
melahirkan adalah kodrat yang harus dialami hampir semua wanita. sudah satu hari satu malam bela menahan sakit kontraksi tapi belum juga melahirkan, dimas yang begadang menunggui bela sudah semakin pucat kondisinya yang tak boleh lelah membuatnya pingsan.
orang tua dimas panik, anaknya pingsan dan harus di rawat sementara menantunya merengek menahan sakit yang semakin meningkat karena pembukaan sudah memasuki tahap ke tujuh.
ambar yang sudah di telpon oleh bela tak juga kunjung datang untuk menengok putrinya. bela yang merasa sendirian di saat seperti ini semakin merasa sedih.
"bu, bagaimana mas dimas? apa belum bisa temani bela disini?" disela menahan sakit bela masih bertanya kondisi dimas pada ibu mertuanya.
"sudah sadar tapi masih lemas, ayah yang jaga disana. kamu sabar ya, ini sebentar lagi pembukaannya lengkap. sekarang minum teh hangatnya biar ada tenaga"
bela mengangguk
"mama mu kenapa ga datang kesini bel? ayah juga sudah telpon tadi pagi"
"ga tau bu, paling sibuk sama arisan dan teman-temannya" jelas bela dengan wajah yang semakin sedih.
tak ada ibu yang menemani dan suami yang sedang terbaring sakit membuat bela tak memiliki semangat. rasa sakit yang terus mendera ditambah ia tak mempunyai sandaran untuk mengeluh semakin menambah rasa sakitnya.
"aku ingin mama disini sekarang, mas dimas tumbang. nanti di ruang bersalin aku bakal sendirian meregang nyawa. kalau aku mati pas lahiran ga ada keluarga yang bakal tau" mata bela berkaca-kaca.
"bu ini makin sakit" rengek mita
"sus tolong diusap-usap lagi pinggangnya, saya lemas banget apa ini masih lama?"
"sabar ya mba, sebentar lagi ketemu sama anak bakal terbayar sakit mba dari kemarin" hibur suster yang terus mengusap pinggang bela dengan sabar.
ceklek pintu ruang rawat bela di buka, ternyata indra dan bagas yang datang.
"bagaimana keadaan anak saya sus?" tanya indra begitu sampai disana.
"tadi masih pembukaan tujuh pak indra" ibu dimas yang menjawab
__ADS_1
"owh maaf, saya ga lihat tadi ada mba disini. bagaimana kabarnya?" tanya indra berbasa-basi
"baik pak indra, pak indra bagaimana kabar? hmm istri ga ikut pak?"
"saya dari kantor langsung kesini karena bela tadi telpon"
"kenapa baru kabarin papa?" indra mendekati tempat bela berbaring. wajah bela sudah pucat keringat membasahi keningnya.
"sabar, apa mau operasi saja?"
"maaf pak pembukaan sudah hampir lengkap sayang kalau harus operasi" jelas perawat yang mendampingi bela. indra hanya mengangguk.
"mama mana pa? bela telpon ga diangkat wa juga cuma di baca padahal udah semaleman bela nahan sakit" derai air mata membasahi pipi bela.
"hmm, sudah fokus saja dulu untuk ini. mama mu biarkan saja dulu" indra mengelus rambut bela.
"sudah baik-baik dulu disini, papa sama bagas mau jenguk suami mu dulu"
"om" dimas menyapa mertuanya
"sudah tidur saja, bagaimana sudah ada perubahan?"
"masih lemas saja om, om sudah ke ruangan bela?" tanya dimas.
"sudah tadi ke sana dulu baru jenguk kamu. ayah mu dimana?" indra tak melihat keberadaan ayah dimas.
"ayah lagi keluar ambil pembukuan sm setoran dari toko di lobby om" jelas dimas.
sudah hampir jam empat sore bela belum juga melahirkan, padahal sudah pembukaan sembilan. akhirnya dokter memberi suntikan lagi agar prosesnya semakin cepat. jam setengah tujuh malam lahir bayi mungil berjenis kelamin perempuan, wajahnya sangat mirip seperti dimas.
begitu posesif, dimas tak mau melepas dekapannya pada sang putri yang ia beri nama ella liana yang artinya putri yang cantik.
__ADS_1
"di taruh dulu dim, kasihan pegal nanti" bujuk sang ibu.
"biar dimas gendong aja bu, hangat dia betah ni" senyum dimas terpatri sejak sang putri lahir ke dunia.
"sudah biarkan saja, belum bosan mungkin bu" ayah menimpali.
bela baru saja makan minum obat dan sekarang sedang tidur. dimas sudah meminta kedua orang tuanya untuk pulang tapi mereka menolak karena memikirkan kondisi dimas dan sang cucu mungkin saja akan rewel di tengah malam.
tak mungkin meninggalkan pasangan yang baru memiliki anak ini berdua saja, bela yang masih lelah pasca melahirkan dimas yang masih pucat dan lemas serta ella yang masih menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya membuat pasangan paruh baya ini memilih menetap di rumah sakit.
"ibu tidur saja, kelihatan sudah lelah dua hari menunggu bela kesakitan" bujuk ayah
"nanti saja yah, belum ngantuk"
mereka sedang duduk di luar kamar bela. lama diam tak ada yang memulai percakapan akhirnya dimas bergabung dengan kedua orang tuanya.
"ayah pikir kamu tidur"
"ga bisa tidur" jawab dimas singkat
"bagaimana setelah ini dim?"
"ga tau bu, lihat dulu bela gimana. aku bingung, sebenernya ga bisa lanjutin pernikahan ini tapi kasihan ella kalau harus jauh sama ibu nya"
sebenarnya sejak awal dimas tak ingin melanjutkan pernikahannya dengan bella setelah kelahiran sang anak. dimas merasa semua akan sia-sia karena tak akan pernah ada cinta untuk bela. semua dimas lakukan hanya untuk sang ank hampir satu tahun bertahan tapi tak juga mendapatkan hasil yang bisa membuatnya membuka diri untuk sang istri.
di balik pintu ternyata bela mendengar ucapan dimas, rasa sakit pasca melahirkan semakin menambah hancur perasaan bela.
"jadi, mas dimas ingin menceraikan ku setelah anaknya lahir. sejak awal dia sudah merencanakan ini? tega sekali, dia tak pernah menganggap ku" bela menangis dalam diam. ia terus menganggap rima yang menyebabkan semua ini, seandainya rima musnah pasti dimas tak akan terus bertahan untuk cintanya pada rima.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1