
...“Memangnya, hubungan kita ini selamanya hanya sebatas anak dan ayah?” – Ciara A. Garnacho...
Keesokan harinya. Hari di mana Ciara akan bertemu dengan Darren dan Markus. Gadis itu sibuk menatap isi lemarinya yang tak seberapa.
“Baby …”
Entah kapan Abercio masuk ke kamar Ciara, tiba-tiba saja ia sudah memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Kemudian ia menciumi pipi Ciara dengan gemas.
“Bingung mau pakai baju apa? Hmm?” tanya Abercio pelan.
Ciara menoleh ke belakang, menghadap ke arah Abercio. Matanya mengiba menatap Abercio dengan garis bibir yang melengkung ke bawah.
“Use my black card, Baby. That’s why I give you,” ucap Abercio sambil mengecup lembut bibir Ciara.
“Tapi … aku ‘kan nggak boleh boros,” ucap Ciara sambil menggigit bibir bawahnya.
Abercio tersenyum. Ia membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya. Lalu ia mengusap pelan punggung Ciara. “Baby … mau seboros apapun kamu, hartaku tak akan pernah habis sampai tujuh turunan.”
“Just use it. Aku lebih senang melihatmu menggunakan uangku sebanyak-banyaknya,” sambung Abercio.
“Karena dengan kamu menggunakan uang itu, tak ada alasan lagi untukmu menolak semua permintaan gilaku, ‘kan?” lirih Abercio dalam hati sembari menyeringai.
Ciara mengangkat wajahnya menatap ke arah Abercio. Wajah gadis itu tersenyum dengan cerah. “Really? Can I use it?”
__ADS_1
“Hmm.” Abercio mengangguk mengiyakan. “Mau ku temani ke salon? Atau mau beli baju dulu?”
“No. Aku akan pergi dengan Bart. Daddy Cio pasti sibuk, ‘kan?”
Mendengar ucapan Ciara tersebut, Abercio langsung mengepalkan tangannya. Rahangnya menegang dan ia tersenyum paksa. “Pekerjaanku sudah selesai.”
“T-tapi, Daddy … Daddy ‘kan orang berpengaruh? Gimana kalo nanti ada—”
“Aku ini Daddy-mu, Sayang. Aku bukan orang lain,” potong Abercio dengan nada perlahan namun penuh penekanan.
“Memangnya, hubungan kita ini selamanya hanya sebatas anak dan ayah?” tanya Ciara gamblang dengan mata yang tiba-tiba menatap tajam ke arah Abercio.
Abercio terdiam. Untuk menjadikan gadis itu sebagai pacar saja ia tak mau, apalagi menikahi gadis itu? Pasalnya, ia sangat tak percaya dengan status hubungan yang rapuh itu. Tapi untuk saat ini Abercio memilih untuk tak terlibat dalam percakapan yang memusingkan itu. Ia memilih mengalah.
...❣️❣️❣️...
Ciara menuruni tangga menuju lantai satu. Kemudian ia keluar menemui Bart. Bart yang saat itu sedang menelefon seseorang, ia bergegas mengakhiri panggilan tersebut dan mendekati Ciara.
“Bart, temani aku ke salon?!” ajak Ciara sambil tersenyum sumringah.
Bart terbelalak kaget. Sudah susah payah ia mencoba melupakan gadis itu, sudah susah payah juga ia menasihati diri untuk tak terlibat perasaan yang begitu dalam dengan gadis itu. Tapi lihatlah? Gadis itu sendiri yang menghampirinya. Apa tak hancur tembok yang baru saja ia buat untuk melupakan gadis itu?
“T-tapi—”
“Aku udah bilang Daddy. Katanya aku boleh pergi denganmu,” potong Ciara dengan kelopak mata yang sengaja ia kibas-kibaskan.
__ADS_1
“Aku harus memastikannya terlebih da—”
“Pergilah.” Suara Abercio tiba-tiba terdengar dari dalam rumah. Ternyata pria itu turun ke lantai satu untuk mengantar kepergian Ciara.
“Tangkap!” ucap Abercio sembari melemparkan kunci mobilnya kepada Bart. Dengan gesit Bart menangkap kunci mobil tersebut.
“Gunakan mobilku biar dia lebih nyaman,” ucap Abercio sambil menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan dada yang membusung.
Bart benar-benar dibuat heran dengan tingkah laku Abercio. Kenapa pria itu membiarkan gadis yang ia cintai pergi dengan seseorang yang jelas-jelas menaruh perasaan terlarang. Apa dia tak takut jika nanti ia dapat merebut hati Ciara?
“Ayok!” Ciara menarik tangan Bart menuju ke arah parkiran mobil di rumah megah itu. Kemudian ia melambaikan tangannya ke arah Abercio sambil tersenyum. “Bye, Daddy. See you.”
“See you, Baby,” sahut Abercio sambil tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Ciara.
Tak lama kemudian, Bart dan Ciara masuk ke dalam mobil. Namun, baru saja Bart ingin memasangkan seatbelt, tiba-tiba ada sebuah notifikasi masuk di ponselnya.
Ting!
^^^“Jangan sia-siakan kepercayaanku.”^^^
Singkat, padat dan jelas. Itulah pesan singkat yang Abercio kirimkan pada Bart sebelum mobil yang mereka tumpangi itu melaju meninggalkan pekarangan rumah.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1