
kepanikan terjadi di ruang tamu itu, rima yang histeris karena takut langsung di dekap oleh bagas. sementara heru dan si pengacara langsung mengamankan ambar, orang di luar rumah juga masuk kedalam untuk melihat keributan yang terjadi. okta pingsan di pelukan indra, puji shock dan terduduk di sofa sementara rima gemetaran dan terus mendekap erat tubuh bagas.
"duh mimpi apa gue bisa meluk calon ayang, mana kenceng gini meluknya. disko jantung gue jedug jedug, hmm tenang gas tenang" ucap bagas dalam hati, niat hati ingin membatu melerai kebrutalan ambar tapi pelukan rima semakin erat saat ia ingin melepaskan diri.
"takut, aki takut" bisik rima dalam pelukan bagas.
bagas diam membisu, ia melirik ke arah heru karena merasa tak enak takut di sangka memanfaatkan keadaan.
"bawa rima ke kamarnya gas" perintah heru
"siti bawa air hangat ke kamar rima sekarang"
mereka bergegas melaksanakan perintah dari heru. sementara si mbok sudah memijat kaki okta dan membalur minyak kayu putih. puji yang shock hanya bisa terduduk di sofa tanpa melakukan apapun.
"sudah ga ada apa apa, lepas dulu pelukannya ya" bujuk bagas pada rima.
"takut"
"ini sudah dikamar sayang" bisik bagas di telinga rima hingga mengalirkan gelayar aneh karena hembusan nafas bagas.
rima yang seketika tersadar mendengar bagas memanggilnya sayang. begitu pelukan terlepas, bagas langsung meraih tangan rima.
"jangan kaget ya, aku emang sayang kamu. mungkin kamu bakal kaget tapi sejak kita ketemu pertama kali aku udah kayak orang bego. naksir kamu pas pertama liat, kalau aku di tolak ga apa tapi kalau bisa jangan di tolak ya" bagas tampak cengengesan sementara rima sangat kaget dengan ungkapan perasaan bagas yang secara tiba tiba ini.
"mas, aku mau ke toilet. mas bagas bisa keluar kan dari kamar ku" rima segera bangkit dan bergegas ke kamar mandi.
huh, positif ditolak ini mah pikir bagas. bagas keluar dan menuju ruang tamu ternyata okta baru saja sadar.
__ADS_1
"perlu saya telponkan dokter pak?"
"ga usah gas, saya ga apa" jawab okta pelan.
"di minum dulu bu okta, biar agak segeran" bujuk si mbok sambil memberi teh hangat.
"rima mana?" tanya heru pada bagas.
"di kamarnya pak, sudah agak tenang makanya saya tinggal. bu puji ga apa pak?" bagas melihat puji yang duduk bengong di depan okta.
"ga, ga apa. ibu dan anak itu akan shock dan ketakutan kalau di depan mereka terjadi perlakuan anarkis seperti tadi, tapi ga akan lama mereka membaik kok" jelas heru.
"saya akan menjemput anak bu okta pak, sebaiknya bu okta menginap di sini dulu beberapa hari untuk berjaga jaga takutnya bu ambar akan datang lagi untuk melukai bu okta"
"ya sudah tolong sekalian kamu minta pada asisten rumah tangganya untuk menyiapkan baju ganti untuk beberapa hari gas" perintah indra.
"baik pak, saya permisi"
"non, bagaimana kondisinya?" bagas mengirimi pesan untuk rima.
hampir sepuluh menit tak mendapat balasan bagas kembali pengirim pesan.
"ini saya bagas non"
tak sampai lima menit pesan bagas di balas.
"sudah baik mas, terimakasih. maaf tadi saya merepotkan mas bagas" balas rima formal.
__ADS_1
bagas tak membalas pesan dari rima, ia merasa rima tak memberi respon baik atas ungkapan perasaannya terbukti dengan balasan pesan yang rima kirimkan. bagas menghembuskan nafasnya berat.
"bukan jodoh gue, bapaknya ga ngasi restu anaknya juga nolak secara halus. fix, gue harus lupain cinta gue ke rima. gue hanya harus fokus kerja dan nyenengin keluarga aja, gue ga akan lagi mau jatuh cinta ke cewek mana pun" bagas bangkit dan mengantar putri okta ke rumah heru.
"terimakasih gas sudah mau jemput anak saya"
"sama sama bu okta, saya pamit pulang sudah malam" pamit bagas.
"makan malam di sini dulu gas" ajak puji.
"terimakasih bu, tapi saya sudah di tunggu ibu dirumah" tolak bagas.
"ibu gas? pacar atau istrimu yang tunggu?" tanya puji sambil meledek.
"ibu saya bu, permisi" bagas pamit, ia tak mau menoleh ke arah rima padahal rima sedang berdiri bersisian dengan ibunya.
"selamat tinggal cinta" gumam bagas dan pulang ke rumahnya.
----->
di rumah ambar.
semua barang ambar banting, rumah sudah seperti kapal pecah. bela yang mendengar keributan yang di buat ibunya hanya diam menonton. setelah sampai di rumah ambar menceritakan semuanya pada bela, dan bela hanya diam mendengarkan tak merespon apapun.
"mama gila kayaknya" bela pergi masuk ke kamarnya tak lagi menghiraukan kekacauan di ruang tamu.
"argh sialan, si indra merencanakan semuanya dengan rapih. bahkan tanda tangan ku pun dia dapatkan saat aku akan mencairkan deposito waktu itu. ternyata di berkas itu terselip surat surat untuk bercerai argh sialan kamu indra"
__ADS_1
ambar seperti orang kesetanan dia berteriak dan membanting semua barang yang ada di dekatnya.
"aarrgh, aku miskin sekarang. bagaimana aku harus hidup bagaimana" ambar terus berteriak.