
...“Yang memutuskan mau atau tidak melakukan olahraga panas itu aku, bukan kamu. Tugasmu hanya pasrah tanpa perlawanan.” – Abercio Sanchez...
Sementara Milo menunggu dengan sabar di luar kamar, Abercio berusaha menggoda Ciara di atas ranjang. Pria bermata bermata elang dengan tubuh yang kekar itu memeluk gadis yang ia cintai dengan erat dari belakang. Kemudian ia mendaratkan dagunya ke bahu Ciara.
“Baby, I want you,” bisik Abercio.
“Tapi aku laper,” rengek Ciara sambil menoleh ke belakang menatap Abercio.
Abercio menghela nafasnya. Kemudian ia bergegas duduk sambil menatap ke arah Ciara. “Kamu mau makan apa?”
“Terserah,” jawab Ciara sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Abercio berfikir dengan keras. Restoran apa yang akan ia pilih untuk menjadi tempat di mana ia harus makan malam dengan Ciara. Pasalnya ia tak akan membiarkan gadis itu makan di rumah. Yang ada, nafsu makan Ciara hilang karena ada dua orang sampah yang kini sedang menempati kamar Megan.
Tok! Tok! Tok!
“Saya, Pak,” ucap Bart dari luar ruangan.
“Masuk.” Titah Abercio.
Bart membuka pintu tersebut. Namun pintunya tak bisa terbuka karena Abercio sudah menguncinya dari dalam.
“P-Pak, p-pintunya terkunci,” ucap Bart dari luar.
Ciara menatap ke arah Abercio dengan senyum yang penuh arti. Ia faham niat pria itu menyuruh Milo keluar dan menutup pintu. Sayangnya ini bukan waktu yang pas karena perutnya sedang lapar.
“Daddy,” panggil Ciara sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Abercio.
__ADS_1
“Aku nggak mau bercinta dulu. Soalnya besok mau ngampus,” bisik Ciara dengan sengaja.
Abercio langsung memandang Ciara dengan tatapan yang penuh arti. Sesaat kemudian senyuman penuh kelicikan tampil di wajah tampan pria dewasa itu.
“Sorry, Baby. Yang memutuskan mau atau tidak melakukan olahraga panas itu aku, bukan kamu,” bisik Abercio nakal, “tugasmu hanya pasrah tanpa perlawanan.”
Sesaat setelah mengatakan hal tersebut, Abercio langsung bangkit dari ranjang tanpa memberikan Ciara celah untuk merespon ucapannya. Ia menyeringai karena berhasil menggoda gadis itu sampai-sampai gadis itu terdiam melongo akibat ucapannya.
Ceklek!
Abercio membuka pintu kamar tersebut. Bart terlihat sedang berdiri di depan pintu. Milo pun sama, ia sedang berdiri sambil menunggu aba-aba dari Abercio.
“Milooo?” panggil Ciara dari dalam kamar.
“Auk! Auk! Hah… hah… hah…” Milo langsung menyahut dan berlari ke kamar. Kemudian ia langsung duduk di lantai bersebelahan dengan ranjang sambil menatap ke arah Ciara. Tatapannya sungguh meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
Bart terbelalak. Milo yang selama ini tergolong susah dekat dengan orang asing, kenapa sekarang ia begitu mudah dekat dengan Ciara? Padahal, Abercio sudah melatih anjing tersebut agar tak patuh pada sembarangan orang.
Bart langsung berdiri dengan tegap. Ia menatap ke arah Abercio dengan wajah datar andalannya. “Darren ingin menemui Ciara, Pak.”
“Haa…” Abercio menghela nafasnya. “Tunggu di bawah aja.”
...❣️❣️❣️...
“Ciara, emangnya kenapa sih aku nggak bisa naik ke atas?” Darren bertanya dengan ekspresi wajah yang tegang. Matanya membulat seolah-olah ingin meluapkan kekesalannya kepada Ciara.
“Padahal kamu di atas selantai loh dengan bajingan ini!” Darren menunjuk ke arah Abercio yang saat ini sedang berdiri di samping Ciara.
Ciara mendadak gugup. Sebelumnya ia tak tahu bahwa Abercio memerintahkan pengawal untuk berjaga di tangga dan berpatroli di dalam rumah. Ia juga tak menyangka bahwa Darren dan Markus dilarang untuk naik ke lantai dua. Jadi … sekarang ia tak tahu harus memberikan alasan apa pada kakaknya itu.
__ADS_1
“Demi keamanan Ciara,” ucap Abercio datar. “Aku nggak mau terjadi sesuatu padanya.”
Bagaimana tak meledak emosi Darren saat Abercio mengatakan hal tersebut? Padahal dia itu kakak Ciara! Memangnya dia ancaman bagi Ciara?! Apa jangan-jangan ayah tiri yang enggan ia anggap sebagai ayah sambung itu mengetahui rencana liciknya?
“Kau menuduhku i—”
“Sampai penyelidikan selesai,” potong Abercio muak. Ia benar-benar tak ingin terlibat pembicaraan dengan pria munafik tersebut. Tapi ia bersabar karena memiliki rencana dengan Ciara. Rencana yang sengaja ia buat untuk menyiksa pria itu secara perlahan. “Setelah itu semuanya akan kembali normal.”
“Kak … besok Ciara mau ke Black Moon,” celetuk Ciara tiba-tiba.
Darren terbelalak kaget. Ada urusan apa gadis itu ke Black Moon? Bukankah Black Moon itu adalah Night Club yang terkenal dengan banyaknya kejahatan, prostitusi dan hal-hal gelap di dalam sana? Meskipun itu adalah Bar dan Night Club yang terkenal akan kemewahannya.
“Ciara mau ngerayain ultah Gea,” ucap Ciara berdusta. “Daddy Cio nggak bisa ikut karena ada meeting sampai malam.”
Seketika wajah Darren berubah. Ada senyum licik yang terpampang di wajah itu. Tapi ia menutupi senyuman tersebut dengan memalingkan wajahnya ke samping. Sayangnya Abercio dapat melihat wajah licik tersebut.
“Ck! Aku penasaran bagaimana jadinya nanti senjata makan tuan,” gumam Abercio dalam hati.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
...❣️❣️❣️❣️❣️...
...Kalo mau tau kisah kelam Night Club BLACK MOON, yuk mampir ke novel BONEKA TUAN DEBT COLLECTOR. Udah tamat kok. Hanya 57 Bab! ...
...BONEKA TUAN DEBT COLLECTOR...
__ADS_1
...By : SHENINNA SHEN...