
"ayo cerita" desak semua teman kerjanya pada rima.
"apa yang harus diceritain?" jawabnya jengah karena sejak bagas pergi untuk meeting bulanan ia sudah diserbu.
"ya kenapa kamu bisa berantem sama pacarnya pak bagas?"
"emang mereka pacaran ya mba?" tanya rima bukannya menjawab malah ia bertanya perihal hubungan bagas dengan wanita bernama mita itu.
"ya ga tau juga sih, tapi mereka lumayan lama berduaan didalam padahal selama aku disini belum pernah ada cewek yang datang apalagi selama itu di ruangannya pak bagas" stevi adalah karyawan senior seangkatan dengan bagas.
rima menunduk masih ada sedikit perih di dadanya saat mendengar kalau mita adalah pacar bagas.
"kita masih nunggu kamu cerita loh rim" sentak anwar gemas.
"his, ga ada apa apa sih" akhirnya rima menyerah dia menceritakan pada semua karyawan kepo ini.
"aku ke sana ya kayak biasa mau bawa berkas biar di periksa habis ketok pintu ya ku buka biasanya emang ga ada orang ya aku nyelonong aja eh disana ada cewek itu, dia mau cium pak bagas tapi gagal karena pak bagas langsung noleh ke pintu mungkin itu yang bikin dia kesel sama aku jadi berantem deh" rima tak mau menceritakan secara detail karena ia masih punya rasa malu, takut kalau ketahuan ada rasa pada bagas.
"terus" wajah mereka terlihat seperti menunggu sesuatu yang sangat berharga.
"kenapa mukanya pada gitu sih" gerutu rima sebal.
"eh" mereka saling pandang dan tertawa.
hahahahaha
__ADS_1
"aku dimaki maki disana ya karena kesel pas mereka keluar yaudah ku embat aja sekalian berhubung lagi PMS juga jadi pas" sungut rima berdiri dan pergi ke pantry untuk membuat kopi.
mereka terlihat pasrah saat rima pergi karena sudah pasti ceritanya berakhir dengan kepergian rima membuat kopi.
"bubar deh, si mungil ga bakal lanjut udah ngeloyor bikin kopi gitu" stevi membubarkan teman temannya.
"payah tu anak"
"tapi kayaknya emang cuma segitu aja"
"tapi kemarin pak bagas kayak bingung gitu, lihat ga sih. dia kok diem aja bukannya belain pacarnya didepan kita tapi malah bengong gitu ngeliatin rima marah marah"
"iya terus pas rima pergi mukanya pak bagas kayak yang frustasi gitu loh"
suara saling sahut terus berlanjut saat rima duduk di kursinya dengan secangkir kopi.
.
.
bagas berusaha fokus mengikuti rapat bulanan walau sejak semalam ada rasa yang mengganjal dalam hatinya. dirinya sibuk menerka kenapa sikap rima kemari meledak seperti itu padahal tak ada kejadian berarti saat di dalam ruangannya.
gue harus ngomong sama rima biar ga jadi kepikiran terus. gue ga mau terus mikirin dia, kalau emang perasaan gue ga di bales ya udah gue mau lupain dia tekad bagas pagi itu sudah sengaja di bulat bulatkan.
"oke terimakasih mohon untuk yang masih harus di koreksi tolong dipercepat supaya tidak ada masalah dikemudian hari. sampai disini saya akhiri meeting bulanan kali ini" suara indra memutuskan lamunan bagas, satu persatu peserta rapat keluar untuk kembali keruangan mereka masing masing.
__ADS_1
"gas" panggil indra.
"ya pak"
heru yang sedang fokus pada kertas ditangannya ikut menoleh kearah indra.
"kemarin kenapa ada keributan di divisi mu?"
wajah bagas terlihat tegang, mati aku pak indra udah tau soal kemarin.
"keributan apa?" heru bertanya karena ia tak tau apa apa.
"hanya salah faham pak" bagas berusaha menjawab dengan tenang.
"perasaan mu untuk rima apa masih berlaku? atau sudah kami akhiri?"
"aah, maksud bapak?" suara bagas bergetar.
"hmm, yasudah lupakan" indra beranjak.
"gas ada apa?" heru yang masih penasaran menahan bagas.
"kemarin ada keributan kecil pak, maaf kalau sampai mengganggu. saya permisi pak masih ada yang harus dikerjakan"
"hmm ..........." heru yang akan bertanya langsung batal karena bagas sudah pergi.
__ADS_1
"eh belum kelar mau tanya"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=