kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
pov bagas


__ADS_3

"menikahlah secepatnya gas" perkataan itu ku dengar dari seberang saluran telpon ku. pak heru menelpon ku di minggu pagi setelah kejadian kemarin siang di mall. dua video langsung viral karena di tempat yang sama rima ribut dengan dua wanita berbeda. sungguh kemarin menjadi kencan terburuk untuk kami, susah payah kami memperbaiki mood malah kembali hancur karena ulah anak bu ambar mantan istri pak indra.


"baik pak, saya akan bicarakan dulu dengan rima apakah sudah siap untuk menikah dengan saya" aku menjawab sesopan mungkin padahal dalam hati aku sudah bersorak gembira karena langsung mendapat perintah untuk menikahi rima apalagi ayah kekasih ku lah yang meminta kami untuk segera menikah.


tut tut tut


panggilan telpon berakhir dan langsung disambung panggilan dari atasan ku sendiri pak indra.


"bisa kamu jelaskan gas?" todongnya langsung saat aku baru menerima panggilan darinya.


"seperti yang tersebar di video pak" aku menjawab seadanya.


"kenapa juga kalian harus berkencan ke mall, kenapa ga ke villa saja" sungutnya.


"kan belum halal pak, bapak tau saya ini pria dewasa takut khilaf yang berujung nikmat" aku sangat sopan pada pak indra tapi kami sudah biasa bercanda.


"ah iya juga yang ada nanti keponakan saya kamu makan"


"sudah saya akan kembali nanti malam, gara gara video itu saya harus kembali kerja secepat ini gas. banyak sekali telpon masuk ke saya dan heru kami berdua pusing"


"baik pak"


"kenapa baik? sepertinya kejadian ini menjadi berkah ya untuk kalian bertiga" sungut pak indra lagi.


"begitulah pak, bapak berlibur kami sibuk sungguh pusing pak" jelas ku tanpa takut.


"haiss kamu ini, ya sudah"

__ADS_1


tut tut tut


kembali panggilan berakhir dan aku langsung bersiap untuk kerumah rima karena aku yakin rima pasti sedang diterpa rasa panik karena hanya dalam semalam dua video sudah viral di media sosial.


"jelasin sama ibu gas" saat keluar kamar aku langsung ditodong oleh ibu.


"ck ah, nanti saja ya bu aku harus pergi sekarang"


"gas" panggilan ibu melengking tanda ia tak ingin dibantah. oke baiklah


"anaknya pak heru bu, kami pacaran hmm hampir 5bulan lahm video pertama cuma perempuan yang obses aja sama aku perempuan kedua anak mantan istrinya pak indra yang udah rebut calon suaminya rima" aku menjelaskan secara singkat karena bila harus ku ceritakan secara detail akan memakan waktu yang lama.


"kamu serius gas? kita ini berbeda dengan mereka" ku lihat ibu menundukkan pandangan terlihat wajahnya sendu.


"semoga saja kami berjodoh bu, semoga saja pak indra pak heru dan keluarga mau menerima kita yang tak ada apa apanya ini" aku merengkuh tubuh ringkihnya hanya dia dan adik adik lah penyemangat ku selama ini.


aku melesat, menginjak gas menuju rumah rima dengan segudang kekhawatiran di dada. karena sejak melihat video itu rima tak kunjung mengangkat telpon ku.


"mbok" panggil ku saat sampai dirumah rima yang terlihat sepi.


"iya" jawab wanita baya yang sering di panggil si mbok.


"mas bagas, ayo masuk" dia selalu ramah pada ku bahkan sangat baik bila aku datang berkunjung kemari.


"rima kemana ya mbok?" tanya ku langsung.


"lagi main salon salonan sama siti di gazebo belakang" haaaah aku sampai melongo mendengar jawaban si mbok. main salon salonan katanya.

__ADS_1


"ayo mbok antar kebelakang, mas bagas mau minum apa?"


"hmm apa saja mbok" aku mengikuti langkah si mbok. ternyata halaman belakang rumah pak indra dan pak heru sudah disatukan.


aku bisa melihat rima sedang memakai masker wajah dan kepalanya sedang di pijat oleh salah satu art di rumahnya. aku menggelengkan kepala melihat betapa rima menikmati paginya sementara aku dan orangtuanya begitu panik memikirkan keadaanya.


"enak banget dipijit begitu" sindir ku saat berhasil duduk ditepian gazebo.


rima membuka kelopak matanya.


"mas ngapain disini?" haah ngapain katanya kelas rasanya melihat wajahnya yang begitu polos dengan bibir yang bertanya tanpa dosa.


"tadinya aku khawatir tapi kamu sepertinya baik baik aja"


"soal video?" tanya nya sambil membersihkan sisa masker di wajahnya.


"its oke, siti nemenin aku dari subuh jadi ga begitu setres malah aku seneng kalau om indra bakal pulang dan aku ga akan capek lagi ikut papa dan mas bagas kesana kemari nemuin klien" cengirnya tanpa dosa.


apa dia selelah itu selama ini mengikuti segala aktifitas kantor bersama ku dan ayahnya.


"jadi?" tanya ku.


"aku sengaja naruh HP di bawah bantal biar ga denger suara berisik takut gatel buka HP dan lihat berita" jelasnya tak nyambung.


"huh aku lapar" aku mendengus dan mauk kedalam rumah untuk mencari si mbok untuk meminta makan. rasanya perut ku lapar sekali karena meladeni tingkah rima yang super konyol. untung aja cinta pikir ku sambil tersenyum karena gemas dengan kepolosannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2