kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
rencana dimas


__ADS_3

menikahi bela hanya sebatas bertanggung jawab pada janin ku yang sedang tumbuh di rahim bela. walau dia ada karena aku tak sengaja tapi tetap saja dia anak kandung ku. mengetahui kehadirannya membuat rasa tanggung jawab ku sebagai seorang ayah hadir begitu saja.


jenis kelamin perempuan semakin membuat perasaan ku bahagia luar biasa, seperti dunia ini terang benderang. aku seperti sedang jatuh cinta pada gadis cantik setelah ibu ku.


aku sudah memberi tau orang tua ku saat ella lahir aku akan menceraikan bela karena tetap tak ada cinta ku untuk bela. hampir satu tahun tinggal di atap yang sama tak juga membuat ku memiliki perasaan padanya. malah semakin hari aku semakin kesal dengannya, dia selalu membuat ulah dan sering melakukan drama untuk hal hal sepele yang tak harus di besar besarkan.


orang tua ku menyerahkan segala keputusan pada ku, mereka ingin yang terbaik menurut keinginan ku. kondisi kesehatan ku yang terus naik turun di tabah mereka juga jengah dengan kelakuan bela selama ini.


"kasih sufor aja mas" bela terus menolak memberi asi pada putri kami. aku semakin hari semakin geram dengan bela.


"asi mu memangnya kenapa bel?"


"nanti payudara ku kendur kalau ngasi asi ke anak mu mas" bentak bela


"apa gunanya kamu kalau begitu bela? mengurus ella tak mau mengasihi juga tak mau. semua aku dan ibu yang mengurus, kamu hanya santai mengurus dirimu. ibu macam apa kamu ini" nada suara dimas mulai meninggi.

__ADS_1


"halah mas, masih hidup juga kok ella walau ga aku kasih asi. aku ga mau setres urus ella"


apa? dia bilang mengurus ella membuatnya setres? padahal sejak ella lahir ke dunia ini belum pernah sekalipun aku lihat bela mengurus keperluan ella. semua aku ibu dan orang rumah silih berganti mengurus ella. dengan begini aku semakin yakin untuk menceraikan wanita ini, dia tak menginginkan ella tapi dulu bilang ingin memperbaiki pernikahan kami dan merawat ella bersama dengan ku. dasar wanita ular, licik.


sebulan sudah usia ella putri ku, badannya semakin berisi. dia minim susu cukup kuat dan masih banyak tidur, untungnya ibu ku dengan penuh kasih mau merawat ella. jangan tanyakan kemana bela. dia masih bernapas tapi tak memiliki hati, kerja setiap hari hanya tidur-tiduran dan pergi entah kemana.


semakin geram rasanya melihat tingkah bela, aku putuskan untuk untuk mengumpulkan persyaratan mengajukan gugatan cerai. tak perduli lagi dengan resiko dan akibat yang harus aku terima yang jelas aku ingin melempar bela dari kehidupan secepat mungkin.


"bu, aku sudah kumpulkan berkas untuk ke pengadilan. tolong nanti ibu suruh ayah telpon pak karim ya"


"iya, aku capek. ibu liat sendiri boro-boro mengurus aku, sama ella saja dia ga perduli"


"nanti ibu ngomong ke ayah, tapi hak asuh ella harus kamu dapatkan dim. ibu ga mau ella di bawa sama bela, bukan apa-apa kita tau bagaimana bela"


aku hanya mengangguk, pikiran kemana-kemana. mulai sekarang aku harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk ella. mempersiapkan biaya untuk masa depannya, aku juga harus mencurahkan kasih sayang yang melimpah untuk ella.

__ADS_1


begini mahal yang harus aku bayar atas perbuatan ku mengecewakan rima, semenjak aku mengirimi pesan pada rima waktu itu. sudah tak pernah lagi aku melihat rima dikantornya, fokus ku juga sedikit teralihkan karena keberadaan ella sekarang. semakin semangat bekerja dan pulang cepat untuk bertemu putri kecil ku.


semoga suatu saat aku bisa mendapat maaf dari rima atas khilaf ku dulu, sampai detik ini aku masih sangat mencintai rima. dalam hati aku tetap menginginkan rima untuk menjadi milikku walaupun kecil kemungkinannya.


bagaimana keadaan mu sekarang rim? apakah aku bisa mendapat maaf mu? walau tak bisa bersama, aku ingin bisa terlepas dari rasa bersalah ku padamu.


aku memang salah sudah menyakiti mu, tapi itu semua diluar kendali ku. tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhianati cinta kita dengan menghadirkan ella dalam hidup ku sekarang.


"sayang, maafkan papa tak bisa mempertahankan mama mu. papa egois, tapi semua ini papa lakukan untuk masa depan kita. papa ingin menjalani hidup berdua, bersama ella saja tanpa mama. papa tak mau terus saling menyakiti dengan mama mu"


aku menyampaikan isi hati ku pada ella, aku tau ella belum mengerti tapi aku terus mengajak bayi kecil ku mengobrol. menceritakan kegiatan ku di toko atau hal-hal lain yang ku lakukan saat tak bersama dengannya.


ella sungguh menjadi pelipur lara ku, dia perlahan menyembuhkan luka hati ku. aku jadi lebih semangat menjaga kesehatan ku karena ingin merawat ella sampai ia dewasa.


"jadi anak baik ya nak, walau hanya dengan papa. papa mau kamu bisa tumbuh sehat, papa akan berusaha semampu papa untuk membahagiakan mu"

__ADS_1


__ADS_2