
..."Aku juga ingin bahagia dan hidup normal seperti orang lain." – Ciara A. Garnacho...
Drrttt... Drrtttt...
Nomor tak dikenal memanggil. Ciara mengerutkan keningnya menatap heran ke layar ponsel. Apa jangan-jangan itu Mommy, pikirnya saat itu.
Dengan hati yang girang, Ciara mengangkat ponselnya di sore itu tanpa sedikitpun rasa curiga.
"Halo!" seru Ciara.
^^^"Halo, Ciara."^^^
Ciara terdiam. Yang menghubunginya saat itu bukanlah Lucy. Tapi suara pria asing yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
"Siapa?"
^^^"Ciara Alejandro Garnacho. Sekarang di Hotel Leonidas lantai sembilan kamar nomor 1047."^^^
Sekujur tubuh Ciara mendadak bergetar. Siapa pria itu?! Bagaimana pria itu bisa mengetahui keberadaannya saat ini? Dan apa maunya?!
^^^"Kamu nggak lupa 'kan dengan Daddy Markus?"^^^
Bak di sambar petir di siang bolong. Ciara mendadak tersentak dengan mata yang melotot. Bibirnya bergetar dengan hebat karena ketakutan. Detak jantung menjadi kencang dan tak normal. Nama yang sudah beberapa tahun ini tak ia dengar, kenapa tiba-tiba terdengar lagi?!
^^^"Hidupmu enak sekarang ya?"^^^
^^^"Tinggal dengan Daddy yang kaya raya dan melupakan Daddy Markusmu yang sedang bangkrut?"^^^
Ciara langsung mematikan ponsel tersebut. Ia benar-benar tak ingin mendengarkan apapun tentang Markus Alejandro Garnacho. Pria yang memberikan trauma mendalam di hidupnya.
"A-aku harus meninggalkan hotel ini!"
Ciara bergegas mengganti dress hitam yang semalam ia gunakan dan melempar sembarangan jubah mandi yang tadi ia pakai. Kemudian, ia tak mempedulikan bagaimana bentuk wajahnya yang sedang pucat tanpa sentuhan makeup. Ia tak peduli! Yang jelas ia harus segera meninggalkan hotel itu!
Drrtt... Drrttt...
Panggilan dari nomor tak dikenal itu terus-terusan menghubunginya tanpa henti.
Ciara meraih tas selempangnya dan memakai heels dengan tergesa-gesa. Kemudian ia berlari menuju lift untuk meninggalkan hotel tersebut.
"Ke mana, Mbak?" tanya supir taksi yang Ciara tumpangi saat ini.
"Ampera, Pak." Pinta Ciara. Ia berfikir untuk pergi ke kontrakan Gea dan meminta bantuan ke sahabatnya itu.
Ting! Ting!
^^^"Kemanapun kamu pergi, Daddy Markus pasti akan menemukanmu."^^^
__ADS_1
^^^"Katakan, di mana Lucy berada?"^^^
Beberapa pesan masuk dari nomor tak dikenal tadi. Ciara semakin ketakutan saat membaca pesan tersebut.
"Pak, maaf ke Hotel Nerium Oleander aja," pinta Ciara.
Pikir gadis itu, hotel terbesar se-Asia Tenggara yang terkenal itu pasti aman dan pasti memiliki penjagaan privasi tamu yang begitu ketat. Jadi, pria yang menghubunginya tadi tak akan mengetahui keberadaannya.
Ciara tak ingin melibatkan Gea dalam permasalahannya saat ini. Apapun yang terjadi biar ia saja yang menanggungnya. Jangan sampai orang lain ikut terlibat.
Setibanya di lobby Hotel Nerium Oleander, petugas hotel membukakan pintu taksi dan menyambut kedatangan Ciara. Ciara langsung bergegas menuju resepsionis untuk memesan kamar.
"Pembayarannya berhasil. Kamar 2301 lantai 35 ya, Mbak," ucap resepsionis tersebut sembari mengembalikan kartu kredit dan memberikan kartu akses untuk kamar yang Ciara pesan tadi.
Drrttt... Drrttt...
Lagi-lagi nomor asing tadi menghubungi Ciara berulang kali. Ciara tak peduli dengan panggilan tersebut. Ia bergegas menuju lift agar bisa segera menuju kamar yang diberitahukan oleh resepsionis tadi.
Ting! Ting! Ting!
^^^"Mau ke mana Ciara?"^^^
^^^"Kamu sekarang di Hotel Nerium Oleander, 'kan?"^^^
^^^"Dress hitam dengan rambut yang tergerai?"^^^
Brak!
"B-bagaimana dia bisa mengetahui keberadaanku?!" gumam Ciara lirih.
Ciara membalikkan tubuhnya dan menelisik ke seisi lantai dasar tersebut. Matanya berkeliling dengan tegang dan kaku untuk mencari-cari sosok yang mencurigakan dengan sorot mata ketakutan dan wajah yang begitu pucat.
Drttt... Drrttt...
Lagi-lagi nomor tersebut menghubunginya.
"Mbak, hp-nya jatuh," ucap salah seorang petugas hotel. Wanita muda tersebut mengambil ponsel Ciara dan memberikannya pada Ciara.
Ting!
"Silahkan, Mbak. Pintu liftnya udah terbuka. Mbak mau ke lantai berapa? Biar saya bantu," ucap wanita tersebut.
Ciara hanya diam tanpa berkata-kata. Tangannya yang gemetaran mengambil ponsel miliknya dari petugas hotel tadi. Kemudian ia memaksakan senyumnya.
"M-makasih. N-nanti saya ke sini lagi," ucap Ciara.
Ciara memberanikan dirinya mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal tadi sembari ia berjalan tak tentu arah di lantai dasar hotel yang mewah dan megah tersebut.
"Apa maumu?!" Ciara memberanikan dirinya bertanya pada pria yang menyebalkan itu.
__ADS_1
^^^"Di mana Lucy?"^^^
"Aku nggak tau!"
^^^"Keberadaan Mommy sendiri nggak tau."^^^
^^^"Sepertinya kau harus diculik biar Mommy mu datang sendiri pada Daddy Markus."^^^
"Anda siapa?! Ada urusan apa dengan Mommy dan Markus?!"
^^^"Wah. Wah. Wah."^^^
^^^"Mentang-mentang punya Daddy baru, kamu hanya menyebut Markus, ya?"^^^
^^^"Aku orang kepercayaan Daddy Markus."^^^
^^^"Kata beliau, dia merindukan Lucy."^^^
"Brengsek!" umpat Ciara dengan penuh amarah. "Katakan pada pria bajingan itu, jangan pernah menghubungi Mommy lagi. Kalau sampai dia menyentuh Mommy lagi, aku nggak segan-segan untuk membunuhnya!"
Ciara langsung mematikan ponselnya tanpa membiarkan pria tersebut merespon ucapannya. Setelah itu Ciara berlari meninggalkan hotel tersebut.
Bruk!
"Aw!" Ciara meringis kesakitan saat kakinya jatuh terkena aspal. Lututnya mendadak lecet dan terluka.
"Mbak," salah seorang security di lobby depan hotel megah tersebut membantu Ciara bangun.
Ciara bangkit dan tak mengatakan apa-apa. Lalu ia kembali berlari menggunakan heels tingginya tanpa peduli dengan kakinya yang saat itu sedang terluka.
"Aku harus pergi!" gumam Ciara sambil berlari tanpa tujuan. Sesekali ia melihat ke sekeliling untuk memastikan tak ada satupun yang sedang mengikutinya.
Drrttt... Drrttt...
"Sial!" umpat Ciara kesal. Sembari berlari, ia mematikan ponselnya agar nomor tak dikenal itu tak lagi mengusiknya.
Bruk!
Ciara menabrak tubuh seorang pria saat ia sedang berlari. Tubuhnya tak jatuh karena langsung di dekap dengan erat oleh pria yang ia tabrak saat itu. Entah kenapa, ia bergidik ngeri seketika.
"A-apa aku benar-benar akan diculik dan disekap? Lalu, aku disiksa lagi?" pikir Ciara dalam hati.
Tanpa berani melihat ke arah wajah pria tersebut, sekujur tubuh Ciara sukses bergetar dengan sangat hebat! Bahkan bibirnya mendadak membiru dengan wajah yang pucat pasi saking takutnya ia akan kejadian menyeramkan yang pernah ia terima saat kecil dulu.
"J-jangan siksa aku. Ku mohon," isak Ciara sembari kedua tangannya ia tangkupkan dan memelas memohon kepada pria yang ia tabrak tadi tanpa ia ketahui siapa pria itu.
"Aku ... aku juga ingin bahagia dan hidup normal seperti orang lain, hiks... hiks...." Isak Ciara ketakutan dan frustasi.
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG......