heru dan puji berfikir sebesar apa kesalahan yang dimas perbuat sampai begitu terlihat penyesalan yang mendalam dari dimas.