
aku sudah menjadi sarjana, sekarang aku mama dan papa sedang di studio foto untuk mengabadikan momen bersejarah ini. ini adalah salah satu tahap dimana aku akan menjadi wanita dewasa dan bisa menjadi seorang istri, tapi aku gagal menikah walau aku sudah menjadi sarjana. papa meminta ku menyelesaikan kuliah terlebih dulu baru aku diijinkan menikah dengan mas dimas, tapi aku tetap tak jadi menikah.
mas dimas terlihat memperhatikan ku dari jauh saat di gedung wisuda tadi, aku pura pura tak melihatnya. aku masih kecewa, aku tak sanggup bertemu dia lagi. setiap aku mengingat kejadian hari itu aku masih sering menangis, hatiku masih sakit kekecewaan ku belum memudar, ini baru dan masih basah mungkin luka ini akan lama baru bisa mengering. aku masih sering menangis, bukan karena batal menikah tapi kenapa aku harus dikhianati orang terdekat ku. kekasih ku saudara sepupu ku, aku tak menyangka bela akan tega merebut mas dimas dengan cara kotor.
malam ini mama memesan banyak makanan untuk merayakan kelulusan ku, mama mengajak semua yang bekerja di rumah untuk makan bersama. aku bahagia setidaknya aku masih memiliki mereka untuk merayakan hari bahagia ku sekarang.
"mbok nah kok pak indra dan keluarga ga diundang ya?"
"wes dar diam, makan saja"
"ngapain ngundang mereka, orang jahat. kok tega ngerebut calon suami saudara sendiri ga ada hati"
"sri, diem. kita harus jaga mba rima, jangan sampe nangis lagi"
"iya mbok, maaf"
aku mendengar semua yang mereka bicarakan, aku tak marah karena mereka bicara kenyataan. tapi aku hati ku langsung bergemuruh saat mendengar suara istri om indra di depan pintu,
"nah mbok nenek sihir datang, padahal diundang. dasar jelangkung" suara sri melengking ditelinga ku, mama dan papa hanya terkikik mendengarnya. sri ini memang nyablak kalau bicara sering kelewat jujur dan pedas tapi dia humoris makanya orang tua ku senang dia bekerja di rumah.
"maaf semua, bakalan ada drama begitu muka nyai ronggeng nongol. tapi kita lanjutkan saja makan malamnya anggap saja ini pertunjukan live" papa mengintrupsi kami semua agar tak ada yang pergi dari ruang tengah.
"wih, pesta wisuda makan makan ga ngundang keluarga malah asyik sama pembantu"
"kalau mau ikutan makan ya itu, cuma sisa begituan silahkan mb risma" mama sudah bersuara, mama memang tak akur dengan tante risma entah ada masalah apa aku kurang tau.
__ADS_1
"kami kesini ga mau numpang makan kok"
"rima kamu sudah membatalkan pernikahan kan sama dimas? dimas itu ternyata merayu bela dan melecehkan bela, tante sudah sudah kerumahnya minta mereka menikah. bela sudah dirusak dimas harus bertanggung jawab"
aku pergi ke kamar ku begitu saja tanpa menghiraukan ucapan tante risma, selama aku tinggal di rumah om indra kami tak begitu dekat karena kegiatan ku banyak diluar rumah aku hanya numpang tidur dan makan malam saja disana sabtu minggu aku pulang kesini kerumah orang tua ku.
"orang tua lagi ngomong malah pergi gitu aja, kamu ga tanya keadaan bela gimana? dia jadi pendiam sejak kejadian itu"
"risma, kalau kamu hanya mau ribut pulang saja. rumah ku bukan pasar yang bisa dibuat ramai" papa langsung mengusir tante risma
"heru, kami ini selalu mengusir aku kalau datang kesini apa istri mu itu masih ketakutan kalau aku"
"cukup, darmin joko bawa perempuan ini dan anaknya keluar dari rumah saya"
tak ku dengar lagi suara ribut di lantai bawah, mungkin saja tante risma dan bela sudah pergi. karena tadi aku mendengar suara papa mengusir mereka sepertinya kali ini papa sangat marah, biasanya kalau tante risma datang kesini dan membuat kericuhan hanya mama yang akan menanggapinya papa pasti akan menghindar.
risma dari dulu memang tak pernah berubah masih saja licik, semua ini pasti rencana risma dia akan melalukan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. aku yakin risma lah yang menyuruh bela untuk menjebak dimas. aku masih tak habis pikir kenapa kakak ku bisa menikah dengan risma dan bertahan dengan dalam pernikahan mereka, padahal bela bukan anak kak indra dan aku juga yakin kalau adik bela juga bukan anak kak indra karena risma hamil saat kakak ku sedang bekerja diluar pulau saat itu.
menyakiti putri ku sama saja dengan mengganggu macan tidur, kali ini aku tak akan tinggal diam. risma sudah keterlaluan aku tak perduli dengan persaudaraan ku dengan kak indra walau sebenarnya aku kasihan padanya. dia seperti disetir oleh risma, tak pernah marah dan selalu menuruti semua keinginan risma. untung saja bukan aku yang menikah dengan risma, aku bersyukur cepat lepas dari jerat wanita ular itu.
akan ku pertahankan harga diri keluarga ku, rima batal menikah tak jadi masalah tak juga membuat ku malu pada orang sekitar yang menggunjing kami karena bagi ku istri dan anak ku adalah segalanya.
tut tuut tuuut suara sambungan telpon,
"halo her, ada apa?" ku dengar suara kak indra seperti sedang tidak enak badan.
__ADS_1
"kakak kenapa? suaranya lemas begitu"
"aku di rumah sakit, sudah mau 3hari di rawat. darah tinggi ku kumat lagi, kamu kalau ga sibuk tolong kesini her ajak istrimu sekalian aku mau minta tolong"
"iya kak aku ke sana sekarang"
aku keluar kamar mencari istriku, ternyata dia sedang menemani rima tidur.
"ma, ayo sini. kita ke rumah sakit kak indra sudah 3hari dirawat"
"loh kok, tadi risma kelayapan padahal suami di rawat. emang sinting perempuan itu"
"sudah ayo keburu malam, rima kita titip le mbok nah dan sri saja"
akhirnya kami sampai dirumah sakit, kakak ku terlihat lemah dia hanya ditemani bagas asistennya tak ada risma disini. entah kemana perempuan itu.
"aku minta maaf sama kalian terutama sama rima, nanti kalau aku sudah sehat pasti akan menemui rima. aku sudah cek cctv dirumah bela memang menjebak dimas"
"sudah terjadi kak, rima juga sudah membatalkan pernikahannya. ga seharusnya kakak sampai begini hanya karena bela"
"iya mereka bukan siapa siapa ku, aku begini karena memikirkan rima, rima keponakan ku dan dia disakiti oleh ular yang ku pelihara"
"maksud kakak apa?"
"kamu pasti tau semuanya her, kamu hanya berusaha menghargai ku. aku diam bukan karena aku terlalu mencintai risma, aku menunggu waktu yang tepat. bagas sudah mengatur semuanya bulan depan sidang putusan perceraian ku dengan risma, aku membuat semua menjadi cepat dan kudah aku lelah meladeni risma"
__ADS_1
heru dan puji terkejut, mereka tak menyangka indra akan menceraikan risma secepat ini.