Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Menjadi Gila Itu ...


__ADS_3

..."Kali ini tolong percaya aku. Untuk menjadi gila, kamu harus melihat semua kebenaran terlebih dahulu, baru kamu boleh mengambil keputusan. Menjadi gila versi orang normal juga ada triknya, Baby." – Abercio Sanchez...



Keesokan harinya.


Ciara membuka pintu ruang kerja Abercio dan memberikan celah untuk ia bersuara meski pintu tersebut tak terbuka sepenuhnya.


"Daddy ..." lirih Ciara. "Boleh aku masuk?"


Abercio yang saat itu sedang bekerja di depan layar laptopnya, ia menghentikan pekerjaannya. Ia berdiri tanpa mengatakan apa-apa. Lalu ia berjalan mendekat ke arah pintu.


Ciara yang penasaran karena tak ada sahutan dari dalam, ia mencoba membuka sedikit lagi pintu tersebut untuk melihat ke arah dalam.


"Masuklah. Emangnya kamu itu anak buahku atau pembantu di sini?" tanya Abercio yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Ciara dibuat terkejut akibat ulahnya.


Ciara masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah tertunduk sambil menggigit bibirnya. Abercio menutup pintu ruangannya. Lalu ia memeluk Ciara dari belakang.


"Kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan? Hmm?" tanya Abercio lembut.


Ciara tak menoleh ke arah belakang. Ia menatap lurus ke depan sambil mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara dengan Abercio.


"Sebenarnya Mommy di mana?" tanya Ciara tegas.


Abercio melepaskan pelukannya. Kemudian ia menuntun Ciara ke arah sofa. "Duduklah dulu."


"Daddy, aku sed—"


"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," potong Abercio sambil menatap Ciara. "Tapi duduklah dulu di sofa."


"Akan lelah kalau kita bicara sambil berdiri, karena aku yakin akan ada banyak hal yang ingin kamu tanyakan," sambungnya.

__ADS_1


Ciara berjalan ke arah sofa mengikuti Abercio. Tapi ia duduk berseberangan dengan pria itu. Ia tak duduk bersebelahan.


Abercio duduk dengan posisi yang nyaman sambil bersandar. Sedangkan Ciara duduk dengan tegap sambil menatap Abercio.


"Jadi, sekarang Mommy ada di mana?" tanya Ciara tanpa basa basi.


"Di US," jawab Abercio singkat.


"Aku tau itu. Aku ingin yang lebih detail," sanggah Ciara tak puas mendapatkan jawaban dari Abercio.


Abercio menghela nafasnya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang sarat akan makna sekaligus tatapan yang begitu penuh dengan cinta. Entah kenapa ia segitu cintanya pada gadis manis yang ada di depannya saat ini. Bahkan saat bercinta pun ia sampai tak takut sedikitpun untuk tak memakai pengaman.


"Lucy sedang berobat di salah satu rumah sakit di US. Dia ... menghidap leukimia," jelas Abercio.


Ciara terbelalak kaget. Sekujur tubuhnya bergetar dengan hebat saat mendengarkan penjelasan dari Abercio. Sebenarnya, kenapa Lucy tak pernah menceritakan penyakitnya itu pada Ciara? Pikir Ciara saat itu. Matanya mendadak memanas dan berkaca-kaca.


"Seperti yang kamu katakan, kamu pernah melihatnya batuk berdarah. Itu bukan batuk, melainkan muntah darah karena kondisinya yang sudah cukup kronis," sambung Abercio lagi.


"Leukimia stadium tiga," ucap Abercio sambil menatap ke arah wajah Ciara yang saat itu sedang memerah menahan tangis.


"Katamu, kamu ingin menjadi gila sepertiku," ucap Abercio tiba-tiba. "Tentu saja aku menyukainya."


"Kamu harus menjadi wanita gila yang tak berperasaan di depan orang, tapi kamu boleh rapuh dan menjadi diri sendiri di depanku," imbuhnya.


Mendengarkan ucapan Abercio, seketika tangis Ciara membuncah tak tertahankan. Gadis itu meluapkan emosinya dan menangis terisak-isak sambil terus menyeka airmata yang mengalir di pipi.


"Haaa ... aku jadi menyesal mengatakan kebenarannya, padahal ini baru satu. Tapi dia sudah serapuh ini," gumam Abercio dalam hati.


"Terus ... Kak Darren, kenapa Daddy bilang dia dalang di balik semua kejadian ini?" tanya Ciara yang masih terisak-isak.


"Dia menjualmu kepada Andrew dan—"

__ADS_1


"Andrew? Maksud Daddy, Kak Andrew sahabat Kak Darren?" potong Ciara menatap terkejut ke arah Abercio.


"Yes. Darren menjualmu pada Andrew dan teman-teman Andrew. Jadi ... tujuh orang itu termasuk Andrew, mereka berpatungan mengumpulkan uang untuk di transfer kepada ayahmu yang saat ini sedang sangat membutuhkan uang. Mereka ingin ... argh!" Abercio tak dapat melanjutkan ucapannya.


Emosi Abercio seketika memuncak saat mengingat bahwa tujuh orang laknat itu menargetkan ingin memperkosa Ciara secara beramai-ramai. Rahangnya mengeras dengan pembuluh darah yang terlihat karena kedua tangannya ia kepalkan dengan sangat kuat. Ia mengeram dengan gigi yang bergetar karena menahan amarah.


"Mereka ingin?" tanya Ciara sambil mengerutkan keningnya menatap ke arah Abercio.


"Mereka ingin memperkosamu secara beramai-ramai, Ciara!" ketus Abercio dengan penuh emosi.


Tangis Ciara seketika berhenti. Matanya kembali membulat mendengarkan ucapan Abercio.


"Tapi 'kan Daddy juga membeliku pada—"


"Benar. Kalau bukan aku, kau sudah diperkosa oleh tujuh orang dan tubuhmu digilir! Jadi kumohon, mengertilah kenapa aku sampai berkorban seperti ini." Potong Abercio dengan suara yang sedikit lantang dan penuh penekanan.


"Aku berbuat jahat dan gila seperti ini bukan karena aku mau, tapi karena aku benar-benar tak ingin kehilangan dirimu."


"Kau begitu berharga buatku, Ciara. Ya meskipun kau baru hadir di hidupku," jelas Abercio panjang lebar dengan nafas yang memburu karena ia terbawa emosi.


Ciara terdiam. Begitu banyak hal yang sedang berkelabat di pikirannya. Lucy yang sakit, Darren yang berkhianat dan Abercio yang menghalalkan segala cara karena tak ingin ia terluka.


"Apa ... aku bisa mempercayai pria ini?" gumam Ciara dalam hati sambil menatap Abercio.


Abercio langsung bangkit dari duduknya. Ia tak tahan duduk berjauhan dari gadis itu. Kini ia duduk di sebelah Ciara dan memegang kedua bahu Ciara. Ia memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Ciara, begitu juga dengan gadis itu.


"Aku tau, kamu masih setengah percaya. Kalau aku jadi kamu juga aku masih nggak bisa percaya dengan semua hal yang terjadi secara tiba-tiba ini," ucap Abercio sambil menatap kedua mata amber Ciara.


"Tapi kali ini tolong percaya aku. Untuk menjadi gila, kamu harus melihat semua kebenaran terlebih dahulu, baru kamu boleh mengambil keputusan. Menjadi gila versi orang normal juga ada triknya, Baby," imbuh Abercio.


Ciara menatap kedua mata hazel Abercio. Ketulusan dan kejujuran yang Abercio ucapkan dapat terbaca dari kedua bola mata pria itu. Saat mengatakan hal-hal tentang kebenaran tadi, sesaat pun Abercio tak memalingkan matanya dari mata Ciara.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2