
...“Jatah gagal dan penuh airmata sudah habis mereka gunakan. Kini … mereka sedang menikmati hari-hari indah dan penuh kebahagiaan.” – Sheninna Shen...
“Ciara, kamu harus hidup bahagia,” ucap Bart pelan sembari memeluk erat tubuh Ciara.
Ciara terbelalak saat mendengarkan suara tembakan besi panas tadi. Ia menoleh ke belakang, ke arah Bart yang sedang memeluknya.
Wajah tampan Bart yang biasanya dingin, kini semakin dingin karena pucat. Hanya saja, ada sebuah senyuman yang sangat tulus terukir di wajah pria itu.
“BARTTT!!!” teriak Ciara saat menyadari bahwa Bart berusaha menjadi perisai baginya.
Pria yang selama ini Ciara anggap teman, ternyata rela mengorbankan nyawanya sendiri demi menyelamatkan ia yang tak berarti apa-apa.
Dorrr! Dorrr! Dorrr!
Abercio yang sejak tadi menahan amarahnya, ia melepaskan besi panas secara membabi buta ke arah Markus. Amarahnya ia luapkan bersamaan dengan kesedihannya yang mendalam saat Bart yang begitu berharga baginya, rela mengorbankan nyawanya sendiri.
Markus tersungkur ke tanah. Tubuhnya penuh dengan darah yang mengatakan bahwa nyawanya sudah tak tertolong lagi. Di saat yang sama, Lucy bergegas mendekat ke arah Markus dan wanita paruh baya itu duduk di samping tubuh tak berdaya mantan suaminya itu.
“D-d-dia …” Markus berusaha berbicara dengan Lucy dengan sisa nafas yang ia miliki.
“Dia anak kandungmu, Mas. Hiks … hiks … hiks …. Aku tak berani mengatakannya karna aku sudah berjanji pada Julia untuk merahasiakannya darimu.”
“Bahkan, aku sudah melakukan tes DNA untukmu dan Ciara. Hasilnya 99,9% positif kalau kalian itu ayah dan anak.”
“Ugh … uhuk … uhuk ….” Markus terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia berusaha memegang tangan Lucy dengan tatapan yang mengiba.
“M-ma- … af ….” Ucap Markus terbata-bata.
“Aku yang seharusnya minta maaf, Mas.” Ucap Lucy.
Di saat yang sama, Ciara berusaha membaringkan tubuh Bart ke atas lantai. Tubuh Bart berlumuran darah akibat besi panas yang dilepaskan Markus tadi menancap tepat ke jantungnya.
Abercio bergegas berlari dan duduk ke lantai bersebelahan dengan tubuh tak berdaya Bart. Ia meraih tubuh Bart kepelukannya dengan perasaan yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Matanya memanas dan airmata mulai menggenang.
“Hei, Bart! Bertahanlah sebentar! Axel sedang menghubungi ambulance!” pinta Abercio memelas sambil terus mengguncang tubuh Bart agar pria itu tetap sadar.
Bart tersenyum sambil menahan sakit. Ia menarik kerah baju Abercio dengan sangat berani. “Kak Abercio ….”
“Boleh ‘kan, aku memanggilmu begitu?” tanya Bart lirih.
“Dasar bodoh! Panggil saja aku Kakak! Memangnya aku pernah melarangmu?!” ketus Abercio sedih.
Bart menghela nafas pelan. “Makasih untuk jasamu selama ini, Kak.”
__ADS_1
“Sebentar lagi … aku akan bertemu dengan kedua orangtuaku,” sambung Bart pilu.
“Heiii!!!” teriak Abercio dengan lantang sambil menangis, “aku tau kau merindukan orangtuamu. Tapi jangan sekarang, Bart! Kau harus hidup lebih lama dan bahagia dengan orang yang kau cintai!”
“Ck!” di sela-sela rasa sakit yang ia rasakan, Bart masih sempat berdecak sebal.
Bart menatap ke arah Ciara yang sejak tadi menangis sesenggukan menatap ke arahnya.
“Bagaimana aku bisa hidup lebih lama? Sedangkan wanita yang ku cintai akan menikah dengan penolong hidupku?” lirih Bart pelan.
“Sialan!” umpat Abercio. Namun saat itu ia tak marah, melainkan merasa kesal mendengarkan ucapan dari Bart. Mentang-mentang sedang dalam keadaan darurat, Bart malah mengambil kesempatan mengungkapkan perasaannya.
Bart menarik kerah Abercio. Lalu Abercio sedikit membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan telinganya ke arah bibir Bart. Karena sepertinya ada yang ingin Bart katakan.
“Tolong … jangan pernah sakiti dia. Aku merelakannya untukmu. Jadi … tolong bahagiakan dia,” bisik Bart lirih.
Itu merupakan kalimat terakhir sekaligus pesan terakhir yang terucap dari bibir Bart kepada Abercio. Sesaat kemudian, Bart menghembuskan nafas terakhirnya dengan mata yang perlahan tertutup sendirinya.
Bart Lincoln Fernandez. Akhir hidup dari pria yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan itu begitu tragis. Ia rela mengorbankan nyawanya demi kebahagiaan gadis yang merupakan cinta pertama dan terakhirnya. Meskipun memiliki akhir hidup yang tragis, ia pergi sambil tersenyum karena telah berhasil menyelamatkan nyawa gadis yang ia cintai itu.
...❣️❣️❣️...
Empat tahun kemudian.
Ciara A. Garnacho. Sejak peristiwa kelam empat tahun yang lalu, ada begitu banyak hal yang sudah ia lalui sebagai Nyonya dari Abercio Sanchez. Ia telah berhasil meraih gelar sarjananya dengan nilai yang tinggi. Bahkan, Lucy yang merupakan ibu angkatnya juga telah berhasil melewati kanker ganas yang hampir saja menggerogoti nyawanya.
Sorot mata Ciara menatap lurus ke arah taman di bawah. Taman yang semula gelap gulita dan tak ada satupun cahaya. Kini, taman itu menjadi terang benderang dan semakin hidup. Bahkan, di taman itu sekarang sudah ada air mancur dihiasi lampu yang berwarna kuning keemasan.
“Apa yang sedang kamu lamunkan, hmm?” tanya Abercio yang tiba-tiba saja muncul dari belakang sembari memeluk erat tubuh istrinya dari belakang.
Abercio mendaratkan wajahnya ke pundak Ciara. Kemudian ia mengecup lembut leher gadis itu.
“Nggak kerasa ya. Udah empat tahun aja berlalu,” lirih Ciara. Ia meraih tangan Abercio yang kini melingkar di perutnya.
“Hmm. Udah empat tahun,” sahut Abercio pelan.
Keduanya terdiam sesaat sembari memejamkan matanya menikmati hembusan angin malam itu.
“Mommyyy!!! Hiks … hiks ….” Tangisan anak kecil terdengar dari luar kamar.
Ciara dan Abercio tersentak kaget.
“Sekarang jam berapa?” tanya Ciara kepada Abercio.
“Dua belas lewat,” sahut Abercio datar.
__ADS_1
Lalu sesaat kemudian, Ciara dan Abercio saling bertatapan. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
“Kasian Kak Ben dan Sabrina. Kapan mereka bisa kasih adik buat Leo?” celetuk Ciara.
Abercio langsung diam. Ia memposisikan tubuh Ciara menghadap ke arahnya. Kemudian ia menatap ke arah Ciara dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Ciara sembari mengerutkan keningnya.
Abercio tak menjawab pertanyaan Ciara. Ia malah sedikit membungkukkan tubuhnya condong ke arah Ciara. Lalu ia menempatkan bibirnya ke telinga Ciara.
“Aku juga mau punya baby dari kamu,” bisik Abercio pelan namun cukup membuat Ciara bergidik. Pasalnya, hanya dengan sebuah kalimat tersebut saja, dapat disimpulkan bahwa mereka berdua akan melewati malam yang panas.
“Tadi siang ‘kan udah—”
“Baby …,” potong Abercio pelan. Kedua tangannya mulai menjalar ke tubuh Ciara dengan nakal.
“Sejak kapan suami kamu puas menyicipi tubuhmu?” bisik Abercio lirih sembari mendaratkan bibirnya ke leher jenjang Ciara.
“Mhhh … S-s-sayang ….” Desah Ciara pelan. Matanya terpejam sembari kedua tangannya memeluk erat tubuh kekar Abercio yang mengeluarkan aroma khasnya.
Di saat yang sama, saat di mana sepasang suami istri yang sedang bergelut dengan gairah panas mereka saat itu, tiba-tiba saja Benicio dan Sabrina keluar di teras kamar mereka yang sejajar dengan teras kamar Abercio.
“Ehemmm ….” Dehem Benicio mengejutkan Abercio dan Ciara.
Abercio dan Ciara sontak kaget dan menghentikan aktifitas panas mereka. Kemudian, mereka serentak menoleh ke arah asal suara tadi.
“Please deh, kalau pengen bikin anak tuh di kamar,” celetuk Benicio sambil menggendong anaknya Leo yang kini sudah terlelap di pelukannya.
Abercio mengeram dengan kesal. Ia menghela nafasnya sambil memeluk Ciara.
“Lagian, kalian ngapain tiba-tiba mau tinggal di sini, sih? Kan udah punya rumah sendiri?!” gerutu Abercio.
Gerutuan Abercio disambut dengan tawa yang penuh kegirangan oleh Benicio dan Sabrina. Pasalnya kedatangan Benicio dan Sabrina di rumah tersebut dengan niat sengaja ingin berkumpul dengan keluarga. Mereka ingin hubungan kekeluargaan antara mereka itu menjadi erat dan hangat. Tapi ternyata kedatangan mereka malah menjadi penghalang bagi Abercio dan Ciara untuk bercinta di tempat yang mereka inginkan.
Sejak empat tahun peristiwa penuh duka tersebut berlalu, tak ada lagi hal-hal buruk yang menimpa keluarga mereka. Hanya hal-hal baik yang selalu menghampiri. Bahkan, kini Abercio berhasil mengembangkan bisnisnya di pasar Asia. Tak beda dengan Benicio. Ia memilih untuk membantu Abercio untuk mengembangkan bisnis tersebut.
Sedangkan Ciara dan Sabrina, mereka yang semula ingin berkecimpung di dunia bisnis, tidak diizinkan oleh Abercio dan Benicio. Suami mereka meminta mereka untuk bersantai saja dan menghabiskan uang yang dihasilkan oleh para suami.
Tak ada lagi airmata, tak ada lagi kesedihan. Karena masa-masa sulit sudah mereka lewati sejak kecil. Jatah gagal dan penuh airmata sudah habis mereka gunakan.
Kini … mereka sedang menikmati hari-hari indah dan penuh kebahagiaan.
...❣️❣️❣️...
...TAMAT......
__ADS_1