
mengandung sembilan bulan waktu yang tak sebentar untuk ku, sejak awal kehamilan aku merasa semuanya suram. aku bertahan dengan kehamilan anak ini bahkan sampai dia lahir ke dunia ini pun tak juga membuat mas dimas mencintai ku.
aku sudah hamil besar dia dengan sangat yakin mengatakan pada orang tuanya bahwa dia akan menceraikan ku saat anak ini lahir. aku sudah berusaha, bahkan sampai melakukan sandiwara. meluluhkan hatinya sangat mustahil bagi ku, aku lelah.
mengabaikan keberadaan ella adalah cara terakhir ku saat ini. mas dimas tetap tak mau membujuk ku untuk mau merawat ella, ia hanya sempat mengeluh beberapa kali tapi akhirnya aku di abaikan lagi. aku sudah lelah berteriak dan membuat onar di rumah ini, tak seorang pun yang memperdulikan ulah ku disini. mereka seolah-olah buta dan tuli atas keberadaan ku.
"sesulit itukah mas menerima keberadaan ku? aku sungguh mencintaimu, ini bukan obsesi ini cinta. aku rela menjebak mu demi bisa bersama" batin bela menjerit sudah setahun lebih menikah jangan kan sentuhan fisik bahkan menyentuh hati dimas pun bela tak bisa.
kerja ku hanya makan dan tidur, berdiam diri di kamar dan merawat tubuh ku dengan uang seadanya yang mas dimas berikan. aku tak perduli dengan ella, bahkan sejak ia lahir aku tak mau memberinya asi. aku membekukan hati ku untuk ella, aku kecewa kehadirannya tak bisa membuat mas dimas luluh pada diriku.
aku menggoda mas dimas dengan tubuh ku tapi tak sekalipun dia tergoda, aku selalu memantik emosinya tapi akhir-akhir ini dia tak meladeni ku. aku frustasi entah cara apa lagi yang harus aku lakukan.
sore ini ku lihat mas dimas pulang cepat, dia langsung menghampiri ella yang sedang digendong ibu mas dimas. aku berencana untuk membuat ulah lagi hari ini.
keluar kamar dengan memakai baju seksi dan memesan taxi untuk pergi kerumah mama. aku sengaja pergi saat mas dimas ada di rumah, aku ingin dia memperhatikan aku.
"mas aku mau ke rumah mama" ucap ku ketus saat sampai di halaman rumah.
"owh, ya sudah hati-hati. maaf aku ga bisa antar aku lelah baru pulang" ucapnya tanpa berkomentar dengan penampilan ku.
__ADS_1
"kamu izinin aku pergi mas?" aku kembali memancing.
"ya pergi saja, kamu mau ke rumah mama kan"
aku berdecak jengkel dan melangkah pergi ke luar pagar dan mencegat taxi.
sampai di rumah mama, aku mendapati mama sedang duduk di sofa dengan sampah berserakan di sekitarnya. sudah beberapa bulan ini kehidupan mama jadi berantakan, adik ku dikirim ke asrama pembantu di rumah berhenti semua papa entah tinggal dimana pun aku tak tau.
kondisi mama sekarang sangat memprihatinkan, setiap hari ia hanya berdiam diri dirumah tanpa melakukan kegiatan apapun. ia berhenti dari geng sosialitanya karena dibuang oleh semua teman-temannya. papa juga hanya mengirim uang seperlunya untuk mama, aku selalu bertanya ada apa dengan papa dan mama tapi mama selalu menggeleng tak mau menjawab.
"ma, rapihkan rumahnya. berantakan begini lama-lama jadi sarang tikus"
setiap datang kemari aku selalu membersihkan rumah, mama hanya akan tiduran di sofa depan televisi.
"mama suruh aku cari papa, tapi papa ga mau ngomong apa-apa. sebenarnya kalian kenapa sih?"
"papa mu memblokir semua karti kredit mama, pembantu di pecat semua bahkan jatah bulanan untuk mama hanya lima juta sebulan. mama sudah kesana kemari cari papa mu tapi dia selalu berhasil menghindar"
"apa uang simpanan mama selama ini sudah habis?"
__ADS_1
aku tau mama sering mencuri uang papa, untuk membeli aset berupa tanah atau perhiasan bahkan dipakai mama untuk berfoya-foya dengan teman-temannya.
"semuanya beku bel, mama ga bisa jual tanah. perhiasan sudah habis tas sudah habis. tas mama jual untuk nutup arisan karena beberapa mama sudah nembus" aku dengar hembusan nafas mama sangat berat.
pasti berat bagi mama, karena sebelumnya mama sangat bebas menggunakan uang papa. bahkan mama pernah beberapa kali berselingkuh tapi aku diam saja, mungkin papa bukan papa kandung ku sehingga aku tak merasa sakit hati mengetahui mama berselingkuh.
"papa begini pasti tau mama pernah selingkuh" celetuk ku
"jangan ngaco kamu"
"ya terus apa dong ma yang bikin papa tiba-tiba menghilang dan berubah begini?"
"coba kamu telpon papa mu bel, bilang mama mau bicara empat mata soal hubungan kami"
"kan minggu lalu aku sudah datang kekantor papa, dan papa bilang belum waktunya"
"mama capek bel begini, kamu datang cuma ngomel bukannya bantuin ditambah kamu terus ngeluh soal dimas"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1