Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Seseorang Yang Mencintaimu


__ADS_3

...“Tak ada yang lebih indah selain hidup dengan seseorang yang begitu mencintaimu. Karena dia akan memperlakukanmu dengan ketulusan.” – Ciara A. Garnacho...



Di ruangan yang berukuran 10x10 meter itu, hanya ada Ciara dan Sabrina. Ciara yang saat itu sedang duduk di lantai dalam keadaan terikat, ia menatap tajam ke arah Sabrina. Sabrina terlihat gelisah dan mimik wajah menampakkan kekhawatiran yang sulit diungkapkan.


“Kenapa?” tanya Ciara penasaran. “Kenapa sampai mengambil langkah bodoh kayak gini kalau ujung-ujungnya kamu sendiri ketakutan?”


Sabrina menelan ludahnya. Tubuhnya terlihat bergetar dengan kedua alis yang menyatu dan ujung alisnya turun. Matanya menatap Ciara nanar.


“A-aku nggak suka liat kamu di sisi Kak Abercio!” ketus Sabrina dengan suara yang bergetar.


“Terus, kamu mau menyingkirkan aku?” tanya Ciara lagi.


“Iya!” sahut Sabrina sigap.


“Tapi kenapa kamu ragu?” tukas Ciara tak tahan. “Kamu pikir, Abercio akan diam saja ketika tahu perbuatanmu ini?”


“Kamu nggak takut mendekam di penjara?” sambung Ciara menakut-nakuti Sabrina.


Sabrina semakin gusar mendengarkan ucapan Ciara. Ia benar-benar tak habis pikir. Kenapa ia sampai menempuh jalur yang gila ini? Meskipun ia benar-benar tergila-gila pada Abercio, tapi kenapa ia sampai menjerumuskan dirinya sendiri ke perbuatan keji itu?


“Sabrina …” panggil Ciara pelan. Ia menghela nafasnya.


“Aku tau, rasa cinta kamu itu begitu besar untuk Abercio. Tapi sadarlah, mencintai seseorang itu juga ada batasnya.”


“Untuk apa kamu mencintai orang yang dia aja nggak membalas cintamu?”


“Memangnya kamu kurang apa? Hmm?”


Ciara menatap penampilan Sabrina saat itu. Kedua mata Ciara bergerak seolah-olah sedang memperhatikan seluruh tubuh Sabrina dari atas hingga bawah.


Sabrina. Seorang wanita yang terlihat begitu elegan dan berasal dari keluarga yang kaya raya. Rambut panjang berwarna coklat yang bergelombang, dengan kulit putih yang mulus karena perawatan yang mahal. Wajah wanita itu cantik tanpa ada sentuhan-sentuhan filler atau kecantikan buatan. Karena kecantikannya benar-benar murni dan alami.


Baju yang Sabrina kenakan juga dari merek ternama. Begitu juga tas jinjing yang ia pegang, hanya dengan melihat logo yang ada di tasnya itu, semua sudah tahu bahwa harga tas itu ratusan juta rupiah.


Dengan harga diri tinggi dan status terpandang wanita itu, lantas … apa yang membuat dia sampai begitu rela dirinya diinjak-diinjak dan tak dianggap ada oleh pria yang tak pernah menoleh kepadanya? Bahkan pria yang selama ini ia kejar, kini akan menjadi suami dari wanita lain.


“Ku akui … aku iri denganmu Sabrina,” ucap Ciara lirih. Saat itu, Ciara merendah hati, bukan merendah diri.


“Wanita cantik dan berkelas sepertimu, bagaimana bisa menjadi sainganku? Aku bukan apa-apa jika dibandingkan denganmu.”


“Ck! Nggak usah sok baik!” sanggah Sabrina tak senang. Namun wajahnya terlihat bertolak belakang dengan apa yang ia katakan saat itu. “Mentang-mentang Kak Abercio luluh dengan sikapmu, jadi kamu juga mau membuat aku luluh dan terpedaya dengan tipuanmu? Huh?!”


Ciara tersenyum. Ia bergerak sedikit untuk mencari posisi nyaman. Tapi tetap saja posisinya tak nyaman karena beberapa bagian tubuhnya yang terikat.


“Kita ini perempuan. Perempuan itu harusnya dicintai dan dihargai,” ucap Ciara dengan tatapan yang kosong menatap lurus ke depan.


Sabrina memutarkan kedua matanya sembari menyilangkan kedua tangannya ke dada. Ia terlihat malas mendengarkan ceramah dari Ciara. Dengusan nafasnya terdengar kesal.


“Untuk apa berada di sisi pria yang tak pernah mencintai dan menghargaimu?” tutur Ciara lirih.


“Memangnya, kamu mau hidup dengan seseorang yang nggak pernah anggap kamu ada?”


“Cinta itu boleh. Tapi sesekali lihatlah diri sendiri. Apa dirimu yang berharga itu pantas dipandang sebelah mata dan diabaikan?”


Sabrina menggigit bibirnya. Ia menatap tajam ke arah Ciara. Ntah kenapa rasanya ia seperti sedang diajari oleh anak perempuan yang usianya terpaut lima tahun lebih muda di bawahnya. Meskipun ucapan gadis muda itu benar, entah kenapa ia tetap saja merasa kesal.


“Nggak usah sok dewasa!” ketus Sabrina kesal.


Sabrina membalikkan badannya dan berniat ingin meninggalkan Ciara di sana. Meskipun dirinya diselimuti rasa takut dan cemas, tapi ia berusaha melawannya. Ia berniat pergi meninggalkan tempat itu dan menunggu kabar dari Markus bahwa Ciara sudah lenyap di dunia ini.


“Kak Sabrina …” panggil Ciara tak berdaya dengan suara yang putus asa.

__ADS_1


Sabrina terdiam dan menghentikan langkahnya. Tiba-tiba saja ia tertegun saat Ciara memanggil dirinya dengan sebutan ‘Kakak’.


“Mungkin, saat Daddy Cio ke sini, aku udah nggak ada. Tolong sampaikan pesanku padanya.”


Sabrina membalikkan badannya ke belakang. Ia menoleh ke arah Ciara.


“Hmm. Apa?” tanya Sabrina angkuh dengan kepala yang sedikit terangkat ke atas.


“Ck! Kamu pikir aku akan menyampaikannya? Bisa mati aku kalo sampai Kak Aber tau kamu meninggalkan pesan sebelum mati! Itu sama aja menjerumuskan diriku sendiri mengaku kalau aku salah satu penyebab kematianmu!” ketus Sabrina dalam hati.


Ciara mengulum senyum. Senyuman yang begitu tulus seolah-olah itu adalah senyum terakhirnya di dunia ini.


“Menikahlah dengan Kak Sabrina. Tak ada yang lebih indah selain hidup dengan seseorang yang begitu mencintaimu. Karena dia akan memperlakukanmu dengan ketulusan.”


Sabrina terbelalak kaget. Matanya sempurna membulat menatap ke arah Ciara. Apa yang baru saja gadis itu katakan?!


“Hey!!!” bentak Sabrina kesal dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau pikir aku ini pengemis?!”


“Nggak. Aku bakalan sedih kalau Daddy Cio hidup dengan wanita yang tak bisa mencintainya dengan tulus,” tutur Ciara pelan, “jadi sekarang kamu menang Kak.”


“Kak Sabrina boleh mendapatkan Daddy Cio. Karena dia nggak akan pernah menolak permintaanku,” sambungnya.


Sabrina meremas dengan kuat tas mewah miliknya. Satu tangannya lagi meremas ponsel miliknya menahan amarah yang bercampur dengan perasaan lain yang sedang mengaduk-aduk dadanya saat itu. Matanya memanas dengan kerongkongan tercekat.


“Sejak kecil aku selalu disiksa sama Daddy Markus. Sampai akhirnya aku ketemu Daddy Cio, ternyata seluruh rasa sakit itu hilang karena dicintai dengan tulus oleh Daddy Cio.”


“Jadi … aku nggak akan serakah.”


“Sekarang giliran Daddy Cio yang bahagia dengan cinta dari Kak Sabrina,” ucap Ciara panjang lebar.


Sabrina tak tahan lagi melihat ke arah Ciara. Ia merasa harga dirinya seolah-olah sedang dicabik-cabik oleh Ciara yang baginya adalah bocah ingusan sok dewasa. Sabrina bergegas pergi meninggalkan Ciara dengan hentakan keras dari sepatu boot yang ia kenakan saat itu.


...“Tak ada yang lebih indah selain hidup dengan seseorang yang begitu mencintaimu. Karena dia akan memperlakukanmu dengan ketulusan.”...


Entah kenapa, tiba-tiba Sabrina menghentikan langkah kakinya. Ia menghela nafasnya dengan keras.


“Bukan aku yang menang, Ciara! Tapi kau!” teriak Sabrina kesal.


Sabrina menatap layar ponselnya. Kemudian ia bergegas menghubungi Abercio. Panggilan pertamanya di tolak oleh Abercio. Begitu juga panggilan kedua, ketiga dan keempat. Ternyata Abercio benar-benar tak mempedulikannya. Abercio menolak panggilan Sabrina.


Tes! Tes! Tes!


Satu per satu airmata jatuh membasahi pipi Sabrina. Ia baru sadar bahwa selama ini, hanya dirinya lah yang terobsesi pada pria itu. Sedangkan pria itu? Pria itu tak pernah menganggap dia ada. Apa benar kata-kata Ciara tadi?


...“Perempuan itu harusnya dicintai dan dihargai.”...


Lagi-lagi potongan kata-kata Ciara tadi terngiang-ngiang di telinga Sabrina. Sabrina terduduk di atas lantai kumuh yang penuh debu tersebut. Ia menangis sejadi-jadinya sembari memegang dadanya yang begitu sesak dan sakit.


Cinta yang selama ini ia sanjung-sanjung, ternyata hanya dia lah yang menikmatinya. Sedangkan pria itu tak sedikitpun pernah peduli.


“Hikss … hiks … hiks ….” Isak Sabrina pilu.


“Untuk apa aku melakukan tindakan bodoh seperti ini? Sedangkan dia nggak pernah menghargai ketulusanku selama bertahun-tahun?” lirih Sabrina pelan.


Drrttt… Drrttt…


Ponsel Sabrina bergetar. Tertera nama Benicio di layar ponsel miliknya.


“Hahaha … kenapa malah dia sih yang—”


...“Tak ada yang lebih indah selain hidup dengan seseorang yang begitu mencintaimu. Karena dia akan memperlakukanmu dengan ketulusan.”...


Belum sempat Sabrina menyelesaikan gerutunya, ucapan Ciara kembali terlintas.

__ADS_1


Benicio. Pria yang sekian tahun sudah mengejar-ngejarnya tapi tak pernah ia pedulikan. Apa itu adalah karma baginya yang selalu tak menghargai Benicio? Padahal, Benicio begitu tulus mencintainya.


Sabrina seperti sedang melihat dirinya di diri Benicio. Pria yang selama ini ia sia-siakan, pasti juga merasakan sakit yang begitu menusuk seperti dirinya saat ini. Bahkan, saat ia membutuhkan Abercio, pria itu tak pernah ada. Malah, Benicio yang selalu saja menghubunginya saat ia sedang dalam kondisi yang menyedihkan.


Sabrina bergegas mengangkat panggilan dari Benicio.


^^^“Halo. Sabrina?”^^^


^^^“Ayo kita ketemu?”^^^


^^^“Eh, maaf. Aku tau kamu nggak mau menemuiku.”^^^


^^^“Maaf selama ini aku selalu membuatmu tak nyaman.”^^^


^^^“Aku … aku akan mencoba melupakanmu.”^^^


^^^“Aku tak akan membebanimu lagi dengan perasaanku ini.”^^^


^^^“Aku harap—”^^^


“Kak.” Sabrina memotong pembicaraan Benicio.


“Sakit ya?”


^^^“M-maksudnya?”^^^


Suara Benicio terdengar penuh tanda tanya. Pria di sebrang telepon tersebut tak mengerti dengan apa yang Sabrina katakan.


“Ternyata, cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sakit, ya?”


Benicio terdiam. Ia tak menyahuti ucapan Sabrina saat itu. Cukup lama Benicio terdiam dan sesekali terdengar helaan nafas berat dari pria itu.


^^^“Nggak kok.”^^^


^^^“Aku ikhlas karena rasa ini tulus.”^^^


^^^“Walaupun sakit, ya itu resiko yang harus aku terima.”^^^


^^^“Kan kamu berulang kali mengingatkanku kalau kamu menyukai—”^^^


“Kak …” Sabrina memotong pembicaraan Benicio.


“Sekarang, Ciara bersamaku.”


“Tolong katakan pada Kak Aber untuk segera—”


Buk!


Sebuah hantaman keras dari kayu balok mengenai kepala Sabrina. Hal tersebut membuat Sabrina langsung terjerembab ke atas lantai. Benda pipih yang ada di tangannya tadi seketika jatuh dengan panggilan yang masih terhubung kepada Benicio.


^^^“Halo?! Sabrina?!!!”^^^


^^^“Hey! Apa yang terjadi?!!!”^^^


^^^“Halo?!!!”^^^


Markus bergegas mengambil ponsel Sabrina dan mematikan panggilan tersebut. Kemudian ia menghempaskan ponsel tersebut ke lantai dan menginjaknya hingga ponsel tersebut hancur.


“Ck! Sudah ku katakan jangan melakukan tindakan bodoh!” kecam Markus sambil menatap garang ke arah Sabrina yang saat itu pingsan tak berdaya.


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...

__ADS_1


__ADS_2