
...“Daddy itu gila. Tapi aku nggak masalah tuh, dengan ‘Kegilaan Hot Daddy’ ku ini.” – Ciara A. Garnacho...
“B-bukan. Saya istrinya,” ucap Lucy sambil tersenyum kepada Bibi Ajeng.
Bibi Ajeng menatap bingung ke arah Lucy. Tanpa sadar, ia menatap penampilan Lucy dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“M-maaf, saya nggak sopan, Bu,” ucap Bibi Ajeng yang tersentak akan kelakuannya itu. “S-saya pikir Mbak Ciara istrinya Pak Abercio. Soalnya mereka romantis banget.”
“Oh. Ciara itu anak saya. Tapi, apa maksud Bibi kalau mereka itu romantis?” Lucy menanyakan ucapan Bibi Ajeng yang terdengar janggal tadi. Sepertinya, ada banyak hal yang terjadi saat ia tak berada di Indonesia?
Tak mungkin ‘kan, Abercio dan Ciara memiliki hubungan yang khusus? Apalagi Ciara yang manja dan masih kekanak-kanakan itu. Mana mungkin anaknya menjadi selera Abercio? Pikir Lucy saat itu.
Di saat yang sama, Bibi Ajeng juga ikut merasa janggal. Ia mengutuki dirinya yang keceplosan saat berbicara. Sepertinya ada cinta terlarang di rumah di mana ia bekerja saat ini. Ia memilih untuk diam karena tak ingin kehilangan pekerjaan. Jadi ia memutuskan untuk berpura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi di rumah itu.
“Iya. Keakraban Pak Abercio dan Mbak Ciara sebagai ayah dan anak bikin orang-orang iri, hehehe.”
“Makanya saya awalnya pikir Mbak Ciara istri, tapi nggak mungkin. Soalnya masih muda banget,” celetuk Bibi Ajeng.
...❣️❣️❣️...
“Ciara,” panggil Lucy saat masuk ke dalam kamar. Saat itu Ciara terlihat baru selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias.
“Iya, Mommy,” sahut Ciara sambil menoleh menatap ke arah Lucy.
Lucy berjalan mendekat ke arah Ciara. Ia mengambil sisir yang saat itu sedang Ciara pegang. Kemudian ia menyisirkan rambut panjang hitam legam milik anak gadisnya itu.
“Akhir-akhir ini Darren menghubungimu nggak? Mommy khawatir. Soalnya nomornya nggak aktif,” tutur Lucy sambil menatap ke arah rambut Ciara yang sedang ia sisir.
Ciara terhenyak. Pertanyaan Lucy tersebut cukup membuat Ciara terdiam kaku. Lucy pasti akan menanyakan Darren. Tapi ia tak tahu harus menceritakan semua itu dari mana? Bahkan, jika ia menceritakan tentang Darren, pasti hubungan antara ia dan Abercio akan terkuak! Karena dua hal tersebut saling bersangkutan.
“Ciara? Kok melamun, Sayang?” tanya Lucy sambil sedikit membungkuk untuk memeluk Ciara dari belakang. Ia menatap pantulan dirinya dan anaknya di cermin rias.
Ting!
Bunyi notifikasi masuk dari ponsel milik Ciara. Sorot mata Ciara dan Lucy terfokus ke arah pesan yang masuk tersebut.
^^^“I miss you, Baby.”^^^
Deg!
“Haaa… untung aku udah ganti nama Daddy jadi simbol love aja,” batin Ciara saat itu.
__ADS_1
Jantung Ciara berdetak dengan sangat kencang saat mendapatkan pesan dari Abercio. Pasalnya, ia sangat-sangat takut kalau sampai Lucy mengetahui hubungan antara ia dan Abercio. Entah apa respon Lucy saat mengetahui hal terlarang tersebut terjadi pada dirinya.
“Wahhh … anak Mommy udah punya pacar, ya?” ledek Lucy sambil berdiri dan memegang kedua bahu Ciara. “Jangan-jangan kamu melamun karena kangen pacar?”
“Ih! Mommy!” Ciara mendadak tersipu malu mendengarkan ucapan Lucy tersebut. Pasalnya, saat itu Lucy meledeknya sampai-sampai ia tak bisa berkata apa-apa selain merengut manja.
“Nggak apa-apa. Mommy harap pria yang kamu cintai itu pria yang baik dan bertanggung jawab,” ucap Lucy sambil tersenyum menatap Ciara di pantulan cermin.
Ciara tersenyum sumringah mendengarkan ucapan Lucy. Andai Lucy tahu bahwa pria yang saat ini ia kencani adalah seorang Abercio Sanchez, apakah Lucy akan bahagia dan bangga? Atau menentang hubungan mereka?
“Oh iya. Mommy sampai lupa. Soal Darren tadi—”
“Kak Darren lagi sibuk skripsi sih kemaren ni Mommy,” potong Ciara berdusta. “Katanya dia bakalan segera hubungi Ciara kalau pikirannya udah nggak mumet.”
“Duh! Anak itu,” gerutu Lucy sambil menghela nafas. “Mentang-mentang Mommy mengirimkan uang jajan yang banyak kepadanya, dia jadi nggak tau diri dan melupakan keluarganya.”
...❣️❣️❣️...
Malam itu, angin begitu kencang. Entah kenapa Ciara sama sekali tak bisa tidur. Apa karena sudah lama ia tak tidur sambil memeluk Abercio? Meskipun baru lima hari ia tidur tanpa memeluk Abercio. Tapi tetap saja ia merindukan aroma tubuh pria itu.
Sejak kedatangan Lucy, Abercio kembali melanjutkan rutinitasnya ke kantor. Meskipun Markus tak kunjung ditemukan, Ciara tak sendiri di rumah. Karena ada Lucy yang menemani. Jadi ia merasa sedikit lega meninggalkan gadis itu di rumah.
Hanya saja … ada hal yang mengganjal saat Lucy berada di rumah. Abercio tak dapat menuntaskan gejolak di dadanya. Pria yang berusia tiga puluh tahun itu memutuskan untuk merokok ke balkon. Ia menghela nafas dengan berat karena kepalanya begitu sakit menahan nafsu yang tak tersalurkan.
Ceklek!
“Ck!” Abercio berdecak sebal saat melihat Ciara yang berjalan menuruni tangga. Pikirnya Ciara akan berbelok ke kamarnya saat itu.
Ia pun memutuskan untuk meninggalkan kamarnya dan mengejar Ciara turun ke lantai dasar.
Setibanya di lantai dasar, Abercio mengikuti punggung Ciara yang saat itu sedang menuju ke dapur. Gadis itu mengambil gelas untuk minum menghilangkan dahaganya. Setelah ia selesai menenggak habis air putih dari gelasnya, ia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Ciara membalikkan badannya ke belakang. Matanya mendadak terbelalak dengan sempurna. Bahkan bibirnya setengah ternganga karena ingin berteriak akibat terkejut.
“Hmph!!!” Abercio bergegas membekap mulut Ciara menggunakan tangan kekarnya. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk memeluk pinggang gadis itu.
“It’s me, Baby,” bisik Abercio pelan. Kemudian ia melepaskan tangannya perlahan dari mulut Ciara. “Ssttt … nanti Mommy-mu bangun.”
Ciara tertawa geli melihat tingkah Abercio. Bagaimana pria itu bisa tahu bahwa ia sedang ke dapur untuk minum? Lalu sejak kapan pria itu mengikutinya?
“I miss you,” lirih Abercio pelan sambil merebahkan kepalanya ke bahu Ciara. Kedua tangannya ia biarkan menggelantung ke bawah dengan malas dan tak bersemangat.
"Akhir-akhir ini aku sulit tidur," lirih Abercio manja. "Guling yang biasa ku peluk sekarang di pake Lucy."
__ADS_1
Ciara tertawa pelan. Ia membelai lembut punggung kepala Abercio yang saat itu berada di atas bahunya. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk membelai punggung pria itu.
“I miss you too, Daddy,” bisik Ciara pelan.
Abercio berdiri dengan tegak. Ia meraih dan menggenggam kedua tangan Ciara. Kemudian ia menatap Ciara dengan seksama.
“Baby ... aku telah memikirkan ini selama beberapa hari.”
Kedua ibu jari Abercio mengusap pelan punggung tangan Ciara.
“Ayo kita menikah,” ajak Abercio dengan suara yang bergetar. Matanya berkaca-kaca seolah-olah sedang memaksakan diri untuk mengambil sebuah keputusan yang bertolak belakang dengan prinsip hidupnya. Semua itu ia lakukan karena ia begitu mencintai Ciara. Ia tak ingin gadis yang ia cintai terbebani hanya karena prinsip mereka berbeda.
Ciara langsung melepaskan genggaman tangan Abercio. Kemudian ia bergegas memeluk Abercio yang tinggi itu dengan menjinjitkan kakinya. “Daddy serius?!”
Abercio memeluk tubuh Ciara dengan erat. Entah kenapa rasa takut akan kehilangan gadis itu semakin membesar saat ia mengajak gadis itu menikah.
“Tapi …” ucapan Abercio tersebut membuat Ciara yang sedang kegirangan itu mendadak terdiam.
Ciara melepaskan pelukannya dan menatap Abercio dengan tatapan menyelidiki. Ada hal apa di balik ucapan ‘tapi’ yang pria itu katakan barusan?
“Sekalinya kamu menikah denganku, aku tak akan pernah melepaskanmu sampai mati.”
“Aku akan menggunakan segala cara agar kamu nggak bisa pergi meninggalkanku.”
“Bahkan, memotong kakimu agar kamu tak bisa berjalan pun aku tega.”
“Jadi, jangan pernah berfikir untuk melarikan diri,” ucap Abercio dengan nada yang penuh penekanan.
Bagi mereka yang mendengarkan ucapan Abercio tersebut, pasti akan mengatakan bahwa pria itu psikopat berdarah dingin. Bagaimana tidak? Pria itu tega menyakiti bahkan melukai gadis yang ia cintai agar gadis tersebut tetap bersamanya. Pada umumnya mereka akan berkata bahwa itu bukanlah cinta, melainkan obsesi.
Tapi tidak dengan Ciara. Gadis itu mengambil pesan positif yang tersirat dari perkataan Abercio.
Di mata Ciara, pria yang ada di depannya saat ini bukanlah seorang psikopat. Melainkan seorang pria kesepian yang diselimuti ketakutan akan ditinggalkan oleh seseorang yang ia cintai.
“Terserah, mau kamu bilang aku gila, mau kamu bilang aku psycho—”
Cup!
Ciara mendaratkan bibirnya ke bibir Abercio. Hal tersebut cukup membuat Abercio tertegun dan tak lagi mampu melanjutkan ucapannya.
Ciara menjinjitkan kakinya agar bisa mendekatkan bibirnya ke telinga Abercio. Kedua tangannya berpegangan ke kedua bahu lebar Abercio.
“Daddy itu gila,” bisik Ciara, “tapi aku nggak masalah tuh, dengan ‘Kegilaan Hot Daddy’ ku ini.”
__ADS_1
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...