
setelah susah payah memperbaiki mood akhirnya aku dan mas bagas bisa kembali mesra dan saling bercanda. setelah selesai makan ramen mas bagas mengajak ku untuk mencari camilan dan akhirnya kami menikmati gelato cake dan kopi panas, kami terus mengobrol menghabiskan waktu berdua. saat sedang asik mengobrol tiba tiba saja bela anak tante ambar mantan istri om indra menghampiri meja kami dan tanpa malu ia duduk didepan mas bagas. aku langsung keki melihat tingkah bela yang tak juga berubah selalu bersikap manis namun tersembunyi kelicikan dibalik senyumnya itu.
aku hanya menatap datar wajah tanpa dosa yang bela tunjukan didepan ku setelah 3tahun yang lalu dia dengan sangat mengkhianati ku. karena tak ada kata yang keluar dari mulut ku akhirnya mas bagas bicara pada bela.
"maaf, anda bisa mencari meja lain masih baja meja kosong" ucap mas bagas nampaknya ia merasa terganggu dengan kehadiran bela.
"kamu ga mau ngenalin dia ke aku rim? atau kamu kenalin aku ke dia deh" kata bela.
aku masih tetap diam tak menanggapi dirinya yang mulai akan berulah.
"hmm oke aku memperkenalkan diriku sendiri saja karena sepertinya saudara ku ini sedang sariawan. hai mas, nama ku bela aku sepupunya rima hmm lebihnya mantan sepupu ya karena mama ku sudah cerai sama papa indra" tanpa malu bela berkata seperti itu di depan mas bagas benar sudah putus urat malunya.
ku lirik mas bagas yang ternyata sedang menatap ku, aku hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan pertanyaan dari sorot matanya. iya mas dia bela anak tante ambar yang sudah mengkhianati ku begitu kira kira jawaban ku melalui anggukan itu.
"kalau sudah tidak ada yang ingin di sampaikan anda bisa pergi dari sini, karena saya masih ingin mengobrol dengan rima" lagi mas bagas mengusir bela secara halus.
"kami beneran ga mau ngenalin siapa cowok ini rim?" bela masih terus mencecar ku padahal sejak dia datang aku tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"saya bagas, calon suaminya rima dan saya bisa yakinkan kalau anda tak akan bisa menjebak saya seperti anda menjebak dimas karena saya bisa membuat anda menderita seperti ibu anda sekarang" aku tak menyangka mas bagas langsung mengancam bela dengan sangat sadis.
"owh kamu asistennya papa indra ternyata, aku ga pernah merhatiin kamu selama ini. tapi kok bisa sih rim kamu kepincut sama kacungnya papa? tapi lumayan sih badannya bagus mana ganteng lagi walau mulutnya pedes gini"
gila bener ni cewek ga ada kapoknya masih mau ngembat mas bagas apa dia batin ku merutuki mulut bela yang semakin kurang saja sekarang.
__ADS_1
rahang mas bagas semakin mengetat pertanda ia sudah mulai habis kesabaran.
"kamu tu rim emang ga bisa lihat yang bening dikit pasti langsung digaet eh tapi aku jadi mikir nih buat hmmm" bela tak melanjutkan perkataannya karena aku langsung bangkit dan berdiri didepannya. ku raih rahang bela dan mengangkat wajahnya.
"dengar bel, hanya dalam bayanganmu saja kalau kamu ingin merebut mas bagas dari ku. karena mulai hari ini aku akan membalas setiap perlakuan buruk mu, dan aku pastikan kamu tak akan pernah bisa meraih kebahagiaan untuk dirimu sendiri"
aku membiarkan bela dengan semua perbuatannya walau semua yang dia lakukan sampai menghancurkan aku sampai ke dasar terdalam dalam hidup ku, tak ada niat ku untuk meluapkan amarah padanya tapi entah kenapa kali aku tak bisa mengontrol diri.
"dan satu lagi, berkaca lah kamu bukan gadis lagi melainkan seorang ibu harusnya bersikaplah selayaknya seorang ibu jaga martabat mu jangan buat putrimu malu karena memiliki ibu seperti mu"
"ayo mas kita pergi" aku mengajak mas bagas pergi dari sana karena tak ingin lepas kontrol.
"dasar anak manja, kamu tak tau bagaimana jadi aku rim. kamu disayangi semua orang kamu dimanjakan dengan segala kemewahan bahkan papa indra yang sudah menjadi papa ku saja selalu mendahulukan mu walau mama sudah melarang dia akan tetap bersembunyi untuk memberi segala kemewahan pada mu"
"kamu menikmati segalanya, kamu memiliki segala sampai pria yang aku cintai pun memilih mu dan tak pernah mau menatap kearah ku sampai ku jebak dia tetap saja dia tak mau menganggap ku ada" bela menjerit suaranya keras air matanya sudah menetes. aku merasa menjadi orang jahat saat ini padahal akulah yang dia sakiti.
"jangan memutar balikan fakta" sentak mas bagas.
"kami tau apa?" bela semakin menjadi, dia mendekat kearah ku.
"kamu bahagia melihat ku seperti sekarang kan rim?"
"semuanya karena ulah mu" kata ku.
__ADS_1
"aku begini karena mu" bentak bela.
aku hanya menggeleng tak menjawab perkataan bela.
"kenapa diam, kamu selalu senang aku disisihkan di nomor duakan"
aku memutar pandangan dan semua orang sedang berkasak kusuk membicarakan kami bahkan ada yang merekam perdebatan ini.
"ayo pulang mas"
aku tak mau terus berada disini karena akan semakin membuat heboh nantinya.
"rima kurang ajar, kamu anak manja yang selalu mengandalkan kekayaan milik orang tua mu dasar anak manja yang lemah"
plak
secepat kilat aku sudah menampar pipi bela karena jengah terus dihina didepan umum begini aku merasa harga diriku di injak injak.
"dengar bel, aku menikmati milik orang tua ku yang memang mereka berikan untuk ku dan kamu harusnya kamu bisa bersyukur atas hidup mu karena kemurahan hati om indra selama ini. jangan terus memutar balikkan fakta, aku tak akan takut walaupun orang bersimpati padamu dan menyalahkan ku itu semua bukan urusan ku. dan ingat aku berterimakasih padamu karena kamu sudah merebut dimas dariku sekarang nikmati karma mu"
aku melenggang dari cafe itu tanpa menghiraukan tatapan orang orang terhadap ku.
setelah ini pasti viral, dan om indra akan segera pulang jadi mas bagas tak akan terlalu sibuk lagi. entah kenapa aku malah merasa senang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=