Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Pembatalan Kontrak


__ADS_3

...“A-apa maksud Bapak kontrak kita dibatalkan?” – Mommy Lucy...



"Kita nggak akan cerai Daddy," sanggah Ciara meyakinkan. Alisnya menyatu dengan sorot mata menatap dalam ke arah Abercio.


"Mau sampai kapan kita kayak gini?" imbuhnya dengan suara yang pelan namun penuh penekanan.


Jauh di lubuk hati Ciara ia ingin segera hubungan antara ia dan Abercio diperjelas. Abercio membatalkan kontrak dengan Lucy dan dia segera menjadi pasangan seutuhnya bagi Abercio.


"Kayak gini gimana, Sayang?" Abercio menatap Ciara tak mengerti. Memangnya hubungan mereka saat ini kenapa? Hanya karena tak menikah, bukan berarti tak cinta.


"Daddy nggak mau punya anak dariku?" tanya Ciara menohok.


"Of course I want," sahut Abercio penuh keyakinan. Tanpa berfikir sebelum menjawab, Abercio benar-benar telah termakan dengan jawabannya sendiri.


"Then ... Daddy mau anak kita lahir tanpa ayah? Meskipun Daddy di sisiku. Tapi 'kan status Daddy bukan siapa—”


Drrttt... Drrttt...


Tiba-tiba ponsel Abercio bergetar. Tertera nama Lucy di layar tersebut. Sorot mata Ciara dan Abercio serentak menoleh ke arah nama yang tertera di layar tersebut.


"Mommy?" gumam Ciara.


"Ah ... aku lupa." Abercio mengusap wajahnya yang kusut karena pertanyaan Ciara yang beruntun mendesaknya tentang pernikahan.


"Besok Mommy-mu akan pulang ke Indonesia," ucap Abercio.


"Really?!" Ciara tersentak girang. Wajah yang seketika suram berubah menjadi cerah. Mata bulatnya sempurna terbelalak berbinar-binar.


"Hmm." Dehem Abercio mengiyakan. Kemudian ia bergegas mengangkat panggilan dari Lucy.


"Hallo?"

__ADS_1


^^^"Pak, besok saya tiba di Jakarta."^^^


^^^"Apa Ciara baik-baik aja?"^^^


"Hmm. Dia baik-baik aja."


^^^"Oh. Syukurlah."^^^


^^^"Maaf saya minta pulang sebentar."^^^


^^^"Padahal masih harus berobat dan biayanya cukup gede."^^^


^^^"Tapi besok saya bisa kok langsung melakukan tugas di kontrak kita."^^^


"Kamu pulang aja dulu. Besok kita bahas lagi," ucap Abercio mengakhiri panggilannya.


Suara Lucy yang samar-samar terdengar di sebrang telepon membuatnya begitu haru. Rasanya ia tak sabar menunggu hari esok tiba. Tapi ... bagaimana nasib hubungan ia dan Abercio? Apakah Lucy akan merestui hubungan mereka?


Mulut Ciara sedikit terbuka karena ingin berbicara. Namun Abercio mendahuluinya.


"Tapi ... beri aku waktu," pinta Abercio pada Ciara.


"Ck! Kok kayak aku sih yang ngebet nikah sama Daddy," gerutu Ciara kesal. Wajar bila seorang perempuan berharap dikejar dan dibutuhkan oleh pria yang ia cintai.


Abercio hanya tertawa pelan sekilas. Sesaat kemudian ia kembali diam dan melanjutkan makannya. Pikirannya berkecamuk dan hatinya gelisah tak menentu.


Benar. Banyak yang sukses dengan pernikahan mereka. Tapi tidak dengan garis keturunannya. Buktinya, ayah dan ibunya bercerai. Lalu, Cindy dan ayahnya juga bercerai tak lama setelah menikah.


"Omongan pria brengsek itu ada benarnya. Pernikahan itu selalu berdampingan dengan perceraian. Aku tak ingin itu terjadi antara aku dan Ciara," gumam Abercio dalam hati.


...❣️❣️❣️...


“Mommy!” seru Ciara girang sambil berlari-lari menuruni tangga.

__ADS_1


Wajah Ciara benar-benar girang saat melihat Lucy yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia merindukan wanita paruh baya tersebut. Meskipun itu bukanlah ibu kandungnya. Tapi baginya, wanita tetaplah ibu yang ia cintai.


“Mommy! Hiks… hikss… Ciara kangen,” ucap Ciara sambil memeluk Lucy saat ia sudah berada di depan wanita paruh baya tersebut.


Lucy tersenyum sambil memeluk erat tubuh Ciara. Ia membelai rambut panjang gadis manja yang sedang memeluknya itu. Kemudian ia mencium kedua pipi anak angkatnya itu.


“Mommy kok kurusan?” tanya Ciara pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Oh … mungkin karena Mommy terlalu sering jalan-jalan di sana,” ucap Lucy berdusta. “Kapan-kapan Mommy mau membawamu ke sana.”


Ciara mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menumpahkan airmatanya yang kini sedang ia bendung dengan sekuat tenaga. Tapi ia tak ingin merusak suasana gembira sore itu.


“Mommy juga ubah gaya rambut,” celetuk Ciara sambil membelai lembut kepala Lucy dengan penuh kehangatan.


Lucy terdiam. Ia tak tahu harus memberikan alasan apa pada Ciara. Tak mungkin jika ia mengatakan bahwa rambutnya terpaksa di potong karena rontok akibat kemoterapi.


“Ciara tau. Pasti Mommy ngikutin gaya tante-tante bule yang rambut pendek, ‘kan?” ucap Ciara yang berusaha polos.


Lucy mengangguk pelan sembari menggigit bibir atas dan bawahnya dari dalam mulut. “Hmm. Mommy pengen coba jadi kayak tante-tante bule itu.”


Ciara berusaha tertawa dengan senatural mungkin. Meskipun saat itu dadanya begitu sesak sehingga kerongkongannya tercekat.


“Pak— … Abercio,” panggil Lucy bersandiwara saat melihat Abercio sedang menuruni tangga satu per satu. “Bagaimana kabarmu?”


“Baik,” sahut Abercio singkat. “Sudah makan?”


“Sudah,” sahut Lucy sambil tersenyum.


“Apa boleh kita bicara sebentar?” tanya Abercio lugas tanpa berbasa basi.


Lucy mengangguk mengiyakan. Wanita paruh baya tersebut menapaki tangga meninggalkan Ciara di ruang tamu. Kemudian ia menuju ke ruang kerja Abercio dan duduk di atas sofa berdepanan dengan suami kontraknya itu.


“A-apa maksud Bapak kontrak kita dibatalkan?” tanya Lucy sesaat setelah mendengarkan permintaan Abercio.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2