
...“Kalau memang semua itu bentuk cinta dan kasih sayang dari seorang ayah, kenapa … kenapa Daddy melakukan semua itu dengan wanita lain? Memangnya … wanita lain itu juga anak Daddy? Ciara nggak sebodoh itu, Daddy!” – Ciara A. Garnacho...
Ciara terdiam mendengarkan ucapan Abercio. Apa yang pria itu ucapkan, sama dengan apa yang ia rasakan. Selama seminggu ia melakukan pemberontakan dan menghindari pria itu, selama seminggu juga lah ia merasakan hampa dan rindu.
“Look at me, Baby,” lirih Abercio pelan. Bahunya sedikit mundur ke belakang untuk melihat wajah Ciara yang berada di dadanya. Ia memegang kedua pipi Ciara sembari menghapus airmata gadis itu menggunakan kedua ibu jarinya.
“Wanita yang memelukku saat itu bukan siapa-siapa. Lalu, anak yang di rahim Megan itu bukan milikku. Bahkan dia saja nggak tau itu anak siapa,” sambung Abercio menjelaskan.
Mendengarkan penjelasan Abercio, hati Ciara semakin sakit. Pasalnya, apa yang baru saja Abercio jelaskan benar-benar membuktikan bahwa ia sedikitpun tak memenangkan hati pria itu. Jadi … untuk apa ia berlarut-larut dalam kegilaan ayah sambungnya itu?
“Iya, Daddy. Ciara udah ngelupain semua itu,” ucap Ciara dengan suara yang serak. "Daddy nggak usah khawatir dan nggak usah memikirkan hal itu."
Abercio menghela nafas lega. Ia berdiri tegak untuk kembali memeluk tubuh Ciara. Namun Ciara melangkah mundur selangkah. Sorot mata Ciara begitu tajam menatap Abercio.
“Ciara udah ngelupain semuanya, termasuk hal yang kita lakuin waktu itu di ruang kerja Daddy Cio,” ucap Ciara dingin. "Ciara nggak bakalan bilang tentang itu ke Mommy."
"Jadi ... Daddy nggak usah takut."
Selama beberapa hari Ciara menjauhi Abercio, ia telah berfikir dengan sangat matang untuk mengakhiri perasaan terlarangnya. Mencintai suami ibu kandungnya sendiri. Terlebih lagi, pria yang ia cintai itu benar-benar pria yang tak dapat dipercaya untuk urusan hati.
__ADS_1
Abercio terhenyak. Sesaat dadanya terasa penuh dan sesak. Rahangnya mengeras saat mendengarkan ucapan Ciara yang mengatakan bahwa gadis itu telah melupakan peristiwa panas yang sempat mereka lalui saat di kantornya saat itu.
“Ciara ... kamu mau melupakan itu?” tanya Abercio dengan suara yang dingin dan pelan. Namun nada bicaranya begitu penuh penekanan.
Ciara mengangguk pelan dengan penuh keyakinan.
“Sayangnya … Ciara nggak akan bisa melupakan itu.” Abercio bertolak pinggang sambil membuang pandangannya ke kiri.
"Karena Daddy ... akan terus melakukannya padamu dan denganmu."
Abercio kembali meluruskan pandangannya ke arah Ciara dan berkata dengan suara yang mengerikan sembari menyeringai. “Se-ti-ap ha-ri.”
“D-Daddy … m-mau … me-melakukan a-apa?” tanya Ciara dengan sorot mata yang ketakutkan. Ia melangkah mundur selangkah demi selangkah agar bisa menjauh dari pria itu.
“Kissing,” ucap Abercio pelan sambil maju selangkah.
“Make a kiss mark,” ucap Abercio lagi sambil maju selangkah.
Langkah Ciara terhenti. Ia tak lagi mampu melangkah mundur. Pasalnya tubuhnya sekarang mentok ke dinding. Sedangkan Abercio tetap melangkah maju dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ciara sampai-sampai Ciara terjepit di antara dinding dan tubuh Abercio.
Abercio menekan dinding menggunakan tangan kirinya. Kemudian tangan kanannya secara perlahan menyentuh lembut pipi Ciara. Lalu tangan kanan itu menuruni leher jenjang Ciara dan perlahan menuruni dada. Abercio mendekatkan bibirnya ke telinga Ciara.
__ADS_1
“And then … I wanna touch it like this,” bisik Abercio pelan sembari tangan kanannya mere.mas lembut dada Ciara.
Ciara menempik tangan kanan Abercio. Lalu ia mengangkat wajahnya untuk menatap dan menantang mata elang pria itu.
“Daddy—”
“Ssstt…” potong Abercio sembari menempatkan telunjuknya ke bibir Ciara dan kembali berbisik. “Ini bentuk cinta dan kasih sayang Daddy Cio untuk Ciara.”
Ciara merasa sangat kesal dengan ucapan yang penuh dusta dari Abercio tersebut. Hatinya benar-benar terasa sesak seketika. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya menatap mata hazel pria itu tanpa rasa takut dan ingin meluapkan semua yang ada di pikirannya saat ini.
“Cinta dan kasih sayang dari seorang ayah? No, Daddy. Semua ini nggak benar,” ucap Ciara. “Dan lagi—”
“Di mana letak nggak benarnya?” potong Abercio tak sabar. Ia menempelkan dahinya ke dahi Ciara sehingga kini mereka saling bertatapan.
Tindakan Abercio tersebut benar-benar membuat Ciara terbelalak. Tapi ia tak boleh kalah dan tak boleh terhipnotis oleh mata elang milik pria itu. Ia harus berani melawan!
“Kalau memang semua itu bentuk cinta dan kasih sayang dari seorang ayah, kenapa … kenapa Daddy melakukan semua itu dengan wanita lain? Memangnya … wanita lain itu juga anak Daddy? Ciara nggak sebodoh itu, Daddy!” sembur Ciara tak tahan.
...❣️❣️❣️...
...BERSAMBUNG…...
__ADS_1