
adegan saling peluk sampai penyampaian perasaan secara tiba tiba terlupakan begitu saja oleh rima, mungkin karena rasa takutnya sehingga dia lupa memberi respon atas semua tentang bagas ditambah pertemuannya dengan dimas yang mampu membuat harinya kelabu beberapa hari ini.
"hampir tiga hari ga ketemu mas bagas kok sekalinya ketemu dia dingin dan cuek banget ya? nyapa juga ga, tumben banget biasanya dia bakal bengong atau ngelakuin hal konyol" pikir rima saat bersamaan dengan bagas keluar dari dalam kotak besi. selama ini rima memang selalu bersikap datar tapi bukan berarti dia tak memperhatikan sekelilingnya termasuk sikap bagas selama ini. rima selalu menepis kemungkinan bagas tertarik pada dirinya, karena sampai saat ini rima masih ingin tetap sendiri.
tak ingin mempermasalahkan sikap bagas pagi ini, rima langsung memulai setumpuk pekerjaan yang sudah menanti dirinya ditemani kopi yang di bawanya dari rumah dan sepotong cake keju kesukaan headset terpasang di telinga rima mulai menggoyangkan kepala mengikuti alur lagu yang di putar dari HP.
" ck kayak ga ada beban banget tu anak" decak bagas saat tak sengaja melihat rima dari dalam ruangannya.
"gue mati matian nahan sakit hati eh dia santai banget, aaarrrrrgghhhh" bagas menjerit keras karena merasa semakin frustasi dengan perasaannya.
brak
pintu ruangan bagas seketika terbuka dengan keras.
"pak bagas" semua anak divisi keuangan berbondong bondong berkumpul didepan pintu.
"kalian ngapain?" tanya bagas bingung.
"bapak kenapa? tadi suaranya keras banget? bapak jatuh?" tanya andi karyawan senior.
"eh" bagas masih tak mengerti.
"saya ga jatuh kok"
"tapi tadi bapak menjerit keras sekali loh" jawab yang lain.
"sudah kembali lagi ke meja kalian, saya ga apa" bagas memasang wajah datarnya.
dengan wajah bingung semua karyawan kembali ke meja masing masing, pasalnya bila bagas sudah memberi perintah maka mereka tak akan berani membantah.
rima yang tak mengetahui apa apa, segera keruangan bagas untuk menyerahkan pekerjaannya yang baru saja selesai. rima menoleh karena mendengar bisik bisik dari rekan di sebrang mejanya.
__ADS_1
"mba, ada apa? kok bisik bisik?" tanya rima.
"his, kamu ini rim. kebiasaan, pasti ga denger ya tadi"
"mana dia denger kalau kerja pasti dengerin lagu dia mah"
"rima selalu jadi yang paling belakang kalau tau info hits"
"ada apa sih?" rima mendekat.
"pak bagas tadi menjerit keras banget kita keroyokan ke ruangannya kirain dia jatuh eh malah kita di usir"
"lagi latihan vokal kali dia" jawab rima cuek karena dia pikir ada berita penting apa ternyata hanya perkara bagas menjerit satu ruangan saling berbisik, tak ada yang aneh menurut rima akan hal itu.
"eh kamu mau kemana?" tanya andi saat melihat rima sudah berdiri di depan pintu ruangan bagas.
"ya mau ke pak bagas lah mas, ini udah selesai" jawab rima sambil mengangkat map yang akan ia berikan pada bagas untuk di periksa.
tok tok tok
"masuk"
"permisi pak" rima masuk dan menyerahkan map di depan bagas.
"boleh duduk pak?"
"hmm, saya periksa dulu"
rima mengedarkan pandangannya pada ruangan bagas terlihat bersih dan rapih tak banyak barang dan berbau harum dedaunan.
"sejuk tenang nyaman"
__ADS_1
bagas menoleh saat mendengar gumaman suara rima. dilihatnya rima menarik napas sambil memejamkan mata, seolah dia sedang menikmati sesuatu yang membuatnya nyaman.
"kamu kenapa?" suara bagas tiba tiba mengagetkan rima.
"eh, hmm ga apa pak. ruangan bapak baunya seger bau pohon daun daun gitu, bikin nyaman saya jadi tenang dan ngantuk hehe" ucap rima jujur.
ini apa sih maksudnya, di deketin malah cuek giliran gue ngejauh dia tanpa dosa mepet begini. jadi dilema gue kayak gini rutuk bagas dalam hati.
"pak, sudah selesai?" rima membuyarkan lamunan bagas.
"ck, kamu kenapa sih?" suara bagas terdengar berat.
"maksudnya pak?"
"saya ngejauh kamu malah begini?"
"loh, pak" rima tampak bingung.
"ini sudah selesai, sudah saya tanda tangani kamu boleh keluar"
"bapak ngusir saya?" suara rima nampak bergetar.
"kamu kesini mau saya meriksa kerjaan kamu kan? ini sudah selesai sekarang kamu boleh kembali bekerja"
"baik pak, permisi" rima langsung keluar dari ruangan bagas.
brak
rima membanting berkas di atas meja, dia kesal karena tanpa sebab bagas seolah mengusir dirinya. untungnya tak ada lagi orang di ruangan itu karena sudah memasuki jam istirahat, pasti semua sudah berpencar untuk mencari makan siang. rima mendudukkan pantatnya di kursi sambil menyangga kepalanya di atas meja.
kenapa aku harus kesel gini sih? ga ada apa apa juga. eh apa jangan jangan mas bagas berubah gitu karena yang dia omongin di kamar waktu ya. rima mendadak mengingat saat bagas mengutarakan perasaannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=