
..."Wajar jika wanitaku ini menggoda. Tapi sayangnya aku tak rela berbagi dengan pria lain." – Abercio Sanchez...
...❣️...
...“Kenapa harus sesakit ini? Padahal aku belum memulai apa-apa." – Bart Lincoln Fernandez...
Peringatan! Bab ini berbahaya buat di bawah umur ya!!! 🫣
...❣️❣️❣️...
"Tapi ini nggak benar, Pak." Bart berusaha menyadarkan Abercio bahwa apa yang pria itu lakukan tak benar dan salah.
"Bagaimana jika nanti dia tau ka—"
"Bart ..." potong Abercio sembari menyebut nama anak buahnya itu dengan suara yang begitu dingin. Aura yang keluar dari tubuh Abercio begitu mematikan dan cukup membuat siapapun yang melihat bergidik dan merinding.
Abercio menatap tajam ke arah Bart. Sorot mata tersebut mengatakan bahwa jangan ikut campur dengan apapun yang ia lakukan! Kau akan mati jika melewati batasmu!
Bart tersadar dari tindakan spontannya. Ia tertunduk sembari mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat menahan kesal dan amarah.
"Maafkan saya, Pak. Saya bersedia menerima hukuman dari, Bapak." Bart benar-benar tertangkap basah dan tak lagi bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menuruti kemauan majikannya itu.
"Tapi sebelum itu, tolong bantu Ciara agar terlepas dari pengaruh obat perangsang tersebut," sambung Bart sambil membungkuk sesaat, kemudian ia menutup pintu hotel tersebut dan membiarkan dua orang itu di dalam sana.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu tertutup. Kini hanya Abercio dan Ciara yang ada di dalam.
Ciara yang semula berada dalam pelukan Abercio, kini tubuhnya direbahkan ke atas ranjang.
"Wajar jika wanitaku ini menggoda," gumam Abercio sembari menyeringai tipis. "Tapi sayangnya aku tak rela berbagi dengan pria lain."
Pria itu melepaskan jasnya dan melemparnya ke atas lantai. Ia melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Lalu ia membuka kemeja tersebut dan membuangnya ke sembarangan arah.
"Daddy. Panas ..." rengek Ciara dengan tubuh yang ia goyangkan menggeliat ke kiri dan ke kanan.
Abercio menyeringai menatapi tubuh gadis itu yang begitu menggodanya. Tubuh yang begitu indah karena mengenakan dress yang membentuk badan. Apalagi warnanya dark maroon. Warna yang begitu sepadan dengan kulit Ciara yang putih itu. Ah! Gadis itu sangat indah dengan balutan gaun malam ini, pikir Abercio.
Tanpa berlama-lama, Abercio bergegas memanjati ranjang dan merangkak ke atas tubuh Ciara.
"Maaf, Sayang. Aku melakukan ini untuk membantumu terlepas dari pengaruh obat perangsang itu," bisik Abercio lirih ke telinga Ciara sembari menyeringai dengan sangat mengerikan.
"Hah!" Abercio menghela nafasnya dengan sangat kasar. Rasanya ingin sekali ia memasukkan rudalnya menerobos langsung liang indah nan sempit di balik panty hitam itu.
"Aku akan berusaha agar pergumulan ini tak menyakitimu. Meskipun awalnya akan tetap sakit," lirih Abercio pelan.
Tanpa berlama-lama, Abercio bergegas membuka panty tersebut dan membuangnya ke lantai. Kemudian ia langsung membenamkan wajahnya di antara kedua paha Ciara dan melahap rakus mahkota terlarang gadis itu.
“Hnghh!” Ciara yang semula tak berdaya akibat reaksi dari obat perangsang yang ia tenggak dari minuman yang disuguhkan oleh Markus tadi, seketika tubuhnya tersentak dengan hebat saat mahkota yang ia jaga dilahap dengan rakus oleh Abercio.
Kedua tangan gadis itu tak tahan untuk tak menjambak rambut Abercio. Sembari bibirnya menceracau dan terus terisak-isak karena kenikmatan, tubuhnya ikut jujur dalam memberikan respon terhadap kenakalan Abercio di area terlarangnya.
Abercio tak tahan hanya bermain di area mahkota terlarang Ciara. Kedua tangan kekarnya mulai menjalar masuk ke dalam dress dan meraba dua benda kenyal yang begitu padat. Tak seperti benda kenyal pada tubuh pelacur yang biasa ia bayar. Gadis ini berbeda! Itulah kenapa dia tergila-gila untuk memakan gadis itu segera!
__ADS_1
“D-Daddy … ah … nghh … Ci-Ciara, hmph … mau ….”
Abercio semakin memanas. Keinginannya untuk melahap Ciara semakin menggebu-gebu. Ia ingin segera menyelesaikan pemanasan saat ini agar gadis itu segera tiba di pelepasannya!
“Come, Baby. Come!” pekik Abercio dalam hati dengan penuh semangat. Bibirnya tak henti-hentinya bergerilya dengan nakal di bawah sana. Begitu juga kedua tangan kekarnya. Dengan pijatan yang begitu kasar, ia terus memacu sesuatu yang sedang bergejolak di dalam diri Ciara.
“NGHHHH!!!” Ciara berteriak dengan sangat hebat saat ia akhirnya merasakan ada sesuatu yang terdorong keluar di bawah sana. Rasanya aneh, tapi entah kenapa anehnya itu terasa nikmat.
“Daddy … udah selesai? Ciara capek,” lirih Ciara pelan dengan nafas yang terengah-engah namun tatapan yang sendu. "Tapi badan Ciara masih nggak nyaman."
Abercio mengangkat wajahnya. Ia membangkitkan tubuhnya yang semula condong ke arah tubuh bagian bawah gadis itu. Kini ia menatap Ciara dengan sorot mata yang begitu liar dan lapar. Ia menyeringai sembari ibu jarinya mengusap kasar bibirnya yang basah. Sedangkan tangan satunya lagi menjalar ke paha gadis itu dan membelai lembut paha mulus yang begitu menggoda itu.
“No, Baby. Bagaimana bisa selesai saat pergumulannya belum kita mulai?” gumam Abercio dengan sangat nakal.
Di saat yang sama, saat di mana Ciara berteriak dengan begitu lantang, saat itu Bart masih berada tepat di depan pintu kamar 2056. Teriakan nikmat gadis itu terdengar samar-samar di luar kamar karena Bart menajamkan pendengarannya.
Bart yang saat itu sedang tersandar di dinding samping pintu kamar 2056, ia tertunduk lemas. Semangatnya seolah-olah hilang dan tak bersisa. Hatinya begitu hancur berkeping-keping.
“Kenapa harus sesakit ini? Padahal aku belum memulai apa-apa,” gumam Bart pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Tanpa terasa, airmata perlahan membasahi pipi Bart, si pria dingin yang tak pernah mengekspresikan emosinya kepada siapapun. Pria yang terkenal kuat dan perisai bagi Abercio itu, entah kenapa sekarang tiba-tiba begitu lemah hanya pada seorang gadis yang baru ia kenal.
“Bart!” Axel tiba-tiba ada di depan pintu kamar 2056. Ia menepuk pundak sahabatnya dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Entah kenapa, meskipun ia tak dapat mengerti apa yang sedang terjadi, ia bisa merasakan rasa sakit dan pilu yang Bart rasakan saat itu.
Bart tak mampu membendung tangisnya. Ia merasa sangat malu karena ekspresi itu diketahui oleh Axel. Namun rasa malu yang kini ia rasakan kalah dengan rasa sakit yang begitu besar menghujam dadanya. Bart tak menggubris Axel. Ia bergegas pergi meninggalkan Axel yang masih mematung di depan pintu kamar 2056.
...❣️❣️❣️...
__ADS_1
...BERSAMBUNG…...