
"bagas minta izin buat jadiin rima pacarnya kak"
"ya kasih aja" dengan santai indra menjawab.
"gampang amat kalau ngomong"
"bagas bisa di percaya, kalau dia jadi mantu kita perusahaan aman. ada yang urus kalau nanti kita udah mati"
"mikir mati, cucu aja kita belum punya" bentak heru.
"her, kamu mending cuma tinggal nyari mantu sama cucu. aku anak aja belum punya, harapan ku juga ada sama rima. kalau kamu izinin emang bagas kandidat yang pas untuk jadi mantu kita" indra bicara sangat serius pada adiknya.
"kakak yakin? ini bagas asisten kamu"
"iya" indra mengangguk mantap.
"hmm, pasrah deh"
"ya sudah, bilang iya ke bagas. nanti biar dia yang urus, syukur syukur rima mau kan?"
"iya juga, kenapa aku pusing. belum tentu juga anak ku mau sama bagas" beo heru.
"kamu juga trauma her?"
"sedikit, kalau inget kondisi rima kemarin aku belum siap rasanya. takut dia patah hati lagi, aku takut bagas bikin rima kecewa atau apapun itu yang bisa bikin rima sakit"
ternyata sebagai seorang ayah, heru juga merasa trauma atas kemalangan yang menimpa putrinya. walau tak menunjukkan sikap trauma pada anak dan istrinya tali dalam hati heru juga merasa takut dan belum siap bila putrinya akan mengalami hal menyakitkan lagi.
"ga semua laki laki akan nyakitin rima"
apa yang kak indra bilang ada benarnya, mungkin saja bagas bisa jaga rima bisa sayang sama rima. kalau dia mau macam macam juga kak indra pasti ga tinggal diam kan, pikir heru.
"kita lihat aja kalau gitu, bagas serius atau cuma sekedar naksir aja sama rima"
__ADS_1
"lima tahun bagas ikut aku baru kali ini dia kayak gini, ga konsen dan berantakan. kayaknya sih beneran serius, dia ini korban patah hati juga her"
"hah korban patah hati gimana?" jiwa kepo heru tiba tiba muncul.
"pas masih kuliah punya pacar terus pacarnya selingkuh sama sepupunya bagas mereka nikah karena hamil duluan, itu sih yang bagas ceritain ke aku"
"hampir sama kayak rima, ada kesamaan cerita dalam kisah percintaan mereka. kalau jodoh bisa jadi bakal saling menjaga karena kan mereka tau rasanya di khianati"
ceklek
"papa ngapain disini? aku cari di ruangan papa ga ada, di telpon ga diangkat" rima datang langsung memberondong ayahnya dengan banyak pertanyaan.
"ngegosip" jawab indra singkat.
"bapak bapak bisa ngegosip? mana bapak bapak berdasi lagi" cekikik rima.
"bisalah, apalagi ini menyangkut masa depan seorang gadis"
"eh eh eh, apa apaan kamu" jawab heru panik.
bhaahaahaaaa indra tertawa keras melihat kepanikan adiknya karena kesalahpahaman sang putri.
"kak"
"om" bentak ayah dan anak bersamaan.
"rim, kamu om jodohin mau ga?"
"semenjak deket sama tante okta selera humor om indra jadi garing" ketus rima.
"om seriusan"
"ga, om aja dulu nikah sana tante okta"
__ADS_1
"minggu depan om nikah, hahaha ada yang bakal urusin om setelah ini. eh iya duluan ya, ada janji di mall sama okta. bye"
heru dan rima yang ditinggalkan begitu saja oleh indra hanya melongo.
"ga ada akhlak" kompak lagi ni bapak sama anaknya.
"ayo pulang pa" rima masih saja ketus.
"papa ga punya anak lain selain kamu, jangan ngarang nanti depan mama. tadi itu papa bahas kamu sama om indra" lebih baik jujur dari pada nanti dirumah puji meledakkan bom atom pikirnya.
rima langsung berbalik menghadap kearah ayahnya
"jadi yang om indra bilang mau jodohin rima itu beneran pa?" teriak rima.
"ga dijodohin juga, cuma ya pengen kamu deket aja dulu"
ternyata ada yang mendengar teriakan rima saat berbicara dengan heru di depan ruangan indra siapa lagi kalau bukan bagas. bagas langsung diam mematung saat mendengar kalau rima akan dijodohkan oleh indra.
"apa pak heru bilang ke pak indra kalau gue minta izin buat deketin rima ya?"
"rima sampai mau dijodohin segala gegara gue naksir sama dia"
"baru juga jatuh cinta lagi udah ditolak camer gue"
"anjirr sakit hati gue"
"tapi emang gue ga pantes sama anak bos pemilik perusahaan, gue nya aja yang kelewat berani"
bagas merasa hatinya di remas remas saat ini, cintanya langsung layu padahal belum sempat berkembang.
"mama, bagas gagal jatuh cinta" jerit bagas dalam hati".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1