
hampir enam bulan sudah ambar kelimpungan dengan hidupnya. sampai akhirnya ia bisa membuat perhitungan dengan okta saat tanpa sengaja bertemu di swalayan saat akan berbelanja.
plak, tanpa aba aba ambar langsung menampar okta di depan banyak orang. kondisi swalayan yang pada saat weekend begitu ramai sontak menjadi semakin riuh karena ulah ambar.
"pelacur" teriak ambar tepat di depan okta.
okta diam bergeming, ia tau ambar adalah mantan istri indra kekasihnya. ia sudah sering bertemu dengan okta bila ada acara keluarga yang puni adakan. jadi secara tidak langsung mereka saling kenal walau tak dekat.
"ga tau malu merebut suami saya padahal kamu saudara adik ipar suami saya"
lantang suara ambar sambil tangannya terus berusaha melukai okta. namun akhirnya okta menangkis tangan ambar saat wajahnya akan terkena tamparan lagi.
"mba ambar, sebaiknya mba introspeksi diri dan tanya ke mas indra siapa mba sekarang" tegas okta pada ambar.
"saya?" ambar menunjuk dirinya sendiri.
"saya istri sahnya indra dan kamu adalah pelakor yang merayu suami saya" merah padam wajah ambar saat itu, dan dengan gesit ia menjambak rambut okta.
"auh" jerit okta merasakan sakit saat rambutnya ditarik dengan keras dan di pelintir oleh ambar.
semua orang yang menonton saling berbisik melihat kebrutalan ambar disana, sampai akhirnya pihak keamanan datang melerai mereka berdua. ambar dan okta di bawa keruang keamanan untuk di sidang.
"tolong ibu berdua panggil seseorang yang bisa menjamin kalau tidak akan terjadi lagi perkelahian seperti ini disini atau di tempat lain" ucap manager pada saat bisa mengehentikan kemarahan ambar yang tadi mengamuk di ruang keamanan.
okta yang mengirim pesan pada indra, tak sampai setengah jam indra heru rima dan bagas sudah sampai disana. rima langsung memeluk tantenya dan menangis melihat kondisi okta yang berantakan dan ada beberapa luka pada wajahnya. heru geram dan ingin menarik ambar namun dengan sigap bagas menghalangi. berbeda dengan indra ia terlihat tenang namun sorot matanya begitu tajam menghunus ke arah ambar.
"gas, siapkan semuanya sekarang"
"baik pak" bagas bergegas menelpon seseorang dan menyelesaikan permasalahan dengan pihak swalayan.
"mari pak, sudah di tunggu di rumah pak heru" ucap bagas.
"ikut ke rumah heru sekarang" dingin suara indra membuat ambar bergidik ngeri pasalnya indra tak pernah sekalipun bersikap seperti ini pada dirinya
"mas, aku kangen" ambar meraih tangan indra dan mendekapnya.
"lepas"
__ADS_1
sambil menahan emosi ambar mengikuti langkah indra menuju mobil untuk kerumah heru.
"kamu ikut aku sama rima saja mbar" panggil heru saat ambar akan ikut semobil dengan indra.
"aku istrinya indra, ga usah berisik" sungut ambar pada heru.
"aku ikut mas heru saja" lihir okta.
heru akhirnya mengangguk menuruti permintaan adik sepupu istrinya.
"ayo tante" ajak rima duduk di jok belakang.
huft, diperjalanan hanya terdengar helaan nafas dari okta.
"kamu beneran ga apa ta?" tanya heru.
"iya mas, kepala ku aja yang pusing tadi rambut ki sempat di pelintir sama mba ambar. apa aku ga jadi aja ya mas nikah sama mas indra"
"tante"
"ga usah gegabah ta, kak indra pasti bisa urus ambar"
"mas kamu kemana aja? enam bulan ga pulang ga kasih nafkah ke aku. aku kangen kamu mas, kita mampir ke hotel dulu ya mas" bujuk ambar tanpa tau malu padahal ada bagas yang sedang menyetir di depan.
bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ambar pada bosnya.
"jaga sikap mu mbar, aku jijik melihat kelakuan mu ini" indra berkata tanpa menoleh pada ambar.
"mas, kamu ngomong apa? kamu selingkuhin aku sama janda pelacur kayak si okta adiknya puji itu. kamu ninggalin aku, kamu bikin aku sengsara dengan membekukan semua aset ku semua kartu kartu ku. kamu mau bikin aku mati sengsara iya?" bentak ambar keras.
"kamu nuduh aku selingkuh? hahaha" indra tertawa sumbang.
"okta bukan selingkuhan ku, dia calon istri ku. dan kamu? kamu bukan siapa siapa ku"
"dasar pria ga tau di untung kamu mas, kalau bukan karena aku kamu pasti sudah gila sekarang karena mikirin anak sama istrimu yang mati itu"
indra menggeram menahan amarah. jangan sampai terpancing pikir indra, dia hanya mengatur nafasnya agar bisa meredam emosinya.
__ADS_1
"mas, kamu harus ceraikan aku dan bagi harta gono gini nya kalau kamu memang mau nikah sama pelacur itu"
"siapa yang pelacur? okta atau kamu?" telak pertanyaan indra mengenai jantung ambar, ambar diam seribu bahasa.
"roni anak siapa?" tanya indra datar.
"anak mu!"
"sungguh?"
skakmat, ambar mengunci rapat mulutnya sampai mereka tiba di kediaman heru. yang ternyata heru okta dan ambar sudah sampai lebih dulu. saat mereka masuk puji sedang mengobati luka di wajah dan tangan adik sepupunya.
"perempuan gila" kata puji saat melihat ambar masuk ke dalam rumahnya. puji begitu marah saat melihat kondisi okta yang berantakan, sebelum ambar sampai pengacara sempat memfoto keadaan okta untuk di jadikan barang bukti bahkan pengacara itu membawa seorang dokter dan perawat untuk memeriksa okta.
ambar duduk dengan sombong di ruang keluarga, dia tak tau kalau hidupnya akan hancur sebentar lagi. ambar hanya berdua dengan indra di sana yang lainnya menunggu di ruang tamu.
"ambar kamu tau aku memiliki hubungan dengan okta dan kami akan segera menikah"
"bener kan mas kamu selingkuhi aku, sejak kapan?" ambar membentak.
"aku tak selingkuh, kami menjalin hubungan setelah kita bercerai"
mata ambar sontak melotot mulutnya menganga, ia terkejut mendengar indra mengatakan kalau mereka sudah bercerai.
"jangan ngarang cerita kamu mas, kapan kita bercerai tak ada sidang bahkan panggilan dari pengadilan saja tidak ada. aku tak mau di madu, kita bercerai sungguhan dan bagi harta gono gini dengan adil"
"kamu dapat rumah dan mobil, ini surat suratnya" indra meletakan map bersampul kuning diatas meja depan ambar.
ambar meraih map itu dan membacanya, matanya hampir keluar saat membaca kata demi kata yang ada di sana.
"dan ini, surat rumah dan mobil" indra kembali menyerahkan map bersampul hijau.
"mulai bulan ini aku stop mengirim uang untuk mu, karena kamu bukan tanggung jawab ku lagi. kita bukan suami istri lagi secara hukum dan hari ini aku menalak tiga dirimu sebagai istri ku. mulai detik ini ambarwati kamu bukan lagi halal untuk ku"
indra bangkit dan meninggalkan ambar begitu saja, dia menuju ruang tamu untuk melihat keadaan okta.
"apa perlu ke dokter?" tanya indra saat dia sudah duduk di samping okta dan merengkuh tubuh kekasihnya untuk masuk kedalam pelukannya.
__ADS_1
okta hanya menggelengkan kepala dan membenamkan wajahnya di dada indra. tanpa aba aba, ambar datang dan menarik rambut okta begitu saja. sontak semua kaget dengan aksi ambar yang tiba tiba itu, puji rima dan okta menjerit bersamaan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=