
mau hati resah gelisah tapi rutinitas setiap hari harus tetap di lakoni, apalagi kalau sudah memiliki tanggung jawab.
pembahasan mengenai perjodohan tak pernah terdengar dari mulut kedua orang tuanya membuat rima melupakan hal itu beberapa bulan ini, mungkin karena kesibukan semua orang. mulai indra menikah penculikan aira sampai ambar yang akhirnya menghabiskan waktu di dalam jeruji besi.
dimas menguap entah kemana dari hati rima, semua berjalan seperti air mengalir. tak rima sadari ia melupakan segala perih yang dulu begitu mengganjal dalam nadinya.
deg
seminggu tak bertemu membuat jantung rima berdetak lebih cepat dari biasanya dia merasa begitu gugup sekaligus senang karena akhirnya bisa bertemu bagas lagi. tapi siapa wanita yang bersama bagas? kenapa mereka akrab sekali? sepertinya mereka memiliki hubungan spesial.
awalnya rima merasa senang seketika wajahnya begitu murung, sepulang kerja dia sengaja mampir ke kafe dekat kantor untuk membeli cake untuk kudapan malam karena rencananya ia akan maraton film korea di malam minggu ini.
bagas yang tak menyadari kehadiran rima tetap asyik mengobrol dengan teman wanitanya, obrolan ringan namun terus berlanjut membuat bagas betah berlama lama mengobrol dengan mita teman yang tak sengaja ia kenal saat mereka sama sama mengantri untuk membayar makan siang di sebuah restoran. karena merasa nyaman bagas tak menolak ajakan mita untuk menghabiskan malam minggu bersama.
rima memutuskan untuk duduk dan memesan cake serta es kopi ia penasaran ada hubungan apa bagas wanita itu. kenapa berdenyut nyeri begini ya dada ku pikir rima, kok aku sedih lihat mas bagas sama cewek lain.
"gas, habis ini kamu mau kemana?" tanya mita
"pulang, aku agak capek akhir akhir ini kerjaan ku lumayan banyak banget"
"hmm, padahal aku pengen ajak kamu mampir ke rumah buat kenalan sama orang tua ku"
deg semakin terasa nyeri dada rima sekarang, obrolan bagas dan tan wanitanya begitu terdengar jelas di telinga rima. apa katanya kenalan sama orang tua berarti mereka punya hubungan kan terus ngapain mas bagas bilang suka sama aku cium aku. emang dasar kodok ngorek buaya darat sama aja kayak cowok lain suka tebar racun.
__ADS_1
brak
tanpa sadar rima menggebrak meja dan pergi begitu saja dari kafe itu. bagas yang duduk membelakangi rima sontak terkejut dan menoleh kearah bekalang dan hanya mendapati punggung rima yang mulai menjauh.
kok kayak kenal baju itu ya? tapi bagas mengacuhkannya.
.
.
menangis lagi, menangis untuk sebuah perasaan yang kembali terluka.
"kenapa aku harus nangis?" rutuk rima sambil membanting stir mobilnya.
"mas dimas udah bahagia sama anaknya walau akhirnya cerai sama bela sekarang mas bagas juga udah punya calon. aku mau sampai kapan terus sakit hati karena cowok? apa aku ga usah nikah dan nanti adopsi anak yang banyak aja dari panti, daripada terus ngerasain sakit kayak gini" rima mengusap kebasahan di pipinya sambil terus mengoceh.
wajah kusut rima tak lepas dari perhatian puji dan heru bahkan indra pun menyadari itu.
"kenapa?" tanya indra saat mereka sudah selesai makan malam bersama.
"ha?" rima bingung karena kini ketiga orang tuanya sedang menatap penuh selidik.
huft dengan nafas berat rima menceritakan pada mereka tentang yang dilihatnya saat pulang kantor tadi.
__ADS_1
"jadi kamu suka sama bagas?" tanya puji tiba tiba.
"ga tau, tapi ga usah jodohkan aku sama dia ya. dia sudah punya pacar aku ga mau" jelas rima mantab walau dalam hati ia sedikit tak rela.
"hmm, kalau memang bagas sudah ada calon ya sudah kita batalkan saja her rencana perjodohannya"
"kamu mau di jodohkan lagi atau cari sendiri rim?" pertanyaan indra langsung membuat wajah rima mendadak pias.
"ga tau, boleh aku belajar dulu di perusahaan? urusan jodoh nanti pasti ada sendiri kalau memang sudah waktunya"
"tapi usia mu sudah mau 26 nak" puji menyela perkataan rima.
rima mengangguk, ia tau usianya sudah sangat matang untuk menikah tapi kalau menikah malah menjerumuskan keluarganya untuk apa pikir rima.
"ma, sekarang kita hanya berempat. aku yang punya tanggung jawab merawat kalian bertiga, aku ingin mendapat pendamping yang benar bisa dipercaya. aku ga mau kalian menderita karena aku salah pilih pendamping, usiaku memang sudah pantas menikah tapi aku merasa harus bisa terjun dulu di perusahaan" jelas rima.
dengan berat hati ketiganya menerima keputusan rima, bahkan rima juga menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan lagi agar lebih percaya diri untuk mengelola perusahaan keluarga mereka. rima tau, indra akan segera berpisah dengan okta jadi rima merasa harus memasukkan indra pada daftar terdepan dalam hidupnya sama dengan kedua orang tuanya.
.
.
kenapa perasaan ku ga tenang gini ya? bagas masih terjaga padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam tapi matanya tetap enggan terpejam bahkan hatinya begitu gelisah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=