
...“Pengobatan dan biaya hidup keluargamu akan ku tanggung seumur hidup. Bahkan cucu cicitmu juga akan menjadi tanggung jawabku.” – Abercio Sanchez...
"Ada seorang wanita yang akan menggantikanmu," ucap Abercio tenang.
Lucy terdiam. Ucapan Abercio tersebut cukup membuatnya terkejut. Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang menjalani pengobatan yang belum sepenuhnya selesai. Lalu, bagaimana dengan nasib anaknya? Apakah mereka akan kembali hidup susah?
"P-Pak ... Bapak seperti ini karna saya ingin pulang ke Indonesia, ya?" tanya Lucy terbata-bata. Ia duduk dengan tegap menghadap Abercio. “Maaf. Tapi saya—”
“Tidak,” potong Abercio datar. Ia menatap ponselnya dengan tatapan yang penuh dengan cinta. Terpampang foto Ciara yang saat itu sedang tersenyum.
"Bukan. Ini karna seseorang yang ku cintai," lirih Abercio pelan.
“Kamu nggak perlu bersusah payah bersandiwara. Karena gadis itu akan menggantikanmu.”
Lucy menatap bingung ke arah Abercio. Apa maksud pria yang di depannya saat ini? Tak usah bersusah payah bersandiwara? Memangnya, pria itu sudah menemukan seseorang untuk melakukan tugas yang belum sempat ia lakukan itu?
Lucy meremas kedua tangannya dengan perasaan tak tenang. Pasalnya, ucapan Abercio belum sepenuhnya selesai. Dengan perasaan gundah dan gelisah, ia berusaha tetap sabar menunggu perkataan selanjutnya dari Abercio.
“Pengobatan dan biaya hidup keluargamu akan ku tanggung seumur hidup. Bahkan cucu cicitmu juga akan menjadi tanggung jawabku,” tutur Abercio. Ia menatap lurus ke arah Lucy yang saat ini duduk berseberangan dengannya.
Abercio benar. Apa yang ia katakan tadi tulus dari hati. Karena, ia benar-benar ingin menghabiskan sisa usianya dengan Ciara serta anak dari rahim gadis itu. Meskipun hatinya masih sepenuhnya bimbang apakah ia tetap harus melakukan pernikahan yang sakral tapi tak ada arti di matanya itu?
__ADS_1
“A-apa maksud Bapak?” tanya Lucy semakin kebingungan. Pasalnya, tak mungkin ia menerima bantuan pria itu secara cuma-cuma sedangkan ia tak memberikan sedikitpun keuntungan.
“Bukankah aneh jika saya menerima kebaikan Bapak dengan gratis?”
Abercio terkekeh pelan sambil menatap Lucy yang wajah pucatnya menjadi semakin pasi. Ia menangkap kekhawatiran wanita yang duduk dengan tegap di depannya saat ini.
Yah … tak ada salahnya ‘kan jika sekarang ia katakan saja bahwa ia mencintai Ciara? Lagi pula, mau disembunyikan bagaimanapun, lambat laun Lucy pasti akan tau bahwa kelak ia akan memiliki menantu yang sebelumnya merupakan suaminya. Memang terlihat gila, tapi itulah yang terjadi. Pikir Abercio saat itu.
"Aku mencintai a—"
"Mommy?" tiba-tiba Ciara masuk ke dalam ruang kerja Abercio. Wajahnya mendadak pucat pasi dengan keringat dingin yang terlihat membasahi keningnya.
“Jangan sekarang Daddy. Please. Aku takut Mommy kaget. Mana Mommy belum tau kondisi Kak Darren,” batin Ciara sambil menatap ke arah Abercio. Seolah-olah ia sedang melarang Abercio mengatakan tentang hubungan mereka melalui kontak mata.
Wajah Lucy yang semula pucat pasi, kini benar-benar amat sangat pucat karena ulah anak perempuannya itu. Ia semakin merasa bersalah dan rasanya tak tahu harus minta maaf dengan cara apalagi pada Abercio, pria penyelamat hidupnya.
"Ciara?! Nggak sopan, Sayang!" sergah Lucy yang melihat Ciara tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"C-Ciara ... C-Ciara laper, Mommy," dalih Ciara berbohong.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah sofa di mana Abercio dan Lucy sedang duduk. Abercio menatap tingkah Ciara yang menggemaskan itu sambil tertawa pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Daddy … Ciara laper. Ciara mau makan pizza,” pinta Ciara saat berdiri di samping Abercio sambil memegang lengan pria itu seperti anak kecil.
__ADS_1
Melihat Ciara yang begitu seenaknya dan manja pada Abercio, Lucy bergegas berdiri dan langsung menarik anaknya itu. Ia membungkukkan tubuhnya menghadap Abercio. "Maaf, Pak. M-maksud saya, maaf Abercio. A-aku akan menasehati Ciara."
Abercio hanya tertawa kecil melihat tingkah Ciara. Ia mengerti dengan kelakuan Rubah Kecil-nya itu. Pasti gadis itu diam-diam mendengarkan pembicaraannya dan tak ingin hubungan mereka diketahui saat itu juga.
“Nggak apa-apa. Dia memang begitu selama kamu di US. Aku tak akan mempermasalahkan hal seperti itu.” Abercio berdiri dari duduknya dan membetulkan jasnya.
“Sesuai permintaan anakku ini, ayo kita makan pizza,” goda Abercio sambil menatap Ciara.
...❣️❣️❣️...
Hari kedua Lucy berada di rumah Abercio. Ia dibuat gelisah karena sama sekali tak dapat menghubungi Darren.
Pagi itu, Lucy bangun dari tidurnya dan membetulkan selimut hangat menutupi tubuh Ciara yang masih nyenyak dibuai mimpi. Ia keluar kamar berniat ingin membuat sarapan serta bersih-bersih rumah.
“Loh.” Lucy menatap heran ke arah dapur di mana ada seorang wanita tua bertubuh sedikit gendut sedang masak. Bahkan masakan tersebut hampir selesai.
“P-Permisi,” ucap Lucy berhati-hati. Ia berjalan mendekat ke arah wanita yang saat itu sedang menyendokkan lauk pauk ke dalam piring.
Saat itu Bibi Ajeng menoleh ke belakang ke arah suara yang memanggilnya. Ia bergegas meletakkan piring yang berisi lauk tadi ke atas meja. Kemudian ia menyeka tangannya ke celemek yang ia pakai.
“Ibu mertuanya Pak Abercio ya?” ucap Bibi Ajeng sambil menyalami tangan Lucy. “Saya Bibi Ajeng, yang biasanya bersih-bersih dan masak.”
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG…...