kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
masa lalu biarlah berlalu


__ADS_3

hubungan asmara yang kian lengket ditambah semua pihak sudah merestui, bagas dan rima hanya tinggal menunggu tanggal yang sudah rima pilih untuk menjadi hari bahagia penyatuan cintanya dan bagas. minggu pagi, rima sudah berada diruang tamu kediaman bagas. rumah sederhana yang berhasil bagas beli untuk menjadi tempat tinggalnya bersama ibu dan kedua adiknya.


"ibu suka warna apa untuk acara lamarannya?" tanya rima pada calon mertuanya karena hari ini mereka akan menentukan warna yang akan keluarga bagas pakai di hari lamarannya dengan bagas.


"mba rima suka warna apa?" tanya adik kedua bagas.


"aku sih apa aja suka hehe" jawab rima sambil nyengir. karena rima bukanlah tipe perempuan yang ribet dan banyak tuntutan.


"tapi tadi mama pesen, untuk warna pas acara lamaran dan akad ibu yang pilih terus siraman dan resepsi mama yang pilih. biar adil katanya"


"apa saja nak, ibu ga begitu ngerti asal jangan yang terlalu mewah"


"iya bu, rima juga ga suka kalau terlalu ramai"


"din, kamu ada masukan ga untuk warnanya?"


"hmm, hanya masukan ya mba. lamaran pakai pink salem yang terang biar syahdu kan malam ya, terus siraman sama pengajian pakai hijau salem atau pupus aja kan siraman tu basah basahan biar seger gitu kalau hijau"


"hmm, boleh juga. gimana bu?"


"kamu gimana gas? dari tadi sibuk sama hape terus" ibu norma menegur putra sulungnya.


"ga apa bu, mas bagas lagi agak sibuk. kejar beresin kerjaan biar nanti deket hari H agak lega"


norma mengelus punggung tangan rima, ia bersyukur putranya membawa rima masuk kedalam keluarga mereka. sejak pertama kali bertemu norma langsung menyukai rima, pembawaannya yang santun dan tidak sombong menjadi nilai plus bagi norma.


"lakukan dan pilih sesuai keinginan mu nak. ibu akan mendukung apapun itu, asal kalian berdua bahagia"

__ADS_1


"makasih banyak bu, tapi rima ga mau sampai habis uang banyak" rima sudah berkali kali mengungkapkan keinginannya agar tak menghabiskan banyak biaya karena akan sangat mubasir membuang banyak uang hanya untuk sebuah acara pernikahan saja.


norma hanya memberi senyuman sebagai jawaban.


"pilih yang kamu mau sayang, kan aku sama papa udah bilang siap. uang ku ada kok" kembali pula bagas menekankan kalau ia sudah mempersiapkan segalanya.


rima menggelengkan kepalanya, ia tetap tak ingin membuat acara yang berlebihan.


"mama mba rima pilih warna apa untuk acara akad dan resepsi?" hal lain sudah deal norma dan puji bicarakan hanya tinggal persoalan warna seragam saja yang masih membuat mereka pusing.


"kalau akad pasti putih dan resepsi juga putih tapi campur rose gold sedikit" rima kembali nyengir karena memang kedua acara itu pasti memakai warna itu.


"hmm" jawab dini karena ia merasa gemas dengan rima.


"besok ibu ketemu mama mu lagi untuk nyicipi menu yang kemarin sudah dipilih. besok saja sekalian kita bahas masalah warna warna ini ya?" akhirnya norma memberi solusi.


"camilan" dinda adik bungsu bagas datang membawa minuman dan camilan untuk mereka.


assalamualaikum


ada suara seseorang yang mengucapkan salam, belum sempat ada yang menjawab salam itu. sesosok wanita muda seusia bagas masuk dan duduk didepan bagas karena bagas duduk dikarpet. norma dini dan dinda langsung memasang wajah terkejut atas kehadiran fatma yang langsung masuk dan duduk didepan bagas. bagas yangs edang fokus dengan ponselnya tak menghiraukan kehadiran fatma walau dari suara salam saja bagas sudah tau siapa yang datang.


"sayang aku mau sirupnya dong" ucap bagas sambil melihat kearah rima.


tangan rima dan fatma langsung mengambil gelas berisi minuman dingin dan memberikannya pada bagas. senyum mengembang di bibir fatma karena fatma mengira panggilan sayang itu di peruntukan untuk dirinya.


"makasih ya" ucap bagas saat ia mengambil gelas yang rima angsurkan didepannya. dahi fatma langsung mengernyit ia baru menyadari keberadaan rima disana.

__ADS_1


"dia siapa gas?" tanya fatma dengan wajah tak bersahabat.


"kenalkan, ini rima calon istriku" datar bagas menjawab.


"maksud mu apa gas? kamu selama ini diam saja saat aku datang dan mengajak mu untuk memulai semuanya dari awal"


"aku tak pernah mengiyakan toh waktu itu aku langsung pergi kan. jangan memperkeruh suasana, urus rumah tangga mu"


"kan aku sudah bilang akan cerai dengan saudaramu itu, harusnya kamu sabar dong gas. bukannya malah bawa calon istri begini" keluh fatma tak terima.


"fatma, tolong berhenti mengganggu hidup bagas. kamu yang memutuskan pergi dan jangan sesuka hatimu ingin kembali"


"mending mba fatma bantu kita kasih masukan untuk warna seragamnya" dini menimpali.


"kamu ga usah ikut ikutan din" bentak fatma.


"tolong yang sopan mba" tegur rima.


"siapa lo" teriak fatma pada rima.


bagas bangkit dan langsung menarik fatma.


"pergi dari sini dan jangan pernah datang jika kamu hanya ingin mengungkit yang sudah lalu. ingat masa lalu biarlah berlalu, karena aku dan kamu ga akan pernah ada cerita lagi"


bagas langsung menutup rapat pintu rumahnya saat sudah berhasil membawa fatma keluar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2