Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Jaga Dia Untukku


__ADS_3

..."Dia wanitaku. Kedepannya, kau harus menjaganya saat aku tak ada. Kalau sampai kau melukai wanitaku, kau akan ku kirimkan lagi ke markas." – Abercio Sanchez...



"Daddy ... nanti Kak Darren sama Markus tidur di mana?" tanya Ciara pelan dengan wajah yang tertunduk.


Gadis itu menatap ke bawah sambil memainkan kukunya. Perasaannya gundah dan tak tenang. Ia juga merasa seperti kejadian masa lalu akan terulang kembali meski di bawah pengawasan Abercio.


"Mereka tidur di kamar Megan," ucap Abercio yang saat itu fokus menatap jalan arah mereka pulang.


"Aku takut. Hiks... hiks..." tanpa terasa airmata Ciara tak lagi bisa terbendung. Tangisnya tumpah saking takutnya ia berada di atap yang sama dengan pria yang menyiksanya waktu kecil itu.


Abercio menoleh ke samping, menatap Ciara tak tega. Tak lama kemudian, Abercio menghidupkan lampu sein kiri untuk menepi sembari ia membuka keca jendela pintu di mana ia berada. Kemudian ia mengeluarkan tangan kanannya untuk memberi aba-aba pada mobil Jeep hitam di belakang.


"Bart, itu Pak Abercio ngasih aba-aba deh. Keknya dia nyuruh kita pulang duluan," ucap Axel yang saat itu sedang mengemudi.


Bart hanya mengangguk pelan sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Ia menghela nafasnya dengan berat. Kegalauan hatinya masih belum sembuh sepenuhnya.


Sementara itu, Markus dan Darren terlihat sedang duduk di kursi belakang di mobil yang sama dengan Bart dan Axel. Darren menatap ke samping, ke arah Markus. Tapi ayahnya itu terlihat tak peduli.


...❣️❣️❣️...


"Sayang ..." setelah melepaskan seatbeltnya, Abercio memanggil gadis itu dengan lembut sembari memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Ciara.


"Gimana kalo aku disiksa lagi?"


"Nggak akan, Sayang," jawab Abercio lembut sambil membelai punggung kepala Ciara yang sedang tertunduk.

__ADS_1


"Gimana ntar pas Daddy ke kantor? Masak aku sendiri di rumah bareng mereka? Gimana kalo nanti Kak Darren ...." Ciara menggigit bibirnya. Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya itu karena ia begitu jijik dengan Darren. Selain jijik, ia sangat kecewa akan pria yang ia anggap kakak tersebut tega berfikiran kotor kepada adik kandungnya sendiri.


"Daddy ... masak Kak Darren mau memperkosaku? Padahal dia itu kakak kandungku?" tanya Ciara sambil tak henti-hentinya terisak.


Abercio mengepalkan tangan kanannya yang berada di atas paha. Ia belum bisa mengatakan kebenaran bahwa Ciara itu bukan anak kandung di keluarga itu. Jika gadis itu tau semuanya dalam sekejap, ia tak yakin Ratu tangguh dan kuat itu bisa bertahan. Apalagi gadis itu masih sangat rapuh.


Abercio memutuskan untuk sementara waktu, gadis itu tak perlu mengetahui kebenarannya dulu. Ia meraih tubuh Ciara dan memeluk gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. Ia juga mengusap pelan punggung Ciara untuk memberikan ketenangan.


"Sayang ... kamu boleh memutuskan mau membiarkan mereka di rumah atau pergi. Sekarang menangislah sepuasnya. Hanya ada aku di sini."


...❣️❣️❣️...


"Di mana mereka?" tanya Abercio saat turun dari mobilnya.


"Di kamar pembantu, Pak," sahut Bart.


"Suruh empat orang yang berjaga di dalam rumah. Dua di tangga dan dua patroli, selebihnya boleh di luar rumah," perintah Abercio pada Bart. "Jangan izinkan dua orang itu menginjakkan kaki ke lantai dua."


"Pak, Milo bersama saya," ucap Axel yang tiba-tiba hadir di belakang Abercio.


Guk! Guk! Guk!


"Whahaha! Long time no see, Baby!" Abercio langsung jongkok saat Milo terlihat meronta-ronta ingin dilepaskan dari tali kungkungan yang dipegang oleh Axel. Axel melepaskan tali yang ia pegang, kemudian Milo langsung berlari saat ke arah Abercio dengan mulut yang setengah terbuka dan mempelihatkan lidahnya yang menggemaskan.


Saat melihat Abercio, Milo benar-benar kegirangan karena kembali dipertemukan dengan Abercio majikannya setelah satu bulan lebih berpisah. Ekornya tak henti-henti bergerak!


Abercio memeluk Milo yang saat itu terus-terusan menggonggong tanpa henti karena merindukannya. "Okay. Okay. Aku nggak akan meninggalkanmu di sana lagi."

__ADS_1


"Give me high five?" pinta Abercio sambil memberikan telapak tangannya ke arah Milo. Milo langsung menyambut tangan Abercio dengan sangat menggemaskan.



"Hahaha!" kekeh Abercio senang.


Pria itu langsung bangkit dari duduknya. Kemudian ia berjalan menuju ke mobil untuk menggendong Ciara yang saat itu terlelap karena kelelahan akibat menangis tanpa henti.


Sementara itu, Milo, si anjing pintar jenis 'Border Collie' yang sedang mengikuti Abercio dari belakang, ekornya bergoyang-goyang tanpa henti. Ia tak ingin lagi terpisah dengan majikannya itu.


"Hah... hah... hah...." suara Milo terdengar menggemaskan saat mengekori Abercio.


"Milo, ssstttt..." ucap Abercio sambil menaruh telunjuknya ke bibir sembari menatap Milo. Milo diam saat mendapatkan perintah dari Abercio. Ia mengambil posisi duduk sambil menutup mulutnya.


Ceklek!


Abercio membuka pintu mobil dan membopong Ciara ke dalam pelukannya. Ia berjalan memasuki rumah dan menapaki tangga satu per satu hingga akhirnya tiba di kamarnya. Milo masih mengikutinya.


Setelah merebahkan tubuh Ciara ke atas ranjang, Abercio menyelimuti Ciara. Kemudian ia menoleh ke arah Milo yang sejak tadi menatap heran ke arahnya.


"Dia wanitaku," ucap Abercio lembut. "Kedepannya, kau harus menjaganya saat aku tak ada."


"Nggg..." sahut Milo yang seolah-olah mengerti dengan perkataan Abercio.


"Kalau sampai kamu melukai wanitaku, kamu akan ku kirimkan lagi ke markas," ancam Abercio dengan mata yang melotot.


Milo langsung tertunduk dengan wajah sedih. Matanya berkaca-kaca seolah-olah ia sangat mengerti dengan perkataan Abercio saat itu.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG......


__ADS_2