kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
drama


__ADS_3

siang hari dimas diperbolehkan pulang, semua kakak dan kakak iparnya beserta anak-anak mereka sudah menunggu dirumah. mereka mengobrol menceritakan tentang pekerjaan keseharian dirumah dan membahas anak-anak. bela yang juga berada disana tak sekalipun ingin nimbrung dalam obrolan itu hingga tak ada yang menghiraukan bela yang sedang duduk diruang keluarga bersama kakak iparnya dan ponakan dimas.


"mau duduk disini dulu atau langsung ke kamar dim?" tanya kakak ipar dimas


"disini dulu lah mas, capek aku tidur terus dirumah sakit"


"sudah enakan kan?" tanya kakak dimas yang perempuan.


"susah mendingan lah, perut ga melilit lagi cuma masih agak mual aja kadang-kadang"


bela hanya diam memperhatikan dimas sejak tadi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"kamu kenapa bel? ada yang sakit atau kenapa" dimas menyadari sejak tadi bela memperhatikannya


"ga mas, aku baik-baik aja. kamu kenapa ga bilang aku ke rumah sakit?"


drama, semua keluarga dimas kompak membantin.


"kepala ku sakit ga ketahan jadi ga sempet lagi naik keatas untuk bilang sama kamu" singkat dimas menjawab dia sudah tau bela akan berdrama setelah ini.


"tapi kamu jahat mas ninggalin aku sendirian disini, aku ga bisa tidur ga makan juga semalam"


kan bener langsung drama mode on. bikin makin mual pikir dimas,


"ada mbok ada yang lain juga kamu ga sendiri disini. makanya hari-hari itu keluar gabung sama orang orang rumah jangan cuma dikamar aja" dimas menjawab tenang


"kamu ga ngerti aku mas, kamu jahat"

__ADS_1


"jangan drama bel, ada anak-anak disini" sungut kakak perempuan dimas.


bela bangkit menghentakkan kakinya dan naik keatas menuju kamar.


"ga usah bahas bela, aku mual liat tingkahnya"


"tiap malem minta pijat mita usap minta buatin susu minta ini itu masih juga saah bilang aku ga perduli segala macam, mana tiap detik kalau aku dikamar minta tambah uang aja kerjaannya"


"kamu curhat dim?" ledek kakak iparnya


"iya mas, aku lagi curhat sama kalian. aku pengen nyoba sama bela tapi kelakuannya bikin eneg aku langsung pengen cerai terus tiap nuntut ini itu ke aku"


"ya tinggal cerai aja" ibunya menyahut obrolan diruang keluarga


"kamu ga tau tiap hari istrimu itu minta aneh-aneh ke ibu. kayak udah ngelist hari ini dari pagi sampe sore mau minta apa ke ibu" sekarang ibunya yang mengeluh


"menantu drama queen, mukanya imut banget tapi hatinya iblis" kakak pertama dimas mengomel


"keluar kalau ke dokter kandungan sama ibu sama dimas habisnya ya diajak makan dan beli baju atau apapun yang sekiranya udah ga muat. tapi masih aja ngeributin dimas tiap hari, apa dia maunya bergaya seperti orang kaya tiap waktu shopping gitu"


"ya emang maunya kayak gitu, diliat dulu dimas necis bawa mobil dan memanjakan rima jadi dia iri dan berharap akan diperlakukan sama seperti rima kalau berhasil memiliki dimas" lah si ayah nyaplok


lelah mengobrol dimas memutuskan untuk kembali ke kamarnya. sampai dikamar dimas dibuat geram dengan tingkah bela, kamar berantakan tissu bekas dimana-mana bantal selimut berserakan dilantai belum lagi bungkus makanan sampai bau di meja dekat sofa.


"kamu ini manusia atau apa bel?" tanya dimas dengan suara dingin


"apa? kenapa?"

__ADS_1


"kenapa kamu bilang. kadang anjing saja masih lebih rapih dari kamar ini" bentak dimas


"aku mager, kalau dirasa kotor ya mas bersihkan sendiri"


prang, dimas membanting gelas kosong dimeja samping ranjang. orang tua dimas dan mbok pimah yang berada dilantai bawah terpogoh-pogoh menuju kamar dimas.


"aku diemin kamu bukan berarti kamu bisa seenaknya begini bel" suara dimas semakin keras


"ya kami yang bikin aku jadi kayak gini mas. kamu ga perhatiin aku kamu nyuekin aku kamu pelit nafkah lahir kamu pelit perhitungan belum lagi kamu ga pernah kasi aku nafkah batin. itu kamu minta


aku untuk nurut sama kamu" suara bela tak kalah keras dari dimas


"otak mu itu isinya duit sama ************ aja apa?"


dimas hanya sekali menyentuh bela setelah menikah itupun terjadi dengan paksaan dan terkesan bringas tak ada kelembutan sama sekali. setelah itu sampai sekarang sudah terhitung tiga bulan lebih mereka menikah dimas selalu menolak bila bela mendekatinya


"aku istri mu mas, aku berhak atas semuanya"


tiga orang diluar kamar itu hanya diam menyaksikan pertengkaran pasangan suami istri di dalam kamar tak ada satupun diantara mereka yang ingin melerai.


"kamu istri ku tapi kelakuan mu tak mencerminkan kalau kamu adalah seorang istri dan calon ibu. untuk urusan nafkah lahir tak perlu kamu bahas terus dan nafkah batin mu? aku tak mau lagi menyentuh mu pasti kamu tau alasan ku bel" dimas berbalik dan berpapasan dengan ayah ibu dan mbok pimah didepan kamarnya


"dim" panggil ibunya


dimas hanya menoleh dan masuk ke kamar disebelah kamarnya. dia ingin tidur saat ini, tubuhnya lelah kepalanya kembali berdenyut.


"apa aku bakal mati cepet kalau terus-terusan ngeladenin kelakuannya bela ya? ga mau berubah sama sekali, dia ga pernah mau intropeksi diri padahal aku sudah berusaha mau membuka diri"

__ADS_1


"aku pengen anak ku sehat-sehat, walau dia hadir karena kesalahan tetap anak itu adalah darah daging ku. walau orang tuanya bukan manusia sempurna tapi aku akan tetap berjuang untuknya" prolog dimas dalam hati.


matanya terpejam dia beristirahat dengan kening berkerut. banyak sekali beban yang dia rasakan setahun terakhir ini, cobaan menguras emosinya sangat dalam. bahkan orang tua dimas pun meragu apakah dimas bisa langgeng dengan pernikahannya ini.


__ADS_2