kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
mencair


__ADS_3

"mau bicara disini atau keruangan ku saja?" tanya bagas saat rima masih menundukkan kepalanya.


"disini saja, aku ga mau orang orang pada mikir yang aneh aneh"


"kita berduaan disini juga mereka pasti mikir yang aneh aneh sayang" kata bagas sambil tersenyum.


"mas ga usah senyum senyum gitu, cepat ngomong" rajuk rima.


"yang mita omongin tadi ga ada yang bener, dia ngarang indah. aku sama dia cuma ketemu beberapa kali. pertama waktu ga sengaja tabrakan di toko buku terus yang kedua dia ngajak ngopi di kafe depan kantor yang ketiga dia datang kekantor pas ribut sama kamu itu. terus ketemu lagi pas kita makan malam sama tadi" jelas bagas terperinci.


rima tak melihat kebohongan dari sorot mata bagas dan nada bicaranya terdengar sangat mantap. dalam hati rima bisa mempercayai apa yang bagas jelaskan padanya. tapi kenapa mita bisa dengan mudah mengatakan kalau mereka sudah berhubungan sejauh itu.


"soal dia bilang pernah itu sama aku, bohong sayang aku masih perjaka ini beneran aku ga bohong lihat dan pegang perempuan juga aku belum pernah"


"kalau belum pernah kenapa nyium aku pinter banget" gerutu rima namun bagas sangat jelas mendengarnya.

__ADS_1


"hehe kalau itu naluri sayang, apalagi kamu cerewet banget jadi gemes lihat bibirnya pengen ****"ujar bagas mesum.


plak


sebuah pukulan mendarat di bahu bagas namum tak membuat bagas kesakitan malah ia meraih rima kedalam pelukannya. bagas berjanji tak akan lagi membiarkan siapa pun menghina rima setelah ini.


"mas"


"hmm"


"kita ga jadi berantem?"


"mas ih" rima mendorong dada bagas menjauh karena ia merasa.


duh kenyal lembut gitu pikiran kotor bagas langsung saja membuat adik kecilnya menggeliat dari tidur panjangnya. ****

__ADS_1


"mas mesum banget" rima berlari keluar dengan membawa rona merah diwajahnya namun ia merasakan ada gelayar aneh saat bersentuhan cukup dekat dengan bagas barusan.


sabar ya tong belum saatnya kenalan gumam bagas sambil mengelus tonjolan di balik celananya sambil tersenyum melihat rima keluar ruangan sampai membuat intan sekretaris indra kaget.


.


.


"siapa tadi itu kak?" maksud heru adalah wicaksono karena heru tak pernah bertemu dengan wicaksono sebelumnya padahal sebagian teman indra adalah teman heru juga begitupun sebaliknya.


"teman SMA dan kuliah tapi ga terlalu dekat, cuma sebatas kenal dan beberapa kali ikut nongkrong. sebenarnya orangnya baik hanya sedikit cepat tersulut walau tak tau duduk perkara itu yang buat aku ga begitu mau dekat" jelas indra saat ia mengingat ingat bagaimana wicaksono dulu.


"aku cuma ga mau rima merasakan sakit lagi mas, apa bagas pilihan tepat untuk rima? aku takut kita kembali menyakitinya" gumam heru mulai dilema padahal awalnya ia sudah merasa yakin dengan bagas.


"kita lihat saja dulu, apa bagas dan rima bisa tetap bersama karena kan mereka baru mulai jadi biarkan mereka berusaha dulu" sebenarnya indra juga butuh penjelasan dari bagas bagaimanapun ia tak mau bagas menyakiti keponakannya.

__ADS_1


akhirnya pertemuan dengan klien hari ini berjalan lancar walau bagas dan rima tak jadi ikut mendampingi keduanya. karena jam tanggung akhirnya indra dan heru memutuskan untuk langsung pulang kerumah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2