
"maksud mu bagas direktur keuangan?" tanya heru ingin memastikan.
"iya pak, bagas yang itu" oh jadi bagas adalah direktur disini aku ga salah pilih mangsa udah ganteng jabatannya tinggi pula pasti cuannya banyak pikir mita. ayah dan anak ini mengembangkan senyum bahagia karena calon suami yang mita maksud memiliki jabatan yang lumayan bonafit.
sialan si bagas, mau nyakitin anak ku lagi apa dia? awas aja nanti ku hajar kalau sampai berani buat rima menangis geram heru namun hanya dalam hati saja.
"kalau kamu memang ga mau kasi sanksi atau sejenisnya aku minta untuk jauhkan mereka saja ndra, kasihan anak ku ia begitu mencintai calon suaminya itu" kembali wicaksono berbicara namun indra masih diam tak bergeming mendengar permintaan temannya itu.
apa calon suami katanya? bagas kamu benar benar cari mati kembali heru mengumpat dalam hati saat mendengar penuturan wicaksono.
"ini maksudnya apa kak?" heru menuntut penjelasan pada indra karena ia merasa pembahasan ini ada kaitannya dengan rima putrinya.
"mita ini mengaku calon istrinya bagas, tapi ya ga tau juga. kita tunggu saja bagas datang kita tanyakan yang sebenarnya pada bagas jangan dulu tersulut emosi her" indra mencoba memberi penjelasan singkat karena ia sudah melihat adiknya mulai terpancing emosi sama dengan dirinya.
setiap nama bagas di sebut dan akan datang keruangan indra senyum mengambang dari bibis mita ia sudah tak sabar ingin segera bertemu bagas dan menjadikan bagas sebagai miliknya seorang.
"kalau memang kamu calon istrinya bagas, telpon dia suruh kemari" perintah heru pada mita dengan suara dinginnya.
"ini siapa sih ndra kok kayak berkuasa aja, nyuruh nyuruh anak ku" wicaksono tampak tak terima.
"ini adik ku, pemilik perusahaan ini juga" indra mulai jengah dengan pria yang mengaku temannya ini.
wicaksono dan mita tampak salah tingkah namun mita tetap tak tau malu terus melancarkan aksinya menjelekan rima.
__ADS_1
"nah kebetulan om juga pemilik perusahaan ini, tentu ga mau kan reputasi perusahaan om hancur karena adanya pelakor disini. jadi saya minta tolong juga sama om untuk memberi sanksi keras pada karyawan om yang sudah merebut bagas dari saya. karena perempuan gatal itu saya terancam gagal menikah dengan bagas om" mita terus mengarang cerita dan terus menjelekan rima walau ia tak menyebut nama rima.
perempuan ulah batin indra dan heru saat mendengarkan mita terus mengoceh. saat keadaan mulai memanas walau tak ada semburan kata kata keras pintu diketuk dari luar.
tok tok tok
pasti bagas batin semua orang yang ada di ruangan itu. dan benar saja bagas masuk sambil menenteng map ditangan kirinya. bagas belum menyadari keberadaan mita di ruangan itu karena ia memilah kedua map ditangannya untuk diserahkan pada indra dan heru. lalu pada saat ia mendongak barulah bagas melihat mita namun ekspresi wajah bagas biasa saja malah terkesan dingin dan datar.
kalau memang perempuan ini calon istrinya kenapa bagas santai begitu wajahnya juga tidak gugup atau takut pikir heru saat bagas berdiri di samping indra.
"pak maaf mengganggu" sapa bagas sopan.
"duduk gas" indra menjawab.
perlente juga penampilan anak ini, masih muda sudah jadi direktur pasti uangnya banyak dan mita bisa hidup enak bersama dengannya. mita memang gak salah memilih calon suami pikir wicaksono sambil memperhatikan bagas dengan seksama.
"rima mana gas?" tanya indra saat ia sudah selesai memeriksa dokumen yang bas berikan.
"tadi ke toilet dulu katanya pak" jawab bagas sopan.
"kamu kenal mereka gas?" kali ini heru yang bertanya, ayah dari kekasih bagas ini tentu tak mau menunda rasa penasarannya.
"yang wanita saya kenal pak namanya mita teman saya tapi hanya sekedar teman ngobrol, tapi maaf kalau bapak ini saya tidak kenal"
__ADS_1
"kamu tidak kenal dengan calon ayah mertua mu gas?" indra bertanya karena ia mulai membaca gelagat aneh.
bagas menggeleng dan balik bertanya "maksudnya calon mertua bagaimana pak?"
ceklek
"pa"
rima masuk tanpa mengetuk pintu dan matanya langsung bersitatap dengan wanita yang tempo hari ia ajak ribut.
"ini pak karyawan bapak yang sudah merebut bagas dari saya, masuk keruangan bos besar saja dia tak sopan begini main selonong aja" hardik mita saat tadi ia sudah merasa terancam dengan jawaban bagas tak mengenal ayahnya sebagai calon mertua.
"maksud kamu, perempuan ini yang merebut bagas dari kamu?" tanya indra.
"iya, dia yang merebut bagas dari saya, dia pelakor pak. kalau begini model karyawannya mending di pecat saja"
"iya ndra ga ada sopan santunnya masuk keruangan bos main masuk aja, pegawai model begini lebih baik kami pecat saja" wicaksono bangkit dan ikut membuat suasana semakin panas.
bagas dan rima terlihat bingung, mereka berdua tak tau ada masalah apa di sini. tapi bagas dengan sigap langsung berdiri di depan rima untuk melindungi kekasihnya sebelum mita merangsek maju.
"kamu bela pelakor ini gas" terbukti mita langsung maju menghampiri keduanya yang saat ini sedang saling menggenggam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1