kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
pov dimas


__ADS_3

Hari ini aku mengajukan cuti karena ingin menemani kekasih ku mencari perlengkapan wisudanya. Itu artinya kurang dari 2bulan kami akan menikah tak sabar rasanya menuju halal dengan pujaan hati ku, wanita yang beberapa tahun ini selalu ku puja.


Aku sudah menelpon rima kalau aku akan menjemputnya di rumah om indra, rima menumpang di rumah saudara dari ayahnya. Ternyata rima masih di kampus dan aku diminta untuk menunggu dirumah om indra karena rima sedang dalam perjalanan pulang.


Aku mengetuk pintu rumah om indra, karena ada bela dirumah sesuai yang dibilang rima tadi kalau ada bela dirumah dan aku bisa menunggu rima di dalam rumah.


"Ada mas dimas, ayo masuk mas. Rima masih di kampus kayaknya apa ga telpon tadi."


"Iya sudah telpon, aku disuruh tunggu disini dia lagi dijalan pulang."


"Owh, duduk dulu mas aku buatkan teh dulu."


Tak berapa lama bela sudah kembali dengan secangkir teh ditangannya. Tanpa rasa curiga aku meminum teh buatan bela, baru 5menit aku meminum teh itu kenapa tubuh ku jadi berkeringat dan ada perasaan aneh yang aku rasakan. Bela yang duduk didepan ku jadi terlihat menggiurkan sekali.


"Em" aku berdehem masih berusaha mengendalikan hasrat yang tiba tiba muncul.


"Mas dimas kenapa? Tenggorokannya seret mas, tehnya terlalu manis ya."

__ADS_1


"Ah tidak kok bel."


"Lalu mas kenapa, loh kok muka mas dimas merah begitu. Mas sakit ya? Mau aku ambilkan obat?"


Bela langsung mendekat dan terus bertanya kepada ku. Tapi aku tak bisa fokus, aku merasa tersiksa tubuh ku panas seperti terbakar dan aku butuh pelampiasan. Tiba tiba bela sudah berada didepan ku, dia menyentuh kening ku untuk mengecek suhu tubuh ku. Entah keberanian darimana aku menarik tangan bela dan dia jatuh dipangkuan ku, kami saling pandang. Aku langsung ******* bibir bela dengan rakus karena hasrat ku sudah sangat tinggi. bela dengan senang hati membalas ******* ku pada bibirnya bahkan dia membuka bibirnya agar lidah ku bisa masuk kedalam. Kami saling membelit dan terus berciuman sampai kehabisan nafas.


"Hohh hohh" suara napas kami terengah engah.


Tak berhenti sampai disana tangan ku mulai berani meraba tubuh bela, bela meggeliat dan saat ku rasa bela tak menolak aku semakin berani. Tangan ku berpindah ke seluruh tubuh bela menyentuh semua yang dapat ku raih.


"Mas dimas mas."


Aku sempat berhenti dan melamun, tapi kemudian aku tersadar saat bela menarik ku menuju kamarnya. Aku diam saja mengikuti bela seperti kerbau di cucuk hidungnya aku menurut kemana bela membawa ku.


Sampai di dalam kamar bela yang memulai, dia yang mencium ku lebih dulu. Aku yang masih belum reda tentu terpancing dan membalas yang bela lakukan. kami kembali berciuman, lama kami saling memagut sampai akhirnya kami sudah sama tak berbusana entah siapa yang memulai aku tak ingat sama sekali.


"Mas, bela sayang mas dimas. Bela cinta mas, tapi mas ga pernah lihat bela."

__ADS_1


Aku terkejut bela menyatakan perasaannya pada ku, aku tak menyangka dia menyukai tunangan saudara sepupunya sendiri. aAeh, gadis ini aneh. Aku bangkit dari tubuh bela tapi belum aku berhasil bangun bela sudah menarik lagi.


"Mas, aku cinta mas jangan tinggalin aku begini."


Aku kembali terpancing, seperti aku di beri sesuatu oleh bela. Karena sebelumnya aku tak pernah begini walau bersama rima aku pernah berciuman tapi aku masih bisa menahan diri. Kali ini aku tidak bisa lagi menahannya harus ku tuntaskan ini semua sekarang juga.


"Jangan menyesal bel, kamu yang menjebak mas."


Bela tersenyum dia memeluk ku dengan erat. Semua terjadi, aku dan bela melakukannya. Kami melakukan hubungan terlarang ini tanpa cinta tanpa ikatan pernikahan.


"Mas sudah dapat bela, berarti mas milik bela sekarang. Mas ga boleh tinggalin bela."


Setelah kami selesai bela terus mengoceh, aku hanya diam mendengarkan tanpa membalas. Aku bingung sekali bagaimana hubungan ku dengan rima setelah ini, bisakah kami tetap menikah sementara aku sudah mengkhianatinya. Jika rima tau dia pasti marah pada ku bisa saja pernikahan kami akan batal. aku mulai takut, takut kalau rima tau yang ku lakukan bersama bela.


Aku melirik ke sebelah ku lihat bela mulai memejamkan mata tapi tiba tiba hasrat ku muncul kembali, aku langsung saja mendekati bela dan memintanya melayani ku. Bela tak menolak, kami melakukan hubungan intim itu sekali lagi. Sampai kami kaget saat mendengar suara pintu kamar bela yang di banting kasar. Kami kompak menoleh kearah pintu, betapa terkejutnya aku. Rima disana, rima melihat ku dan bela dia menyaksikan yang kami lakukan. Aku buru buru menjauh dari tubuh bela mencari semua pakaian ku yang berserakan dilantai. Kalang kabut aku memakai pakaian ku dan segera keluar dari kamar bela dan mencari rima. Aku takut, bagaimana aku menjelaskan ini semua. Percayakah rima aku dijebak aku terpengaruh obat saat melakukannya dengan bela.


Begitu aku sampai di teras rumah bela ternyata rima sudah berada diatas motornya. Ku raih tangan rima namun langsung dihempas kan olehnya, dia hanya mengatakan kata jijik dan berteriak meminta aku menyingkir. Dengan berat hati aku membiarkan rima pergi, aku sempat berdebat dengan bela dan berlalu pergi dari sana untuk menyusul rima.

__ADS_1


Dijalan aku kehilangan jejak rima, kemana dia pergi kenapa cepat sekali hilang. Akhirnya ku putuskan untuk kerumah orang tua rima, sudah 3jam aku disini menunggu rima pulang tapi sampai saat ini rima belum juga sampai aku semakin gelisah dan terus meminta maaf pada orang tua rima. Mereka terlihat bingung melihat ku yang sejak sampai disini hanya meminta maaf tanpa menjelaskan apa apa.


Tepat jam 5.45 sore rima sampai dirumah, ku dengar rima menangis diluar. Sampai saat rima melihat ku diruang tamu dia langsung berlari ke kamarnya tanpa mau melihat ke arah ku. Aku semakin merasa bersalah padanya, aku jadi gamang apakah hubungan kami akan berlanjut atau berakhir. Aaat aku terdiam, ayah rima meminta ku untuk pulang dulu dan menenangkan pikiran agar besok kami bisa saling bicara. Aku mengiyakan dan berlalu pulang, dijalan aku banyak melamun tak terasa aku menangis aku ketakutan dan merasa sangat bersalah.


__ADS_2