Kegilaan Hot Daddy

Kegilaan Hot Daddy
Daddy Harus Bahagia


__ADS_3

...“Daddy Cio … Ciara sayang, Daddy. Apapun yang terjadi, Daddy harus bahagia.” – Ciara A. Garnacho...



"Hei ... hei ... tahan dulu!" ucap Abercio sambil meletakkan pistolnya ke lantai. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepalanya.


Begitu juga dengan Benicio dan Bart. Mereka mengikuti Abercio meletakkan senjata api mereka ke atas lantai dan mengangkat kedua tangan mereka ke atas sejajar dengan kepala.


"Kita negosiasi," pinta Abercio memelas memohon dengan penuh kekhawatiran.


"Aku akan mengabulkan apapun yang kamu mau asalkan kamu melepaskan Ciara," imbuhnya.


Markus tertawa terbahak-bahak. Tawaran yang diberikan Abercio cukup menggiurkan. Tapi, dibalik semua tawaran itu, apa nyawanya akan baik-baik saja?


"Cih! Kau pikir aku bodoh?" ucap Markus sembari menekankan pistol ke kepala Ciara.


Sekujur tubuh Ciara mendadak keringat dingin dan ketakutan. Ia yang semula pasrah akan kematian yang sudah di depan mata, kini mendadak takut mati saat melihat Abercio yang sedang berusaha menyelamatkannya.


Ingin rasanya Ciara berlari ke arah Abercio dan memeluk tubuh kekar pria itu dengan erat. Kemudian menghirup aroma maskulin yang menenangkan perasaannya sembari mendengarkan detak jantung pria yang ia cintai itu. Rasanya, ia belum cukup puas menghabiskan waktunya dengan pria itu.


“Katakan, apa maumu? Aku janji akan mengabulkannya,” ucap Abercio dengan lugas, “tapi bebaskan dua orang itu.”


“Sekarang juga, transfer uang sejumlah lima puluh miliar ke rekeningku!” perintah Markus.


Semua yang ada di ruangan tersebut terbelalak. Pasalnya, uang lima puluh miliar bukanlah jumlah yang kecil.


“I-itu terlalu banyak,” ucap Ciara terbata-bata, “bahkan nyawaku nggak sebanding dengan uang sebesar itu.”


“Gimana?” tanya Markus sembari menyeringai dan mulai menggerakkan telunjuknya di pelatuk pistol.


“Baiklah! Aku akan mentransfer uangnya,” ucap Abercio sembari merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel.


Setelah mengeluarkan ponselnya, ia bergegas menghubungi Alfred, sekretarisnya yang baru di kantor. Ia menelefon sekretarisnya sembari mengaktifkan mode pengeras suara di ponsel.


^^^“Selamat—”^^^


“Alfred, cepat pergi ke bagian keuangan!” perintah Abercio memotong pembicaraan Alfred yang belum sempat menyapanya.


^^^“Ada keperluan apa, Pak?”^^^


“CEPAT!!!” bentak Abercio dengan penuh penekanan.


^^^“B-baik, Pak.”^^^


“Jangan matikan panggilannya.”

__ADS_1


Kurang lebih beberapa detik menunggu Alfred berjalan menuju ke bagian keuangan, suara pria itu kembali terdengar di sebrang ponsel.


^^^“Saya su—”^^^


“Suruh mereka transfer uang senilai lima puluh miliar ke rekening yang aku kirimkan barusan!”


^^^“Ini untuk pengeluaran ap—”^^^


“Transfer sekarang juga kalau kalian nggak mau ku pecat!!!”


^^^“B-baik, Pak.”^^^


Tak membutuhkan waktu yang lama, proses transfer uang ke rekening Markus akhirnya berhasil dan sukses dilakukan.


^^^“Dananya sudah di transfer, Pak.”^^^


Mendengarkan ucapan Alfred, Abercio bergegas mematikan ponselnya. Kemudian ia kembali menatap ke arah Markus.


“Ck! Dengan uang lima puluh miliar itu kau bisa mendapatkan banyak wanita yang jauh lebih baik daripada anak haram ini,” celetuk Markus.


Entah kenapa, di mata Markus, Ciara hanyalah butiran debu yang tak berarti apa-apa. Bahkan ia menganggap Ciara anak haram yang membawa kesialan ke dalam hidupnya. Sejak gadis itu hadir ke dalam hidupnya, usahanya gagal dan bangkrut, kehidupan rumahtangganya dengan Lucy semakin berantakan. Bahkan sekarang satu-satunya anak yang ia cintai mendekam di rumah sakit jiwa akibat perbuatan anak haram tersebut.


Abercio menahan emosinya. Ia begitu terluka saat gadis yang ia cintai itu dipanggil dengan sebutan anak haram. Hanya saja ia berusaha untuk menempik emosi sesaatnya itu demi keselamatan Ciara.


Markus menatap ke arah anak buahnya dan menyuruh mereka melepaskan Sabrina.


“S-S-Sab— … rina?” gumam Benicio terbelalak kaget. Pikirnya, wanita itu akan berlari ke arah kakaknya, Abercio. Tapi, wanita itu berlari ke arahnya dan malah memeluknya?!


Benicio bergegas menempik rasa penasarannya. Ia langsung membalas pelukan Sabrina untuk memberikan ketenangan pada wanita tersebut. Sesekali ia mengecup lembut sembari mengelus lembut punggung dan kepala Sabrina menggunakan kedua tangannya.


“Bagaimana dengan Ciara?” tanya Abercio.


“Memangnya, kau bisa menjamin keselamatanku setelah ini?” tukas Markus sembari berjalan perlahan.


“Tapi uang—”


“Hei, anak muda!” Markus memotong ucapan Abercio, “walaupun aku udah bau tanah, aku masih mau hidup!”


“Sekarang, kalian menjauh dari pintu,” perintah Markus.


Abercio, Benicio, Sabrina dan Bart bergegas menjauh dari pintu untuk memberikan jalan kepada Markus dan Ciara.


Markus menyeringai puas. Pasalnya, rencana yang ia buat berjalan sesuai dengan yang ia inginkan. Setelah ia berhasil keluar dari ruangan tersebut dan mendekat ke arah mobil, ia akan menembak Ciara agar semua yang ada di sana terfokus pada Ciara sehingga tak dapat mengejarnya.


“Ck! Kau pikir, ada yang rela mati demi mu?” bisik Markus pelan ke telinga Ciara dengan suara yang begitu menyeramkan. “Sadarlah, kau itu nggak lebih dari pelacur murahan yang nggak berarti apa-apa!”

__ADS_1


Ciara hanya bisa menangis pilu sembari terisak-isak pelan. Pasalnya, ia tak menyangka kalimat pedas itu akan keluar langsung dari mulut pria itu. Tanpa pria itu, mungkin hingga saat ini ia tak akan pernah ada di dunia ini.


“Hei, pelacur. Mau sebesar apapun uang yang diberikan pria yang kau cintai, pada akhirnya aku akan tetap menembakmu dan tak ingin melihat kau hidup!” bisik Markus pelan tanpa bisa didengarkan oleh siapapun selain mereka berdua.


Abercio dan Bart semakin dibuat khawatir saat melihat airmata yang turun tanpa henti di wajah Ciara. Yang membuat mereka khawatir adalah, Ciara menangis tanpa suara. Sebenarnya apa yang sudah dibisikkan oleh Markus tadi?


Tak terasa, cukup lama mereka berjalan mundur menuju pintu utama gudang kumuh tersebut. Saat sudah mendekat ke arah pintu keluar beberapa langkah lagi, Markus melepaskan genggaman eratnya dari tubuh Ciara.


“Nah … sekarang, berlarilah menuju ke arah mereka,” bisik Markus, “kalau nggak mau mati, kamu larinya zig-zag, biar peluru yang ku lepaskan tak menghujam tubuhmu.”


Seketika tangis Ciara semakin membuncah tak tertahankan. Tangis yang begitu pilu dan menyayat hati. Hanya saja ia berusaha menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan isakan yang keras.


“Nah, sekarang cepat kamu lari,” bisik Markus pelan.


Markus mendorong tubuh ringkih Ciara sehingga tubuh gadis itu oleng ke depan sesaat. Namun ia masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya untuk tetap berdiri.


Ciara menatap ke arah depan. Menatap lurus ke arah Abercio yang tersenyum khawatir menatap ke arahnya.


“Daddy Cio … hiks … hiks ….”


Abercio melangkahkan kakinya selangkah maju.


“Jangan maju!” bentak Markus, “atau aku akan melepaskan besi panas ini ke jantung Ciara?”


Abercio terdiam. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan perintah Markus. Abercio berharap cemas. Ia khawatir jika Ciara terluka karena keteledorannya.


“Daddy Cio …,” panggil Ciara pelan sembari mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat, “Ciara sayang, Daddy. Apapun yang terjadi, Daddy harus bahagia.”


Abercio, Benicio, Bart dan Sabrina mengerutkan keningnya saat mendengarkan ucapan Ciara. Apa maksud dari ucapan gadis itu? Bukankah seharusnya dengan ia berlari ke arah Abercio, maka ia akan baik-baik saja? Lalu, kenapa ia malah bertingkah aneh?


“Ada yang nggak beres!” geram Bart pelan. Bart mengepalkan kedua tangannya sembari mendengus sebal. Ia menggertakkan gigi atas bawahnya dengan sangat kuat.


Markus menyeringai dengan penuh arti saat menodongkan pistol ke punggung Ciara. Gadis yang ia suruh lari ternyata tak lari. Malah berjalan dengan pelan menuju ke arah depan.


“Ck! Bukan salahku yang sudah memberikan peringatan padamu,” gumam Markus dengan pelan.


Dorrr!!!


Sebuah besi panas melesat keluar dengan sangat cepat dari senjata api yang dipegang oleh Markus.


Di saat yang sama juga, Lucy berlari ke arah Markus disusuli Axel.


"Mas! Ciara itu anakmu!"


"Anak kandung kamu dengan Julia, Mas!" teriak Lucy dengan isak tangis yang membuncah.

__ADS_1


...❣️❣️❣️...


...BERSAMBUNG…...


__ADS_2