kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
sandiwara


__ADS_3

perut bela sudah sangat besar, ruang geraknya saat ini sangat terbatas. ia akan cepat merasa lelah dan kakinya semakin membengkak, dimas yang melihat itu sering membantu bela meringankan beban sang istri. walau masih ada rasa kesal tapi dimas berusaha bersikap baik pada ibu dari calon anaknya.


"ayo sini bel, rendam air garam dulu kakinya biar sedikit hilang pegalnya"


bela mendekat dan duduk di sofa kamar mereka.


"makasih ya mas" bela berucap tulus, dia juga merasakan kalau sekarang dimas lebih perhatian pada dirinya.


dua minggu terakhir bela mulai mencoba bersikap baik dan terlihat mau memperbaiki dirinya. dia juga sempat mengobrol dengan kedua orang tua dimas, menyampaikan keinginannya.


"ayah ibu, maafkan bela. bela ingin mulai memperbaiki diri walau sudah terlambat tapi bela ga mau nanti dipisahkan dengan anak bela" dengan berurai air mata bela memohon maaf pada kedua mertuanya.


saat ia keluar kamar hendak mengambil air minum orang tua dimas masih berada di ruang makan, kesempatan ini digunakan bela untuk menarik simpati mertuanya.


orang tua dimas sempat tertegun mendengar permintaan maaf bela, tapi hati kecil seorang ibu tak bisa dibohongi ia tau kalau saat ini bela sedang bersandiwara.


sebelum menjawab permintaan maaf bela ayah dimas membuang napas kasar ia juga tak percaya dengan yang disampaikan istri putranya ini.


"iya, semoga kami benar-benar berubah bel. semoga kamu benar-benar ingin menjadi ibu dan istri yang baik untuk saya" hanya itu yang diucapkan dan mereka kembali diam.

__ADS_1


semenjak malam itu, bela melanjutkan sandiwaranya dengan terus bersikap manis di depan semua orang. tak ada yang berkomentar akan perubahan yang bela tunjukkan tapi mereka tetap merasa bela tak bersungguh-sungguh.


sekarang waktunya baikin mas dimas, kalau dia udah nerima aku pasti bakalan gampang buat ngatur semuanya. walaupun cuma jaga toko tapi kalau semua toko ayahnya dia yang kelola duitnya pasti juga bakalan banyak. aku mesti banyak sabar dulu sekarang, harus pura-pura lugu baik dan terus merasa menyesal dan ingin berubah.


"mas"


"ya, kamu butuh sesuatu lagi" saat dimas keluar dari kamar mandi membuang air rendaman kaki bela.


"aku pengen ngomong sama kamu"


"apa" dimas duduk disebelah istrinya.


hanya dengusan nafas kasar yang keluar dari dimas.


"mas, aku ingin kita mencoba hubungan ini. makin kesini, aku ga bisa kalau harus jauh sama anak ku dan kamu. aku masih tetap cinta sama kamu mas, aku aku bener-bener nyesel. aku pengen kita coba"


"aku ga tau harus gimana, jujur semua yang aku lakuin ke kamu hanya untuk bikin anak di dalam perut kami nyaman dan tau aku ayahnya disini satang sama dia"


"apa ga bisa lebih dari itu mas? aku sayang kamu"

__ADS_1


"jalani saja, kalau memang harus terus begini ya sudah. aku tak mau menjanjikan apapun pada mu bel, kami tau kan aku tak pernah mencintaimu. hati ku masih milik rima sampai saat ini"


"tapi rima sudah ga mungkin mau sama kamu mas" bela mulai menangis berharap dimas akan luluh.


"sudah, jangan pikirkan hal-hal berat sebentar lagi kamu lahiran, fokus untuk itu saja dulu"


dimas bangkit ingin keluar kamar.


"mas aku ingin belanja baju bayi" pinta bela pada dimas.


"aku sudah minta ibu yang siapkan semuanya, kamu tenang saja. lamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk melahirkan"


dimas berlalu begitu saja belum sempat bela bicara lagi.


hiss apa-apa semua ibu nya yang siapin, aku juga pengen belanja barang-barang bayi ini. kenapa kamu ada tapi ga juga bikin papa mu cinta sama mama sih, kayak gini percuma juga kamu ada.


selalu saja bela mengeluh, dan menyalahkan kehamilannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2