
...“Yang sudah menikah seperti kita aja bisa bercerai. Di mana ada pernikahan, selalu ada perceraian! Mereka itu berdampingan!”” – Randy Sanchez...
Dua puluh lima tahun yang lalu.
Abercio yang saat itu berusia lima tahun, ia berlari dengan girang memasuki rumahnya sembari menggendong Luffy, anjing pom pom kesayangannya yang berwarna putih.
Anak yang masih polos dan tak tahu apa-apa itu menatap seisi ruangan rumah mewah yang menjadi hunian ia sekeluarga. Ia mencari-cari ayah dan ibunya yang tak terlihat.
“Mungkin Mama lagi di atas,” ucap Abercio sambil menatap ke arah Luffy.
Kemudian anak kecil itu berjalan menapaki tangga satu per satu. “Luffy, nanti kamu juga harus menari di depan Mama dan Papa, ya? Menari seperti tadi.”
“Pokoknya aku mau cerai,” ucap seorang wanita paruh baya dengan suara yang begitu lantang.
Abercio yang saat itu sedang berada di tangga saja dapat mendengarkan suara Eve, seorang wanita paruh baya yang dipanggil Mama olehnya.
Eve yang saat itu sedang hamil tua, ia mengutarakan dengan gamblang keinginannya untuk bercerai dengan suaminya, Randy. Pria yang sudah menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga selama tujuh tahun.
“Ck!” Randy berdecak sebal sembari bertolak pinggang. Ia yang semula tertunduk karena menahan kesal, kini ia mengangkat wajahnya. Ia menatap bengis wajah Eve yang saat itu sedang hamil tua.
“Cerai?” tanya Randy. “Okay! Aku lebih leluasa bersama dengan Cindy kalau kita bercerai.”
Airmata perlahan membasahi pipi Eve. Ia tak menyangka pria pilihan ayahnya itu ternyata bukanlah pria yang baik-baik. Dulu, ia menerima perjodohan dengan Randy karena dorongan kata-kata bahwa pilihan orangtua yang terbaik. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
“Jadi, apa arti diriku selama ini untukmu, Mas? Apa pernikahan ini segitu tak berarti? Sampai-sampai kamu lebih memilih Cindy ketimbang aku istri sahmu?” isak Eve pilu.
__ADS_1
Randy melangkah perlahan mendekat ke arah Eve yang saat itu terus menerus mengelus perutnya tanpa henti.
“Pernikahan?” ucap Randy dengan ketus. Kemudian ia menyeringai setengah.
“Kamu percaya pernikahan? HAHAHA!!! Yang sudah menikah seperti kita aja bisa bercerai,” imbuh Randy dengan angkuh. “Di mana ada pernikahan, selalu ada perceraian! Mereka itu berdampingan!”
“Itu lah kenapa aku tak pernah percaya dengan yang namanya pacaran atau pernikahan. Aku menikahimu hanya karena menuruti perjodohan yang orangtua kita lakukan dulu.”
Plak!
Hati Eve begitu sakit bak diiris sembilu mendengarkan tutur kata kasar dan angkuh dari pria yang merupakan ayah dari kedua anaknya itu. Ia tak menyangka bahwa pria itu begitu tega pada dirinya yang telah menemaninya dengan setia hampir tujuh tahun.
“Jadi … kamu lebih memilih Cindy, wanita yang sudah menemanimu sejak SMA itu?” tanya Eve sambil memaksakan senyumnya. Ia menyeka airmatanya dan mengangkat wajah yang sebelumnya tertunduk. Ia tak ingin menjadi lemah.
“Hmm. Aku akan bersamanya karena hubungan kami tak akan pernah ada kata pisah, putus ataupun cerai,” sahut Randy sambil meraih jasnya yang ada di atas ranjang. "Kami tidak tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi dekat. Sangatttt dekat."
“Terakhir kalinya aku bertanya,” ucap Eve dengan suara yang getir. “Selama tujuh tahun ini, apa benar Mas tak pernah mencintaiku?”
“Tak ada setitik pun cinta selama tujuh tahun ini selain nafsu,” tegas Randy lugas. Kemudian ia menarik kembali tubuhnya dan berdiri dengan tegap menatap Eve.
“Kedua orangtuaku sudah tiada. Jadi, tanggung jawabku sebagai anak juga sudah selesai untuk menikah dengan wanita pilihan mereka,” sambung Randy dingin.
“Kau boleh tinggal di rumah ini dengan dua anak kita. Aku akan memberikan rumah ini padamu sebagai rasa terima kasih karena telah berbakti pada kedua orangtuaku.”
Randy mengatakannya dengan gamblang tanpa sedikitpun penyesalan dan rasa bersalah. Kemudian ia menatap pantulan dirinya di depan cermin sembari membetulkan jas yang saat itu ia pakai.
“Oh … tenang saja. Aku akan memberikan enam puluh persen hartaku pada Abercio. Dia akan hidup mewah tanpa sedikitpun kekurangan,” ucap Randy angkuh. “Dengan harta yang tersisa saja aku masih bisa hidup tenang.”
__ADS_1
“Karena Cindy juga orang berada yang berbeda denganmu. Miskin,” sambung Randy menatap jijik ke arah Eve yang saat itu terlihat di pantulan cermin.
Tes! Tes! Tes!
Airmata tersebut tak terbendung lagi. Turunnya semakin deras membasahi pipi Eve. Ia menangis sesenggukan mendapatkan penghinaan dari pria yang selama ini ia cintai sepenuh hati.
“Mas …” panggil Eve sambil berjalan mendekat ke arah Randy. Kemudian ia berdiri di depan Randy yang saat itu sedang bercermin.
“Permintaan terakhirku …” isak Eve sambil mencoba mengatur nafasnya dan berusaha menghentikan tangisnya. “Aku ingin menjadi istri Mas untuk yang terakhir kalinya.”
Randy menatap heran ke arah Eve. Ia tak mengerti dengan ucapan Eve yang berbelit-belit itu. “Haaa… kamu ini ngomong apa sih? To the point aja deh.”
Eve mengangkat tangannya yang saat itu gemetaran. Ia membetulkan dasi Randy yang miring dan menepuk pelan jas Randy yang ada sedikit noda debu. “Kecup keningku untuk terakhir kalinya, Mas.”
“Setelah itu …” Eve kembali terisak. “Setelah itu Mas boleh meninggalkan rumah ini.”
Randy menghela nafasnya. Tingkah Eve itu begitu membuatnya tak senang. Tapi ini untuk terakhir kalinya ‘kan? Ya sudah. Ia pun memegang kedua pipi Eve dan mengecup kening wanita itu dengan malas.
“Papa jahat!” seru Abercio yang sejak tadi menahan marahnya dari celah pintu kamar yang terbuka.
Luffy yang saat itu berada di pelukan Abercio, ia langsung turun dan anjing itu menyalak ke arah Randy. Seolah-olah ia tahu apa yang saat itu sedang terjadi.
Abercio tak tahan lagi. Ia bergegas masuk ke dalam kamar tersebut dan memukul Randy dengan penuh amarah. “Kenapa Papa jahat sama Mama?!”
Randy tak peduli. Ia bergegas pergi meninggalkan Eve dan Abercio yang saat itu sedang menangis menatap kesal ke arahnya.
Sesaat setelah Randy pergi, Eve memeluk Abercio dengan perasaan yang berkecamuk. “Maafin Mama, Nak. Mama nggak bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu.”
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...