Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Maafkan Aku ...


__ADS_3

..."Maaf Ciara. Aku benar-benar pria brengsek yang nggak bisa berbuat apa-apa untukmu." – Bart Lincoln Fernandez...



"Ciara! Ini aku, Leo!"


Leo langsung memegang kedua bahu Ciara sembari mencondongkan kepalanya agar sejajar dengan Ciara. Ia menatap gadis itu dengan perasaan iba dan penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi sampai gadis itu terlihat begitu berantakan?!


"K-Kak Leo?" Ciara mencoba memberanikan diri menatap sosok pria yang menyebut dirinya Leo tadi.


"Ya. Ini aku Leo. Ada apa denganmu? Aku nggak akan menyiksamu dan—”


"Menjauhlah darinya," ucap Bart yang tiba-tiba muncul saat itu.


Bart hadir di antara Leo dan Ciara. Ia melepaskan paksa tangan Leo dari bahu Ciara. Kemudian ia membawa Ciara ke belakang tubuh kekarnya.


"Hei, kau siapa?!" kesal Leo karena Bart tiba-tiba datang dan bertindak tak sopan padanya.


"Bart," panggil Ciara dengan suara yang bergetar. "A-aku ... takut."


Ciara mencengkeram baju Bart dengan sangat kuat dan tanpa sadar Ciara memeluk punggung Bart dari belakang. Kemudian ia terisak dengan sangat pilu.


"Tolong aku, Bart. Aku takut," pinta Ciara memelas.


Leo yang tadinya ingin melawan Bart dan membantu Ciara, ia mendadak diam dan bingung. Sebenarnya apa sih yang terjadi saat ini? Dan kenapa tiba-tiba gadis yang ia sukai muncul dalam keadaan berantakan begitu?

__ADS_1


"Pulanglah. Ciara biar aku yang urus," ucap Bart dingin kepada Leo.


"Tapi—”


"Aku orang kepercayaan Ciara," potong Bart lagi.


"Kak Leo," seorang gadis memanggil Leo dari dalam mobil yang saat itu sedang menepi. "Ayo, Kak. Ntar kita telat."


Leo menatap ke arah Bart. "Tolong jaga Ciara."


Setelah mengatakan hal tersebut, Leo masuk ke dalam mobil dengan perasaan khawatir dan bergegas melaju meninggalkan Ciara dan Bart di pinggir jalan depan Hotel Nerium Oleander.


Bart langsung memegang tangan Ciara yang saat itu memeluknya dengan erat dari belakang. Kemudian, Bart melepaskan pelukan Ciara dengan perlahan dan membalikkan tubuhnya menghadap Ciara.


Lagi-lagi panggilan dari nomor tak dikenal itu menghubungi Ciara tanpa henti. Bart bergegas mengambil ponsel Ciara dan menatap nomor yang tertera di layar ponsel.


"Bart. Hiks... hikss... jangan di angkat," isak Ciara ketakutan. "Aku nggak tau itu siapa, tapi dia terus menerorku."


Bart menghela nafas dengan berat dan penuh rasa bersalah. Ia tahu siapa yang menghubungi dan meneror Ciara saat itu. Tapi ia tak dapat mengatakannya pada Ciara karena semua itu ulah Abercio dan dia juga lah yang meminta seseorang untuk meneror Ciara. Bahkan saat ini pun Abercio menugaskannya untuk memata-matai Ciara.


"Ya udah. Sekarang kita pulang ke rumah," ucap Bart dengan wajah datarnya.


Ciara menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau pulang dan aku nggak mau bertemu dengan pria bajingan itu."


Bart menatap Ciara dengan tatapan bersalah. "Terus mau ke mana?"

__ADS_1


"A-aku ... udah check in hotel. Tolong temani aku, aku takut, Bart. Aku benar-benar takut," ucap Ciara sembari menangkupkan kedua tangannya memohon kepada Bart.


Bart menggigit bibirnya dengan kuat sembari mengepalkan kedua tangannya. Ia menatap Ciara sembari membatin mengutuki dirinya sendiri. "Maaf Ciara. Aku benar-benar pria brengsek yang nggak bisa berbuat apa-apa untukmu."


"Aw!" pekik Ciara saat mencoba melangkah.


Rasa sakit yang tadinya tak ia pedulikan, kini terasa begitu perih setelah bertemu dengan Bart.


Bart menoleh ke bawah ke arah kaki Ciara. Meskipun wajahnya yang datar itu terlihat dingin, matanya tak bisa menutupi rasa iba dan khawatir yang kini sedang menyelimuti dirinya.


"Pegang pundakku," perintah Bart sembari ia berjongkok di depan Ciara.


Bart melepaskan kedua heels Ciara sembari menelisik kedua kaki Ciara yang luka karena memaksakan lari menggunakan heels tersebut. Lalu ia juga melihat lutut Ciara yang berdarah. Rasa ibanya semakin meluap-luap.


Bart membalikkan tubuhnya membelakangi Ciara. "Naiklah. Aku akan menggendongmu sampai ke hotel."


Di saat yang sama, Abercio terlihat menurunkan kaca mobilnya dari sebrang jalan tanpa sepengetahuan Bart dan Ciara. Sorot mata Abercio terlihat begitu mengerikan dan terbakar api cemburu.


"Aku salah mempercayaimu, Bart," gumam Abercio dingin. "Dasar pengkhianat! Sepertinya kau lupa siapa yang membantumu hingga saat ini."


"Untuk saat ini aku akan diam. Aku ingin tahu apa laporanmu nanti setelah kau menggendong Ciara ke hotel."


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2