kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
tak saling kenal


__ADS_3

"saya permisi pak"


kalimat itu yang terus bagas dengar saat rima mengantar berkas ke ruangannya. ia belum mendapat kesempatan untuk berbicara karena beberapa hari ini kesibukannya lumayan banyak.


"sebentar, saya mau bicara. kamu bisa duduk di sofa"


"silahkan bicara pak, saya sedikit sibuk" rima menolak duduk.


"begini" bagas mendekat dan berdiri di depan rima.


"kita bicara tanpa emosi dan suara tinggi tolong kerjasamanya"


"kamu kenapa kemarin emosi sekali saat bicara dengan mita?"


"bapak hanya ingin membicarakan masalah remeh seperti itu?"


"remeh menurut mu tapi cukup mengganggu bagi saya"


"mengganggu kelangsungan percintaan bapak maksudnya"


"rima"


"apa"


"kenapa kamu terus menantang saya?"


"hmm, cukup pak. kita ga harus terus bersitegang seperti ini, soal kemarin lupakan saja saya minta maaf. setelah ini saya ga akan buat upah lagi"

__ADS_1


kenapa dia, kenapa tiba tiba melunak begini kenapa aku ga rela seperti dia sedang menghindar dan akan pergi jauh.


"kamu kenapa?"


apa katanya, aku kenapa? kenapa dia menarik ulur begini. "maksud bapak apanya kenapa?"


"kemarin kamu seperti orang kesetanan seolah memergoki pasanganmu berselingkuh dan sekarang kamu melunak seperti akan pergi jauh"


"perasaan bapak saja, lagi pula kita ga punya hubungan apa apa jadi bapak ga harus merasa saya sedang memergoki bapak berselingkuh"


"rim" bagas berusaha mendekat.


"stop pak, jangan lagi. saya harus pergi"


"rim, tolong dengar saya"


rima memutus segalanya dengan sepihak, tak sedikitpun ia mau bertanya dan mendengar penjelasan dari bagas. mereka berdua berputar dalam pikiran dan perasaan masing masing, tak ada yang ingin kembali memulai. bagas bertekad melupakan perasaannya begitupun rima mereka berdua tersesat dalam keegoisan masing masing.


semenjak perdebatan itu keduanya bersikap saling acuh, mereka hanya akan berkomunikasi untuk urusan pekerjaan selebihnya mereka seperti dua orang yang tak saling kenal. kesibukan bagas membuatnya bisa sedikit demi sedikit mengalihkan rasanya untuk rima berbeda dengan rima ia yang terus berada dalam jarak yang begitu dekat tak begitu saja bisa membuat rasa itu menghilang malah semakin dirinya berusaha meredam gejolak itu malah semakin membesar.


"perih banget" lihir rima.


"apanya yang perih?" tanya anwar dimeja sebelah.


"eh, ga ga ada yang perih kok kak" rima gelagapan, yaampun ni mulut ga bisa di rem banget sih rutuk rima pada dirinya.


"kenapa sih lo? perasaan sekarang pendiem banget lebih dingin sama aja kayak pak bos, gue liat dia tambah membeku aja"

__ADS_1


"mana ku tau dia kenapa kak" kenapa sih harus di sangkut sangkutin sama kodok ngorek itu batin rima.


"gue ga ada tanya pak bagas kenapa sama lo rim" anwar meralat lagi ucapannya dan jawaban rima.


"eh" rima kembali tersadar karena ia sungguh tak bisa masuk kedalam obrolan anwar.


"makin aneh aja lo ini, atau lo sama pak bagas ada apa apanya. iya?" cecar anwar lagi.


"aku mau ke toilet kak"


rima buru-buru pergi untuk menghindar dari pertanyaan anwar yang semakin menyudutkannya. dan apesnya rima malah bertemu bagas di lorong toilet. semakin menjadi, keduanya terus bersikap seolah tak mengenal satu sama lain. rima berjalan tanpa menyapa begitupun bagas ia fokus dengan ponsel ditangannya.


semua sesuai keinginan mu rim, kita jadi dua manusia yang tak saling kenal kecuali urusan pekerjaan. hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja, semakin hari semakin rumit. batin bagas perih mengubur dalam perasaannya padahal hanya rima yang mampu membangkitkan lagi gairah cinta dalam diri bagas.


.


.


tut tut tut


"nomor ku diblokir sama bagas, sialan gara gara cewek sialan itu bagas jadi ngejauh"


bruk


mita membanting HPnya ke atas ranjang, usia yang sudah semakin cukup untuk menikah membuat mita begitu diburu waktu. saat bertemu bagas gejolak dalam dirinya membuncah, ia merasa bagas pria yang pas dengan kriteria ya dicari selama ini. tampan gagah dan tentunya berduit itu yang membuat mita begitu gencar mendekati bagas bahkan ia sudah berencana menyerahkan dirinya pada bagas secara cuma-cuma.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2