kecewa tak bertepi

kecewa tak bertepi
banting


__ADS_3

sepanjang siang hingga jam kantor berakhir rima tak beranjak dari sofa ruangan heru, ia duduk di sofa sambil memainkan HP setelah menghabiskan banyak makanan yang dibelinya melalui online.


anak ku kenapa lagi ini ya kok dari habis makan duduk disana.


"rim, kamu ga ada kerjaan?" suara heru mengalihkan rima dari HPnya.


"aku lagi males pa, numpang disini ya? atau aku boleh ga pulang sekarang? mau ke mall beli jajan" jawab rima cuek.


"kamu kenapa? tanya heru sambil mendekat.


"aku lagi ga mood di ruangan"


"ya kenapa? pasti ada sebabnya"


"aku mau pindah ke divisi lain aja pa, kayaknya cukup deh aku di keuangan"


"baru juga beberapa bulan, kok kamu bilang cukup. bagas juga kayaknya belum ngajarin kamu semuanya"


"karena itu ......." rima menggantung ucapannya


"kenapa? kamu ada masalah sama bagas?"


rima menggeleng kepalanya menunduk.


"hei, kamu kenapa?"


heru tau sejak tadi putrinya menyimpan sesuatu, sebagai seorang ayah heru sangat tau betul tetang semua gerak gerik rima selain karena rima anak satu satunya heru juga begitu dekat dengan rima. semua persoalan tetang rima heru adalah orang pertama yang akan mengetahuinya.


"mas bagas udah punya pacar" mendengar kalimat yang rima ucapkan heru sudah bisa menebak.


patah hati lagi anak ku, kenapa persoalan hati selalu saja jadi persoalan utama di keluarga ku ya allah.


"hmm, kamu mulai suka sama bagas?"


rima mengangguk "aku ga tau suka apa ga, tapi pas liat mas bagas sama cewek aku kesel. tapi yaudah ga apa pa emang mungkin ga bisa. aku pamit pulang aja ya? bolehkan pa? besok aku masuk kantor kayak biasanya deh ga jadi pindah divisi juga. aku ga mau orang orang mikirnya gimana ke aku"

__ADS_1


"kamu ga mau ngobrol dulu sama papa?"


"aku pengen jajan, tapi aku malu keluar ketemu sama orang"


heru mengernyit bingung.


"kenapa?"


"tadi aku berantem sama pacarnya mas bagas pas mau kesini" rima menunduk malu.


"dasar nakal" heru meraih tubuh rima untuk dipeluk.


.


.


rima kembali ke ruangannya dan mendapat banyak pertanyaan dari tatapan semua orang yang berada di dalam ruangan itu. tapi rima berusaha cuek pura pura tak menyadari keadaan disama.


ceklek


bagas keluar dan menyuruh rima untuk ke ruangannya. sejak jam istirahat usai bagas sudah menunggu rima tapi gadis itu tak kunjung kembali dan malah bersembunyi di ruangan sang ayah.


huft dengan hembusan napas kasar rima berbalik menuju ruangan bagas.


tok tok tok


"masuk"


ceklek


"duduk"


bagas berdiri menyender dimeja kerjanya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantong.


"maksud kamu memancung keributan dengan mita apa? ada masalah apa kamu sama mita sebelumnya?"

__ADS_1


rima mendongak ia menatap mata bagas dengan raut wajah yang sulit untuk di artikan.


"maksud bapak?"


"kamu tadi sengaja kan bikin keributan, mancing emosi mita. kamu kenapa? bikin malu di kantor, merusak reputasi saya saja" bagas bersuara pelan tapi penuh penekanan.


rima yang merasa di salahkan atas tuduhan tak berdasar dari bagas merasa geram dan berdiri.


"owh, bapak marah saya berantem sama pacar bapak tadi siang?"


apa pacar katanya, rima ngira mita itu pacar ku. owh kamu salah rim, salah. bagas menggeleng samar.


"kalau bapak mau bermesraan jangan di kantor, hotel kan banyak"


"maksud kamu apa?" bagas tersinggung dengan perkataan rima barusan.


"kalian bisa ke hotel untuk bermesraan bahkan disana dengan bebas melakukan apa saja, ga harus disini ini kantor"


rima pikir aku laki laki mesum, yang melakukan percintaan tanpa menikah. perempuan ini benar benar.


"pacar bapak itu, yang kurang sopan santun. pacaran kok sama perempuan modelan begitu, cuma maju depan belakang tapi ga punya attitude buat apa. mending bapak cari pacar lain"


brak


rima membanting pintu begitu keras, bagas tersadar dari lamunannya saat mendengar suara pintu di banting.


"hei" suara bagas menggelegar.


sukanya banting pintu, kemarin pintu mobil sekarang pintu ruangan gue belum lagi pintu hati gue yang diobrak abrik besok pintu mana lagi yang mau di banting.


"bodo amat"


rima menyambar tasnya dan berlari secepat kilat, ia tak ingin bertemu bagas lagi. sementara mereka yang menjadi penonton setia diam tak bergeming, kejadian hari ini cukup membuat isi kepala mereka penuh dengan pertanyaan tapi belum satupun yang berhasil terjawab.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2