Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Seharusnya Aku ....


__ADS_3

...“Sial! Sebenarnya apa yang sudah ku lewati? Bahkan pagi tadi aku masih bisa tersenyum senang saat mahkotaku ia renggut. Seharusnya ‘kan aku marah? Seharusnya ‘kan aku ….” – Ciara A. Garnacho...



"Kamu yakin cuma sarapan sama roti aja?" tanya Abercio sambil menoleh ke arah Ciara. Kemudian ia kembali fokus mengendara menatap jalanan yang saat itu tak begitu padat.


Ciara hanya mengangguk pelan. Setelah percakapan singkat pagi tadi, Ciara lebih banyak diam dan tak berkata apa-apa. Pikirannya berkecamuk karena ucapan Abercio yang begitu tak masuk akal baginya.


"Terus ni hubungan mau di bawa kemana kalo endingnya nggak nikah?" celetuk Ciara pelan sambil matanya melihat ke arah luar jendela di samping kiri.


"Kenapa, Sayang? Aku nggak dengar," ucap Abercio sambil menoleh ke arah Ciara sesaat.


"Ha?" Ciara menoleh ke arah Abercio. Ia benar-benar tak sadar dengan celetukannya tadi. Entah kenapa bibirnya itu tak bisa di rem.


"Tadi kamu ngomong apa, Baby? Aku nggak denger," tanya Abercio sembari melihat spion kanan. Ia menyeringai dengan wajah suram dan dingin.


Abercio mendengarkan dengan jelas apa yang Ciara gumamkan tadi. Hanya saja pria itu memilih untuk berpura-pura tuli karena ia tak ingin membahas persoalan yang amat sangat ia benci itu.


"Oh ... nggak. Aku bilang bosan di rumah. Soalnya nggak ada Mommy," celetuk Ciara berdalih dan tak ingin berterus terang.

__ADS_1


Tiba-tiba dia tersentak kaget. Entah kenapa ia melewatkan satu point penting. Ke mana Markus dan Darren? Kenapa dia bisa pusing dan tubuhnya mendadak aneh malam tadi? Lalu ... kenapa dia bisa berada di kamar hotel. Buka mata langsung ada Abercio di sampingnya.


"Sudah kuperingatkan, Bart. Jangan melewati batasmu."


"Tapi ... kau benar-benar tak mengindahkan ucapanku dan berlaku sesukamu."


"Sepertinya, kau harus ku berikan hukuman yang berat, Bart."


"Tapi ini nggak benar, Pak."


"Bagaimana jika nanti dia tau ka—"


Ciara langsung menoleh ke arah Abercio dengan ekspresi wajah yang suram. Entah kenapa ia mendadak bergidik. Dan lagi, ucapan Bart yang sempat dipotong oleh Abercio cukup memaksa otaknya untuk berfikir keras.


"Tapi ini nggak benar, Pak. Bagaimana jika nanti dia tau …”


"Tapi ini nggak benar, Pak. Bagaimana jika nanti dia tau …”


"Tapi ini nggak benar, Pak. Bagaimana jika nanti dia tau …”

__ADS_1


Memangnya apa sih yang terjadi malam tadi? Ada hal tersembunyi apa yang sebenarnya tak ia ketahui? Tentang Lucy saja ia tak tahu sampai sekarang keberadaan wanita itu di mana? Bahkan dalam sebulan ini, pria di sampingnya itu sukses mengalihkan fokusnya dari Lucy dan Darren. Memangnya, sekuat apa sih pengaruh dan aura pria itu sampai-sampai ia bisa melewatkan dua orang penting di hidupnya.


“Sial! Sebenarnya apa yang sudah ku lewati? Bahkan pagi tadi aku masih bisa tersenyum senang saat mahkotaku ia renggut. Seharusnya ‘kan aku marah? Seharusnya ‘kan aku ….”


"Kenapa, Sayang?" tanya Abercio sambil menoleh ke arah Ciara dan tersenyum seperti tak terjadi apa-apa.


Ciara mendadak tersentak dari lamunannya. Perasaannya semakin tak tenang saat melihat senyuman di wajah pria itu. Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Abercio di balik senyumannya itu.


Ciara memaksakan senyumnya dengan mata yang berkedip dengan cepat. Ia merasa tertekan dan tak nyaman berlama-lama duduk di sebelah pria yang sulit ditebak itu. “Nggak apa-apa, Daddy.”


“Oh iya, hp aku masih sama Daddy nggak?” tanya Ciara yang berusaha mencari topik pembicaraan.


“Hp kamu masih sama Bart. Mau beli hp baru aja?” tanya Abercio dengan tatapan lurus ke depan.


Ciara mengerutkan keningnya. Ponselnya ada pada Bart? Lalu, kenapa kemaren sewaktu ia ingin berswafoto Bart tak mengatakan apa-apa saat ia bilang bahwa ponselnya ada pada Abercio? Bart malah memberikan ponsel miliknya.


“Haaa … terlalu banyak yang mencurigakan di rumah ini,” gumam Ciara dalam hati saat mobil yang ia tumpangi memasuki pekarangan rumah mewah Abercio.


...❣️❣️❣️...

__ADS_1


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2