
...“Aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya menjadi gila. Untuk menjadi Ratu dari Raja yang gila, kamu juga harus menjadi gila, Baby. Kau harus menjadi wanita yang tangguh untuk berada di sisiku.” – Abercio Sanchez...
Setelah melewati pergumulan yang panjang, akhirnya Ciara kembali terlelap karena kelelahan.
Abercio bangun dari tidurnya yang kurang lebih hanya lima belas menit. Ia menatap wajah Ciara dengan penuh kehangatan. Tatapan yang tak pernah ia tujukan pada wanita manapun selama ini. Abercio membelai lembut pipi Ciara, kemudian ia mengecup dahi gadis itu.
“Sekalipun harus mengorbankan kebahagiaanku, aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia,” lirih Abercio.
Abercio beranjak dari tempat tidur. Ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian ia keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi berwarna biru tua. Jubah mandi tersebut mengekspos dada bidang milik pria itu. Rambutnya yang masih basah ia keringkan menggunakan handuk kecil sambil ia menapaki kamar meninggalkan kamar mandi.
Ting!
Ada sebuah pesan masuk dari Bart. Abercio meraih ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang, kemudian ia membuka pesan tersebut.
^^^“Pak, apa yang harus saya lakukan pada Markus dan Darren?”^^^
Ting!
Belum sempat Abercio membalas pesan dari Bart, ada notifikasi masuk lagi dari Axel.
^^^“Pak, ada informasi penting tentang keluarga Markus dan Lucy.”^^^
Abercio menghela nafasnya. Ia menatap ke arah Ciara yang saat itu sedang tertidur dengan sangat lelap. Ingin ia bangunkan gadis itu untuk menikmati sarapan yang sebentar lagi akan berubah menjadi makan siang, tapi ia tak tega membangunkan gadis itu.
__ADS_1
Abercio membetulkan selimut yang menutupi tubuh Ciara. Kemudian ia kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening Ciara. Lalu ia bergegas meninggalkan kamar tersebut menuju ke ruang kerjanya.
“Temui aku di ruang kerja,” ucap Abercio membalas pesan Bart dan Axel.
...❣️❣️❣️...
Seperti biasa, Abercio menatap taman terbengkalai yang berada di halaman rumah mewahnya itu. Ia menghembuskan asap rokoknya seolah-olah sedang melepaskan semua kesahnya dalam satu hembusan tersebut. Pikirannya saat ini bercabang-cabang. Ada begitu banyak hal yang harus ia selesaikan.
“Aku harus menyelesaikan permasalahan Ciara dulu. Dia prioritas pertamaku,” batin Abercio.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk.”
“Pak … sebenarnya, Ciara itu bukan anak kandung,” jelas Axel sambil menyodorkan amplop coklat kepada Abercio. “Ada beberapa informasi yang saya dapatkan di dalam amplop ini.”
“Bukan anak kandung?” ulang Abercio sambil menyandarkan tubuhnya pada pembatas balkon tersebut. “Letakkan saja amplopnya di atas meja kerjaku.”
“Ck! Pantas saja binatang itu berani menyiksa Ciara dan begitu mencintai Darren,” gumam Abercio sambil berdecak sebal. Ia menghisap rokoknya dengan wajah yang sangat kecut.
Axel meletakkan amplop coklat yang ia bawa ke atas meja kerja Abercio. Kemudian, ia kembali berdiri di samping Bart, tepatnya di depan Abercio.
“Jelaskan padaku secara singkat dan detail,” ucap Abercio dingin dengan wajahnya yang begitu serius. Sesuatu yang berurusan dengan Ciara, selalu ia dengarkan dengan seksama tanpa ingin melewatkan satu hal pun. Sekalipun itu tak penting.
“Ciara ini anak dari sahabat Lucy. Namanya adalah Clara,” ucap Axel.
__ADS_1
“Clara? Ciara? Ck! Hanya berbeda satu huruf,” rutuk Abercio. “Terus, apalagi?”
“S-saya masih mengumpulkan informasi, Pak.”
Abercio menghela nafasnya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah hamparan taman terbengkalai tersebut. Sorot matanya begitu dingin dan penuh dengan dendam.
“Pak,” panggil Bart. “Gimana kalau Markus dan Darren—”
“Biarkan saja dulu,” potong Abercio. “Aku ingin Ciara sendiri yang memberi mereka pelajaran.”
Abercio menyeringai saat ia mengatakan hal tersebut. Ia membuang puntung rokoknya, kemudian ia menyilangkan kedua tangannya ke dada.
...“… aku ingin menjadi gila sepertimu.”...
Terekam dengan jelas ucapan Ciara saat itu di ingatannya. Hanya dengan mengingat kalimat itu saja, Abercio sukses tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Ia sedang merencanakan sesuatu untuk membalaskan dendam dari gadis yang ia cintai. Bedanya, rencana itu ia susun agar gadis itu sendiri yang membalaskan dendamnya.
Di saat yang sama, Axel dan Bart saling bertatapan melihat tingkah Abercio yang cukup membuat keduanya merinding.
“Kayaknya … Markus dan Darren nggak bakalan aman,” bisik Axel pelan kepada Bart. Bart hanya diam tak menggubris ucapan Axel.
*“Baiklah … aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya menjadi gila. Untuk menjadi Ratu dari Raja yang gila, kamu juga harus menjadi gila, Baby*,” gumam Abercio dalam hati. “Kau harus menjadi wanita yang tangguh untuk berada di sisiku.”
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1