
beberapa hari ini setiap menjelang malam rima merasa tubuhnya sedikit berbeda. dia akan merasa kedinginan tapi tubuhnya berkeringat, karena sudah lebih dari dua hari akhirnya rima mau pergi ke dokter praktek yang berada di desa ini. tentu dengan susah payah mbok sinta membujuk rima untuk mau periksa ke dokter.
"iya mbok, ga apa ke dokter umum saja. makin lama kok makin ga enak badan rima rasanya" ucap rima sambil meraih sweater yang tersangkut di belakang pintu kamarnya.
"ayo non, kita naik motor saja. mbok yang bonceng pelan pelan ga jauh kok dari sini cuma sepuluh rumah dari rumah ini" jelas mbok sinta.
"iya mbok" rima naik di boncengan mbok sinta.
kepalanya yang terasa semakin berat dan tubuhnya yang mulai lemas membuat rima berdiam diri selama perjalanan menuju rumah dokter umum di desa itu.
tampak sang dokter yang masih sangat muda dan tampan, ternyata ia adalah dokter yang sedang mengabdi di desa ini beberapa tahun ke depan.
"manis banget ni cewek, bening gini. kirain disini ga ada bidadari. duh klepek klepek gini gue" batin sang dokter menjerit.
"dok, dok" panggil mbok sinta membuyarkan lamunan dokter aji.
"eh iya mbok, bagaimana? ada keluhan apa putrinya?" basa basi aji walau ia tau kalau mbok sinta adalah seorang janda tanpa anak.
"ini nona rima anak majikan saya sudah beberapa hari ga enak badan dok" jelas mbok sinta
__ADS_1
"iya dok, setiap menjelang malam badan saya panas dingin dan malam ini puncaknya kepala saya terasa berat badan juga sudah mulai lemas sekarang"
"mari berbaring biar saya cek sebentar" jawab aji sopan pada bidadari yang baru ia lihat ini.
"pasti pak dokter kesemsem sama non rima" pikir mbok sinta sambil tersenyum, semoga ada jodoh. amin
"saya resep kan obat dan vitamin ya mba? efek cuaca dan beban pikiran sepertinya. saya sarankan mba melakukan sedikit refreshing supaya badan lebih segar dan hati sedikit tenang"
"baik dok" jawab rima singkat.
setelah selesai dan menebus obat rima dan mbok sinta kembali kerumah. rima langsung minum obat setelah makan terlebih dahulu agar bisa cepat istirahat.
mita yang sudah nyenyak mulai terbuai ke alam mimpi berbeda dengan dokter aji yang berada di klinik. sang dokter terus memikirkan pasiennya barusan.
begitu aji mengagumi rima, cinta pada pandangan pertama yang aji rasakan saat ini nanti akan berubah menjadi kecewa dan berujung pada obsesi. karena akan sangat sulit meraih rima dengan tembok tinggi yang membentengi diri rima.
"ga bisa tidur kebayang si cantik" malam sudah cukup larut, klinik juga sudah tutup sejak dua jam yang lalu tapi aji masih gelisah belum bisa memejamkan mata. ia masih terbayang pertemuan singkatnya dengan rima.
"jatuh cinta ni gua" pikir aji.
__ADS_1
"kalau bisa langsung ke penghulu biar halal jadi bebas. otak gua udah traveling gini mikirin si cantik"
"mbok sinta tadi bilang rima anak majikannya berarti dia cucu orang paling kaya disini? aduh gua mesti kasih mas kawin apa ya nanti kalau mau menghalalkan si cantik"
"arg bunda, aji jatuh cinta" aji berteriak karena gelisah memikirkan rima.
esok harinya.
"loh dokter aji kok lusuh gitu? kayak ga tidur semalaman?" tanya perawat rekan aji di klinik.
"iya mba, saya semalam gelisah ga bisa tidur" jelas aji.
"lagi sakit dok? atau ada sesuatu?" si perawat tampak kepo.
"saya lagi jatuh cinta jadi gelisah kebayang terus sama wajahnya si cantik pengen saya bawa ke penghulu" acuh aji memasuki ruangannya.
si perawat melongo begitu mendengar perkataan dokter muda itu. hampir satu tahun berada di desa ini baru pagi ini dokter aji bertingkah aneh.
di dalam ruang prakteknya aji masih tak bisa fokus, untung saja hari ini pasien yang datang tidak begitu banyak.
__ADS_1
"ya ampun, gini amat mikirin cewek. ga pernah jatuh cinta tapi sekalinya tertarik sama cewek sampe lupa cara nafas gue" rutuk aji frustasi pada dirinya
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=