kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
random


__ADS_3

argh, kesel kesel pokoknya aku kesel umpat rima dalam hati.


"apa coba maksudnya ngerjain banget, dasar kodok ngorek" jerit rima didepan meja riasnya, saat ini rima sedang melakukan rutinitas malam dengan membersihkan wajah ayunya setelah tadi langsung mandi air dingin guna meredakan rasa kesalnya.


tok tok tok


"non" panggil si mbok.


"ya mbok masuk aja" jawab rima dari dalam.


"non" si mbok mendekat kearah rima.


"mau cemilan atau susu hangat?" ucap si mbok sambil membuka handuk kecil yang menutup kepala rima dengan cekatan si mbok menyisir rambut rima dan menyalakan hairdryer.


rima tersenyum menatap wanita tua yang sejak dia kecil sudah mengurusnya dengan penuh kasih sayang. walaupun ibunya tak bekerja tapi puji memiliki banyak kegiatan tak ayal rima sering bersama si mbok di rumah.


"jangan cemberut terus, nanti jodohnya jauh" ucap si mbok sambil menjawil hidung bangir rima sambil merapikan hairdryer dan sisir ke laci meja.


"bapak sama ibu ga ada maksud buat ngerjain non rima, mereka cuma mau non mulai hidup baru"


alis rima mengernyit ia tak mengerti maksud ucapan si mbok padanya.


"bapak sama ibu pak indra dan bu okta ingin mendekatkan non sama nak bagas"


hah dijodohin gitu maksudnya? sama kodok ngorek? aaaaaa tidaaak rima menjerit dalam hati. dengan keras rima menggelengkan kepalanya.


"mbok jangan ngaco" akhirnya rima memberi komentar.


"sudah dua tahun, sudah cukup non meresapi kegagalan kemarin. non harus cepat punya teman baru"


"tapi kenapa mas bagas? bahkan usianya saja jauh banget dari dimas mbok, tua" manja rima sambil memeluk tubuh renta si mbok.


"hehe dewasa non, masih gagah ganteng hitam manis. lebih cocok sama non rima"


"mbok" rima semakin menenggelamkan wajahnya pada perut si mbok.


"cah ayu" ucap si mbok.


"rima ga suka sama mas bagas mbok, nanti aja rima cari pacar sendiri. masih bisa kok mbok, bilang sama mama papa ga usah jodohkan rima dengan mas bagas"

__ADS_1


"kenapa dengan nak bagas?"


"dia, dia itu ......" hening rima tak memiliki alasan pasti kenapa ia menolak dijodohkan dengan bagas.


"mbok baru di suruh ngasi tau non aja sama bapak, nanti mereka yang akan ngomong lagi ke non. tapi mbok minta nanti jangan ngambek lagi ya?"


"cah ayu, jangan sedih jangan murung lagi. mbok sudah tua, mbok mau non bahagia"


"mbok jangan ngomong gitu"


---------->


"sensi amat anak mu ma, marah ga jelas kayak tadi papa dibikin bingung" ucap heru saat mereka sudah berada dalam kemacetan lalu lintas.


"kamu ngapain sih emangnya pa?"


"tadi papa nyuruh bagas jemput dia biar ikut makan malam sama klien. kliennya ga jd dateng, eh pas dia sama bagas sampe mukanya rima udah kusut kayak emosi gitu tapi karena papa udah keburu laper ga sempet nanya. terus pas selesai makan mama chat ngajak pergi ya makin lupa papa tanya di"


"mau datang bulan kali tu anak, makanya sampe salah paham gitu. kan ga biasanya juga dia ngambek ga jelas kayak tadi. udah biarin aja dulu dua hari paling normal lagi" jelas puji pada suaminya.


"hmm tapi ga di apa apain kan pa anakmu sama si bagas"


"bagas kan naksir rima kata mu pa"


"iya sih, tapi ga mungkin lah bagas macem macem. aku kenal dia"


"hmm" puji hanya berdehem menanggapi penjelasan suaminya.


"kak indra ......."


"mau jodohin rima sama bagas?" potong puji saat heru akan memberitahu rencana kakaknya pada sang istri.


"gimana?" tanya heru.


"okta udah cerita ke aku pa, aku ga tau mesti gimana. aku takut rima nanti kecewa lagi, walaupun sudah lewat dua tahun kejadian dimas itu tapi aku tetep takut" jelas puji panjang lebar.


"aku juga masih bingung tapi bagas memang bisa di pertimbangkan apalagi bagas memang tertarik sama rima apalagi dia termasuk kandidat yang pas sesuai sama alasan yang kan indra kasih tau kenapa harus dimas"


"dimas apa kabarnya ya pa?"

__ADS_1


"ayahnya sempet ngabarin kalau dimas udah cerai tapi emang kayaknya dia udah ga bakal deketin rima lagi"


"yakin?"


"eh, kamu masih mau dimas jadi mantu mu ma?"


"entah lah"


tin tin tin


klakson mobil diluar pagar menandakan heru dan puji sudah sampai di rumah. buru buru si mbok membuka pintu untuk majikannya.


"pak"


"rima mana mbok?" tanya puji.


"sudah tidur, habis saya keringkan rambutnya langsung tidur tadi"


"mbok sudah ngomong?" kali ini heru yang bertanya.


"sudah pak, tapi masih ngambek jadi ga tau mau atau nolak" ujar si mbok.


"menurut mbok gimana? saya khawatir rima nanti ........" ucap puji masih dalam kekhawatirannya.


"maaf bu, soal hati kita ga bisa paksa tapi nak bagas juga ya cocok kalau kata mbok"


"kan, mbok aja oke. udah besok kita kumpulin"


brug


heru memukul kakaknya dengan bantal.


"apalagi nongol disini?" sentak heru pada indra karena indra tiba tiba ada di dalam rumahnya.


"apa? mau minta di buatin jahe jeruk nipis anget sama mbok"


"nyesel aku kak, kemarin nyuruh kamu beli rumah disebelah"


"saya buatkan dulu pak indra, permisi" si mbok pamit ke dapur.

__ADS_1


"mbok saya juga sekalian ya" jerit heru


__ADS_2