
...“Aku juga udah medical check up. Tubuhku bersih dari penyakit dan tak ada tanda-tanda HIV. Jadi … kapan kita mulai bercinta?” – Abercio Sanchez...
Usai memerintahkan Axel dan Bart, Abercio keluar dari ruang kerjanya dan pergi ke kamar. Ia tak sabar ingin segera memeluk gadis itu. Gadis yang sudah sebulan ini menjadi incarannya.
“Ciara?”
Abercio mencari-cari gadis itu dengan wajah yang panik. Ciara tak ada di sana. Kemana dia? Di kamar mandi pun gadis itu tak ada. Lalu Abercio bergegas ke kamar Ciara. Gadis itu juga tak ada di sana. Dengan wajah yang panik, Abercio bergegas menuruni tangga setengah berlari.
“Axel! Bart!” teriak Abercio dengan suara yang cukup lantang sehingga cukup menggema di rumah yang besar dan hampa itu.
“Axel! Bart!” teriak Abercio lagi saat berhasil menapaki lantai satu. Ia berjalan melewati ruang makan untuk menuju ke ruang tamu dan pintu keluar.
“Iya, Pak.” Sahut Axel dan Bart secara bersamaan dengan panik.
Kedua pria itu tak kalah panik saat mendengarkan suara Abercio yang berteriak panik memanggil mereka. Beberapa pengawal di depan juga ikut masuk ke dalam rumah karena tak biasanya Abercio seperti itu. Apa ada yang menyusup masuk ke dalam?
“Cari Ciara! Dia menghilang!” perintah Abercio kepada semuanya. Abercio bertolak pinggang sambil satu tangannya ia gunakan untuk menjambak rambutnya ke atas karena frustasi.
Padahal, baru pagi tadi pria itu mengungkapkan perasaannya pada gadis itu untuk menjadi wanitanya. Dan gadis itu menyetujuinya bahkan memberikan lampu hijau. Lalu kenapa sekarang ia pergi dan menghilang? Apa sih mau gadis itu?! Abercio benar-benar murka dan amarahnya mendadak meledak seketika.
“Cek cctv! Cari dia sekarang! Pasti dia belum kabur terlalu jauh!” perintah Abercio dengan rahang mengeras dan mata yang melotot.
“T-tapi, Pak—”
“Sekarang!” bentak Abercio dengan lantang. “Jangan membuatku kesal!”
Abercio tak memberikan anak buahnya kesempatan untuk berbicara. Ia membalikkan badannya dan kembali ingin menapaki tangga. Namun ia urungkan niatnya karena haus dan ingin mengambil minum ke dapur.
“Sial! Belum apa-apa udah kabur!” umpat Abercio kesal.
Saat ia berjalan ke dapur, semua pengawal termasuk Axel dan Bart hanya menatapi punggung majikannya itu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas.
Di saat yang sama, Ciara sedang berada di dapur sembari memasakkan nasi goreng khas buatannya sambil bersenandung ria. Ia mendengar suara teriakan Abercio memanggil Axel dan Bart. Pikirnya urusan pekerjaan, jadi ia tak peduli dan melanjutkan masak. Karena setelah memanggil Bart dan Axel, ia tak tahu apalagi yang Abercio perintahkan pada kedua anak buahnya itu.
“Okay, sarapannya udah selesai. Hehehe. Udah lama aku nggak masak,” gumam Ciara dengan perasaan yang puas.
__ADS_1
Ciara berjalan ke wastafel tempat cuci piring. Ia mencuci tangannya yang kotor terkena bumbu dapur. Saat itu juga Abercio masuk ke dapur untuk mengambil gelas.
“Ciara?!” seru Abercio terkejut dengan mata yang terbelalak. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya menatap ke arah Ciara. Itu benar Ciara, 'kan?!
Ciara menoleh ke belakang sembari mematikan kran air dan menyeka tangannya yang basah ke celemek yang ia pakai saat ini.
“Daddy,” sapa Ciara sambil tersenyum dengan sangat manis. Terlebih lagi saat itu rambutnya dikuncir kuda.
Abercio langsung berlari ke arah Ciara dan memeluk gadis itu dengan sangat erat sampai-sampai Ciara kesulitan bernafas!
“Hmphhh! D-Daddy …” Ciara meronta-ronta sambil berusaha menaikkan wajahnya yang dibawa tenggelam oleh Abercio ke dada bidang pria itu.
“Haaa… aku pikir kamu kabur dan meninggalkanku lagi,” gumam Abercio lirih. Ia benar-benar frustasi setengah mati saat kehilangan gadis itu tadi. Namun sekarang ia bernafas lega saat mendapati Ciara masih ada di rumah itu dan tak pergi ke mana-mana.
“Haa … haa … haa …” Ciara bernafas dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena tadi ia sempat kesulitan bernafas akibat dekapan erat Abercio.
“Daddy kenapa? Emangnya Ciara kabur ke mana?” gerutu Ciara manja namun dengan wajah yang cemberut.
“A-aku pikir kamu bakalan kabur dan meni—”
Cup!
“Nggak lah. Ngapain Ciara pergi ninggalin orang yang Ciara sayang?” celetuk Ciara pelan sambil mengambil piring dan gelas.
Abercio terbelalak mendengarkan ucapan Ciara. Ia menatap wajah Ciara yang sepertinya biasa-biasa saja saat mengatakan hal tadi. Entah kenapa ia tak puas hati. "Ulang. Apa katamu tadi?”
Ciara tersenyum. Namun ia tak menggubris ucapan Abercio. Ia sibuk menyendoki masakannya ke atas piring.
Abercio baru sadar bahwa gadis itu memasak sarapan. Ia berjalan mendekat ke arah Ciara dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
“Ish! Daddy! Ntar nasinya tumpah, Daddy sarapan pake apa?” rengek Ciara manja.
Abercio tak peduli. Ia mencium tengkuk gadis itu dan semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa, rasanya begitu bahagia melihat Ciara yang memasakkan sesuatu untuk sarapannya.
“Sejak kapan kamu bisa masak?” bisik Abercio pelan.
“Dari dulu. Gini-gini aku juga bisa masak. Bukan Megan doang tuh yang bisa masak,” celetuk Ciara yang tanpa sadar menampakkan rasa cemburunya pada wanita itu.
__ADS_1
Abercio mengulum senyum. Ia dapat menangkap sinyal cemburu dari gadis itu. Entah kenapa, ia ingin sekali mengusik gadis itu. “Kenapa kamu manggil namanya Megan? Padahal dia lima tahun lebih tua loh dari kamu?”
Ciara mencengkeram piring yang ia pegang dengan sangat kuat. Lalu ia letakkan piring tadi ke atas meja dan berbalik menghadap ke Abercio.
“Megan lagi, Megan lagi. Dia mulu! Daddy, kalo Daddy nggak bisa move on dari dia, ngapain Daddy manggil aku balik ke sini? Huh? Kalo alesannya cuma karna Mommy, Daddy nggak usah khawatir. Aku bisa jaga diri kok! Emangnya aku anak kecil? Kan Daddy tau, aku nggak sepolos itu. Aku—”
Cup!
Abercio membungkam mulut Ciara yang tak henti-henti nyerocos itu menggunakan mulutnya. Ia memberikan sebuah kecupan pada bibir Ciara dengan penuh kasih sayang.
“I’m sorry, Baby. Maaf aku terlambat menyadari kalau kamu seberharga ini,” gumam Abercio lirih dengan tatapan yang penuh kehangatan menatap Ciara.
“Aku nggak akan meminta dia kembali lagi ke rumah ini,” sambung Abercio.
Ciara mengerutkan keningnya. Ia juga merasa aneh. Sejak semalam ia tak melihat sosok wanita pelacur itu di sana. “Emangnya dia kemana?”
“Katanya sih ijin buat aborsi. Terus—"
“A-aborsi?!” Ciara terbelalak kaget. “Dia beneran melakukan itu?!”
“Hmm.” Abercio menaikkan kedua alisnya sembari bibirnya melengkung ke bawah. “Dia juga bilang nggak tau itu anak siapa.”
“Anak Daddy mungkin,” celetuk Ciara yang mulai kesal lagi karena mengingat Abercio pernah bercinta dengan pelacur itu. Ciara kembali membelakangi Abercio karena rasa kesalnya mulai menyeruak di dada.
“Nggak, Sayang. Aku selalu menggunakan pengaman saat bercinta,” lalu Abercio mendekatkan bibirnya ke telinga Ciara yang kini sedang membelakanginya.
“Aku juga udah medical check up. Tubuhku bersih dari penyakit dan tak ada tanda-tanda HIV,” bisik Abercio.
“Jadi … kapan kita mulai bercinta?”
Deg! Deg! Deg!
Lagi-lagi jantung Ciara berdetak dengan kencang. Wajahnya sempurna memerah bak udang rebus kali ini. Memerah karena malu mendengarkan ucapan vulgar Abercio.
“Ayo sarapan, Daddy.” Ciara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dan enggan menatap wajah Abercio karena malu.
Abercio tersenyum puas dan lega saat melihat ekspresi Ciara yang menggemaskan itu. Ingin rasanya ia memakan gadis itu saat ini juga, tapi ia berusaha menahan diri agar tak terlalu gila. Karena, jika ia terlalu gila, bisa-bisa gadis itu pergi meninggalkannya lagi.
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...