kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
bukan pernikahan impian


__ADS_3

menikah dengan orang terkasih dan bisa mewujudkan pernikahan impian adalah keinginan setiap orang. pesta meriah dengan dekorasi yang indah hiburan dan tamu undangan yang ikut memeriahkan acara serta acara bulan madu setelah menikah adalah acara wajib bagi pengantin baru. tapi tidak dengan pasangan yang sedang berada di sebuah kamar.


"ini bukan pernikahan yang aku impikan mas, aku ingin diadakan pesta meriah seperti pesta yang kamu dan rima sudah siapkan" bela membentak suaminya


dimas berbalik menatap nyalang kearah wanita yang baru saja dia nikahi di kantor KUA.


"aku ga cinta sama kamu bel, buat apa bikin pesta? perut sudah buncit begitu. aku sayang anak ku tapi ga ke kamu!"


bela dan dimas tetap menikah dan hanya melakukan ijab kobul di kantor KUA pagi tadi, bela pun berhias sangat sederhana karena tak ada yang menyiapkan MUA dan baju pengantin untuknya. sejak subuh bela tersungut-sungut saat ada orang salon suruhan dimas datang kerumahnya untuk merias bela dan membawakan kebaya putih sederhana.


sementara ambar hanya diam saja melihat penampilan sang putri, ia sudah berusaha menelpon semua MUA kenalannya tapi tak ada yang bisa datang untuk meriah bela pagi itu. akhirnya mereka hanya bisa pasrah.


"tapi kamu sudah dapat enaknya mas, aku kasih kamu keperawanan ku"


"kamu yang jebak aku, kamu nyodirin tubuh mu jadi bukan salah ku" kebencian dimas pada bela sudah mendarah daging jadi hanya sikap kasar yang bela peroleh dari dimah.


"kamu suka tapi mas buktinya kamu nambah waktu itu sampai kita ketauan sama rima"


"kamu juga menikmatinya, dasar ******" dimas langsung mencengkram dagu bela


"kamu bahas hal itu lagi atau jangan jangan sekarang kamu lagi gatel pengen ngerasain kayak waktu itu. iya"


"mas sakit" air mata bela sudah keluar karena cengkraman dimas di dagunya lumayan kuat.


lalu entah kapan dimas memulai, tangan kirinya sudah meremas dada bela dengan kasar. tak ada kelembutan dari perlakuan dimas pada bela, semua tumpahan kebencian yang bela rasakan. dia tersiksa batin karena dimas tak mau menerimanya dan sekarang dia harus merasakan siksaan fisik. dimas menggagahinya dengan brutal tanpa perasaan.


setelah mendapat pelepasannya dimas bangkit dari atas tubuh bela dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


dimas pergi begitu saja meninggalkan bela seorang diri di dalam kamar tanpa sepatah katapun.


tok tok tok


suara ketukan pintu menyadarkan bela dari lamunannya


"ayo makan siang dulu, lalu minum vitamin. jangan sampai cucu saya kekurangan gizi" saat pintu terbuka bela sudah mendengar ocehan ibu dari suaminya


"iya bu" bela menyahut dan mengikuti sang mertua


saat dimeja makan hanya ada bela dan dan ibu mertuanya. ayah mertua dan suaminya pergi ke toko


"selama hamil kamu hanya perlu beristirahat menjaga cucu saya. nanti setelah lahiran baru saya beri tugas rumah, saya ga mau cucu saya kenapa kenapa"


lagi lagi mertuanya ini berbicara dengan ketus dan menyakiti hatinya.


"bela mau ke rumah mama, bu"


"terus anak bela?"


"ya disini sama dimas kan dimas ayahnya"


"ga usah drama bel, kamu menjebak dimas makanya bisa hamil dan tujuan kamu mendekati dimas bukan hanya karena cinta juga cuma mau hidup enak seperti ibu mu itu kan" skak mat, tebakan mertuanya kali ini benar 100% bela tak bisa berkilah.


belum satu hari menikah bela sudah berkali kali merasakan hatinya sakit diperlakukan dingin oleh semua orang yang tinggal di rumah dimas.


sudah menikah dan menjadi pengantin baru nyatanya tak membuat dimas bahagia. dia pergi ke salah satu toko yang sudah diserahkan padanya oleh sang ayah. dimas menjaga toko seperti biasa tak ada satupun karyawannya yang tau kalau bos mereka baru saja menikah pagi tadi. karena tak ada perayaan sama sekali yang dilakukan oleh keluarga dimas, semua sesuai keinginan dimas. tak mau buang buang uang itu alasan dimas, dia berpikir lebih baik uangnya ditabung untuk anaknya kelak. walau tak mencintai bela dan menikah karena terpaksa tapi dia menyayangi dan menginginkan anak yang dikandung bela bagaimanapun itu adalah darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


"ma, jemput bela ma. bela ga mau tinggal dirumahnya mas dimas"


bela terus merengek pada sang ibu. sudah sejak tadi dia minta jemput dan mengeluh tak betah tapi ambar tak menggubris keluhan putrinya.


"mama denger aku ga sih? dari tadi diem aja ga jawab aku ngomong"


"kamu diem bisa ga sih bel, mama pusing ini" ambar membentak


"mama kenapa sih? aku lagi kayak gini bukannya dibantu, papa juga kenapa nyuekin aku coba? aku telpon di tolak terus makin pusing aku jadinya"


"ck sudah kamu di rumah mertua mu saja dulu bel, mama lagi pusing sekarang kamu ga usah ganggu dulu" ambar langsung mematikan telpon bela menjawab.


argh, bela menjerit dia benci kehidupannya sekarang bukan ini yang dia inginkan dari menjebak dimas untuk menidurinya.


"kenapa jadi begini sih? sudah hamil begini mas dimas ga juga perduli sama aku, nikah cuma di KUA padahal sama rima kemarin persiapannya heboh banget. kalau kayak gini aku nyesel udah hamil anaknya"


bela terus menggerutu sepanjang hari sampai lelah dan tertidur.


sementara di dapur para art sedang membicarakan bela menantu baru di rumah sang majikan.


"mantu anyar kok tura turu ae to mbok ya?"


"hamil muda biasa lemes mual paling" saut mbok pimah


"tapi ibu juga ga perduli sama mantunya tadi aku denger pas mereka makan mantunya di ancam terus sama ibu"


"ya biar ga berulah to ti, kamu tau sendiri kan"

__ADS_1


"sudah beres ayo kebelakang nanti pas sudah jam makan malam baru kita siapin dimeja"


dimas orang tuanya kakak kakak dimas bahkan semua pekerja dirumah dimas tak ada satupun yang menganggap keberadaan bela disana. semua orang diam tak menunjukan kebencian walau mereka sangat tidak ingin melihat bela disana.


__ADS_2