
..."You are my lady, and i am your man." – Abercio Sanchez...
...❣️...
..."Jadi ... sekarang kita pacaran?" – Ciara A. Garnacho...
Pagi itu, mentari begitu cerah dan terang. Sinarnya menyelinap masuk di balik tirai abu-abu hotel dan mengusik lelapnya tidur Ciara.
Saat itu, posisi Ciara terlentang. Namun ada Abercio di sampingnya yang memeluk tubuhnya dari samping.
“Ugh!” ringis Ciara saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya.
Ciara mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat ke arah sosok pria yang sedang memeluk tubuhnya dengan erat. Bahkan kedua tangannya sampai dikunci oleh satu lengan kekar pria tersebut. Untuk mengucek matanya saja ia tak bisa karena tangannya terkunci.
“Daddy Cio?” gumam Ciara saat mendapati pria itu yang kini berada di sampingnya.
Bukannya membuka mata, Abercio malah mempererat pelukannya. Ia membawa Ciara semakin tenggelam ke dalam dada bidangnya yang telanjang itu.
“Daddy … tubuhku sakit-sakit. Dan … a-ada yang lebih sakit lagi,” ucap Ciara yang malu mengatakan bahwa tubuh bagian bawahnya masih terasa nyeri.
Abercio langsung membuka matanya saat itu juga dengan paksa. Matanya sempurna terbelalak.
“Jangan sampai dia melihat darah perawannya!” pikir Abercio dalam hati.
Ciara mendongakkan kepalanya menatap ke arah Abercio dengan tatapan heran. “Daddy … aku susah gerak.”
Abercio menghela nafasnya pelan. Kemudian ia berusaha mengalihkan fokus gadis itu.
“Good morning, Baby,” sapa Abercio sambil tersenyum dengan hangat dan mengecup lembut bibir Ciara. Ia menerapkan kembali rutinitas yang sempat tiada itu.
Ciara tertegun sesaat. Namun wajahnya berubah cerah dan bahagia. Ia tersenyum ke arah Abercio. Senyuman yang begitu tulus dan hangat.
“Morning too, Daddy Cio,” balas Ciara sembari ia mengecup lembut bibir pria itu.
“Daddy …” panggil Ciara sambil menunduk dan menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Abercio. “Sampai kapan Daddy mau memelukku?”
“A-aku malu. Aku nggak pakai baju. Dan malam tadi kita … kita melakukan itu,” sambungnya terbata-bata.
Abercio terkekeh mendengarkan ucapan Ciara. Pertanyaan gadis itu terdengar menggemaskan. Ingin rasanya ia menggagahi gadis itu lagi. Tapi rasa iba membuat ia tak tega untuk menggagahi gadis itu. Pikirnya, biarlah mahkota yang masih terluka milik gadis itu sembuh dulu untuk sehari dua hari ini. Setelah itu, ia akan menggagahi gadis itu tanpa ampun.
__ADS_1
"Ciara ... Daddy akan bertanggung jawab penuh untuk segala sesuatu yang berhubungan denganmu," ucap Abercio sambil mengecup lembut pucuk kepala Ciara.
"You are my lady, and i am your man," lirih Abercio penuh kehangatan.
Ciara tak dapat membohongi dirinya. Hatinya mendadak menjadi taman bunga yang dipenuhi bunga yang sedang bermekaran.
"Daddy ..." panggil Ciara. Gadis itu memberanikan diri mengangkat wajahnya ke atas untuk menatap wajah pria yang diam-diam mencuri seluruh hatinya.
"Yes, My Lady?" sahut Abercio lembut.
"Jadi ... sekarang kita pacaran?"
...❣️❣️❣️...
"Maaf banget nih."
"Tapi gadis yang Bapak minta sudah ada yang booking."
Markus terlihat duduk sambil bersandar di kursi santai yang ada di samping kolam renang. Pria itu menyeruput minumannya sembari menerima panggilan dari nomor tak dikenal yang katanya tertarik ingin membooking Ciara.
^^^"Berapa yang anda dapatkan dari orang itu?"^^^
"Ck! Kalau Bapak nggak mampu, nggak usah sok-sok an."
Markus tersedak. Ia langsung duduk dengan tegap dan meletakkan gelas panjang yang ia pegang tadi. Ia membuka kaca mata hitamnya dan meletakkan ke atas meja kecil di sampingnya.
"Dua ratus juta!" seru Markus sambil menyeringai.
"Dia membayarku dua ratus juta!"
^^^"Dua ratus juta ya?"^^^
Suara pria yang di sebrang sana terdengar perlahan seperti sedang berfikir. Markus mendadak ragu mendengarkan suara pria misterius itu. Ia yang semulanya bersemangat mendengarkan pria itu menawarkan harga tiga kali lipat, kini semangatnya perlahan memudar.
"Nggak sanggup, 'kan? Ck!" tanya Markus dengan nada mengejek. Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi santai dan berniat ingin segera memutuskan panggilan tersebut.
"Dia itu masih perawan, makanya a—"
^^^"Satu miliar."^^^
^^^"Karena dua ratus juta terlalu murah untuk gadis itu."^^^
__ADS_1
Markus kembali memposisikan tubuhnya duduk dengan tegap. Ia benar-benar terkejut mendengarkan tawaran pria misterius itu!
"S-satu ... miliar?!"
^^^"Hmm."^^^
"Ck! Gimana aku bisa percaya?"
^^^"Kirim nomor rekeningmu ke nomor yang ku gunakan untuk menghubungimu sekarang."^^^
Panggilan terputus. Pria misterius itu mematikan panggilannya tanpa mendapatkan respon apa-apa dari Markus.
Awalnya Markus tak percaya. Namun, pikirnya tak ada salahnya juga jika ia mencoba mengirimkan nomor rekeningnya.
Ting!
"Janc0k!!!" teriak Markus sambil berdiri dari duduknya dengan kedua mata yang membulat dengan sempurna. Kedua biji matanya seperti akan keluar saat melihat notifikasi masuk.
"Siji, loro, telu, papat, limo, enem, pitu, wolu, songo!"
Markus menghitung angka nol yang berjejeran di belakang angka satu yang ada di mutasi rekeningnya.
Drrttt... Drrtttt...
Markus bergegas mengangkat panggilan dari nomor misterius tadi dengan senyuman yang begitu lebar.
^^^"Sekarang, dengarkan perintahku."^^^
"B-baik, Pak!" seru Markus yang tiba-tiba melunak dan mendadak patuh.
^^^"Kalian makan malam di restoran yang ada di Hotel One Day."^^^
^^^"Bubuhkan obat perangsang di minuman gadis itu."^^^
^^^"Saat obatnya mulai bereaksi, bawa dia ke kamar 2056."^^^
^^^"Tinggalkan dia di sana dan segera pergi."^^^
^^^"Aku akan menghampirinya sendiri malam itu."^^^
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG......