Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Bahagia Tanpa Derita Lagi


__ADS_3

...“Mommy … cepatlah sehat. Kedepannya, ayo kita hidup bahagia tanpa derita lagi.” – Ciara A. Garnacho...



Malam begitu larut, namun Ciara tak bisa tidur. Padahal, Abercio sudah terlelap sejam yang lalu karena pria itu begitu lelah akan pekerjaan yang tak kunjung selesai di ruang kerjanya.


Ciara duduk dari tidurnya dengan perlahan. Ia tak ingin membuat Abercio terbangun dari tidurnya. Gadis itu melangkahkan kakinya menapaki lantai. Kemudian ia berjalan menuju balkon yang ada di kamar tidur Abercio itu.


Semilir angin malam bertiup lembut saat ia membuka pintu tersebut. Tirai sampai ikut menari-nari karena terpaan angin malam itu. Begitu juga dengan dress tidur satin yang Ciara gunakan. Dress tersebut membentuk tubuh Ciara saat terpaan angin menyentuh tubuhnya.


“Mommy … cepatlah sehat. Kedepannya, ayo kita hidup bahagia tanpa derita lagi,” lirih Ciara pelan sembari membawa rambut yang menggelitiki wajahnya yang terkena angin ke belakang daun telinga.


Ciara mencoba memejamkan kedua matanya. Ia mengangkat wajahnya untuk merasakan sentuhan lembut dari angin malam itu.


...“Mas, sakit. Jangan pukul aku lagi, Mas.”...


...“Mas … aku salah. Jangan pukul Ciara.”...

__ADS_1


...“Mas, maaf. Maaf karena aku ketiduran. Padahal demamku nggak seberapa.”...


...“Siapa wanita itu, Mas? Apa kurangku selama ini?”...


...“Mas, jangan pukul Ciara. Pukul aku aja, Mas.”...


Isak tangis dan perkataan-perkataan memohon serta memelas Lucy kembali terlintas dipikiran Ciara. Entah kenapa, suara tangis Lucy masih terekam begitu jelas di telinga dan kepalanya. Padahal, kejadian itu telah berlalu begitu lama sejak kedua orangtuanya bercerai.


“Mommy harus sehat. Ciara yakin Mommy kuat,” gumam Ciara.


Di saat yang sama, saat di mana Ciara sedang berada di balkon, tiba-tiba Abercio menggerakkan tangannya untuk mengubah posisi tidur. Matanya terbelalak dengan paksa saat ia meraba-raba ke samping. Tak ada tubuh Ciara di sisinya. Ke mana gadis itu?!


“Haaa…” Abercio menghela nafasnya sembari menyeka wajahnya. “Dia tak akan pergi Abercio. Tenanglah.”


Abercio tak tahan membiarkan gadis itu di luar. Apalagi terkena angin malam. Bagaimana jika nanti gadis itu sakit? Bagaimana jika nanti gadis itu demam dan terkena flu? Ia langsung bergegas menuruni ranjang dan berjalan menuju ke balkon.


“Baby … kenapa di sini? Hmm?” Abercio memeluk tubuh Ciara dari belakang. “Kamu nggak bisa tidur?”

__ADS_1


Ciara membalikkan tubuhnya ke belakang menghadap Abercio. Seperti biasa, ia menatap Abercio menggunakan tatapan andalannya untuk meluluhkan hati pria itu.


“Daddy … aku boleh telfon Mommy? Aku kangen Mommy,” ucap Ciara memelas. “Please?”


"Pake hp Daddy aja, nggak apa-apa. Lagian 'kan sekarang di US 'kan siang? Jadi ... Mommy pasti nggak akan terganggu."


Abercio menghela nafasnya. Lagi pula ia tak bisa terus-terusan merahasiakan pada Lucy bahwa anaknya sudah tahu tentang penyakitnya. Ia juga tak tega memisahkan anak dan ibu ini terlalu lama.


“Hmm.” Abercio mengangguk pelan sambil membelai lembut kepala Ciara.


“Really?!” tanya Ciara dengan kedua mata yang sempurna terbelalak dan senyuman yang begitu lebar menghiasi wajahnya.


“Tapi telfonnya di dalam kamar. Aku nggak mau kamu sakit karena kena angin malam,” ucap Abercio sambil mencubit gemas pipi Ciara.


“Okay, Daddy!” seru Ciara. “Let’s go!”


Ciara langsung memutarkan tubuh Abercio. Kemudian ia mendorong tubuh pria itu dari belakang karena sudah tak sabar ingin segera menghubungi Lucy. Abercio tak mampu menahan tawanya saat melihat tingkah menggemaskan gadisnya itu.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2